Posts

Suti

Image
 “Aku akan menun tut balas… Setelah aku tiada... aku pastikan, semua yang memfit nahku akan mende rita.” ⭐ 1 - Fit nah yang Mengundang Pe taka ⭐ “SUTI! KELUAR SEKARANG!” “SUTI!" "KELUAR KAMU!” Suara teriakan itu menggema dari depan rumah. Keras. Ka sar. Dipenuhi ama rah. “KELUAR KAMU, SUTI!” Gedo ran pintu menyusul. Ke ras. Bertubi-tubi. Seolah ingin mero bohkan bangunan itu. “JANGAN SEMBUNYI!” “PEREMPUAN NGGAK BENER!” “PELA CUR BERKEDOK PENGUSAHA!” Di dalam, Sutiyah yang sedang duduk di kursi langsung tersentak. Tangannya ge metar, masih memegang buku catatan keu angan. “Bi…” suaranya pelan. “Ada apa di luar?” Bi Darsih, yang sedang melipat pakaian, ikut terkejut. “Nggak tau, Neng. Ko rame banget ya?” gumamnya. Gedo ran kembali terdengar. “SUTI! JANGAN SEMBUNYI!” “KELUAR SEKARANG!” Jantung Suti berdetak makin cepat. Ia berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela. Begitu tirai disingkap sedikit, napasnya langsung tercekat. Puluhan orang berdiri di depan rumah. Wajah mereka t...

Kejadian tragis

Image
 Seorang Anak Menangis Lihat Tubuh Ayahnya Tewas Usai Digebukin Warga Kalau kalian nonton videonya, sungguh menyayat hati. Seorang anak menangis meraung lihat jasad ayahnya tewas usai digebukin warga. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Sebelum matahari sempat menyapa Bali pada Jumat, 24 Juli 2026, sekitar pukul 01.30 WITA, sebuah tragedi telah lebih dulu menorehkan luka mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh. Di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, seekor ayam menjadi awal dari kisah yang berakhir dengan hilangnya nyawa seorang ayah dan hancurnya masa depan sebuah keluarga. Korban berinisial KD, warga Desa Sidetapa, Buleleng, datang ke Tabanan menggunakan sepeda motor. Ia diduga kedapatan mencuri seekor ayam aduan milik I Wayan Adi Suteja (31). Dugaan itu kemudian berubah menjadi hukuman jalanan. Massa mengeroyoknya hingga tewas. Polisi mengamankan ayam tersebut, sebilah golok, sebuah tas berisi tang, ketapel, batu, serta uang...

Dihina

Image
 "Keluar dari rumahku! Lelaki m1skin sepertimu tidak pantas mencintai anakku!" T4mparan itu tak hanya mendarat di pipiku, tapi juga menghancvrkan harga diriku.  Aku pergi dengan satu janji... aku akan kembali saat mereka menyesal pernah menghinaku. Tapi ketika semuanya sudah kumiliki, perempuan yang kucintai justru... Part 2 "Siapa yang membuat pipimu seperti itu, Zul?" Langkahku terhenti di ambang pintu. Ibu Nuraini baru saja mengangkat ember cucian dari sumur. Air menetes dari ujung kerudungnya. Kedua tangannya memerah karena terlalu lama merendam pakaian. Beliau menatap pipiku cukup lama. Aku buru-buru memalingkan wajah. "Terbentur kayu di sekolah, Bu." Ibu meletakkan ember itu perlahan. "Kalau bohong, jangan sambil menghindari mata Ibu." Dadaku terasa sesak. Beliau mendekat, lalu menyentuh pipiku dengan ujung jari. Aku meringis pelan. Sentuhan itu jauh lebih lembut daripada tamparan Pak Hasyim, tetapi justru membuat dadaku semakin nyeri. ...

Tak ku sangka

Image
  Milyaran uang kudapatkan, sudah waktunya aku pulang ke rumah ibu tercinta. Tapi di sana aku  direndahkan oleh ibu dan saudara tiriku. Bahkan disebut gembel kesasar di depan banyak orang. Ternyata aku sudah tidak dianggap sebagai anak ibu lagi.  Setelah malam yang penuh penghinaan itu, aku memutuskan untuk tidak langsung mengeksekusi rencanaku terhadap pak Anwar. Ada hal yang jauh lebih penting: mencari keberadaan Reza. Aku tidak sudi menemui Bapak. Mengingat wajah lelaki yang selalu digambarkan Ibu sebagai sosok yang jahat, kejam, dan pelit itu membuat lambungku mual. Sejak kecil aku tidak pernah dekat dengan bapak. Tapi demi adikku Reza, aku akan menepis ego itu. Aku mendatangi alamat rumah lama kami yang dulu ditinggali Bapak setelah Ibu pergi. Begitu sampai di depan pagar, dahiku berkerut. Rumah itu kini tampak jauh lebih bagus, dicat rapi, dengan halaman yang tertata. Aku melangkah maju dan mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu. Tok! Tok! Tok! Tak berselang lama, ...

Cinta tanpa suara

Image
 Part Kiara dan Raka "Jangan bergerak terlalu banyak, Manis. Nikmati saja," bisik pria kekar itu dengan tawa rendah yang menjijikkan. Ia langsung menyentak kasar pergelangan tangan Kiara, menariknya ke tengah ranjang king size. Bau a l k o h o l dan parfum murahan dari tubuh pria itu menyeruak, membuat perut Kiara mual. Pria itu mulai membuka p a k s a dua kancing kemejanya atasnya, menatap l a p a r gaun sutra putih gading yang melekat di tubuh k o r b a n nya. "Nona Siska benar-benar tahu cara bersenang-senang," gumamnya, mulai merangkak naik ke atas tubuh Kiara. --- Kiara menjerit dalam hati. Di bawah kendali o b a t  p e r a n g s a n g yang membakar darahnya, ia mencoba mengumpulkan sisa kekuatan. Tangan kanannya yang terbalut perban tipis bergerak m e m u k u l dada pria itu. Bugh! Bugh! Namun, p u k u l a n nya terlalu lemah, hanya terasa seperti tepukan pelan. Pandangan Kiara makin berbayang keemasan, kabur oleh air mata frustrasi. "Lepas..." desis...

Berlian yg kamu abaikan

Image
 "Jangan sen tuh, Bunda! Aku tidak suka kalau Bunda tidak izin!" Teriakan Alina menggelegar di dalam ka mar mungilnya, menghentikan ta nganku yang baru saja hendak menye ntuh sekumpulan bunga origami di atas meja belajar. Aku terhenyak. Da daku seperti baru saja dihan tam benda tumpul yang tidak terlihat. Aku menatap putri kecilku yang kini berdiri dengan napas memburu, kedua ma tanya menatapku ta jam seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja masuk tanpa permisi. "Bunda cuma mau lihat, Sa yang. Bagus sekali bunganya. Alina bikin sendiri?" tanyaku, mencoba melembutkan suara, meskipun ada getar yang sulit kusembunyikan. Alina tidak menjawab. Dia segera menghampiri meja, lalu mende kap tumpukan kertas warna-warni itu dengan kedua le ngannya seperti sedang melindungi har ta karun paling berhar ga dari incaran pencu ri. "Bunda keluar saja," uusirnya tanpa menatap ma taku. Aku menelan lu dah, berusaha mengabaikan perih yang menjalar di ulu ha ti. "A...

Warisan

Image
 "Tidak apa-apa. Acara pengajian memang sangat penting. Aku bisa paham kok. Jauh lebih penting daripada cucu sendiri yang sedang bertaruh nyawa di dalam ruang operasi," ucapku datar seraya menyodorkan cangkir teh ke hadapan mereka. "Diminum,  Bu,  Pak." ​Mendengar ucapanku, gestur Bapak berubah canggung. Beliau terbatuk beberapa kali, lalu mengalihkan pandangan ke arah dinding.  Sementara Ibu yang menerima cangkir teh dariku mulai tampak gelisah. Senyum palsu di wajah keriputnya perlahan memudar, dia menyesap teh berulang-ulang agar gugupnya hilang.  ​Semakin lama pembicaraan mereka mulai melenceng jauh dari kondisi kesehatan Misya. Mereka tidak lagi bertanya tentang perkembangan medis atau obat-obatan yang harus ditebus oleh cucunya, melainkan mulai menggiring topik ke arah finansial.  ​Ibu meletakkan kembali cangkir teh yang baru diminum ke atas meja. Wanita tua itu memajukan tubuhnya, menatapku dengan sepasang mata berbinar. ​"Begini, Nel... Ibu lihat di...