Cinta tanpa suara

 Part Kiara dan Raka



"Jangan bergerak terlalu banyak, Manis. Nikmati saja," bisik pria kekar itu dengan tawa rendah yang menjijikkan.


Ia langsung menyentak kasar pergelangan tangan Kiara, menariknya ke tengah ranjang king size. Bau a l k o h o l dan parfum murahan dari tubuh pria itu menyeruak, membuat perut Kiara mual. Pria itu mulai membuka p a k s a dua kancing kemejanya atasnya, menatap l a p a r gaun sutra putih gading yang melekat di tubuh k o r b a n nya.


"Nona Siska benar-benar tahu cara bersenang-senang," gumamnya, mulai merangkak naik ke atas tubuh Kiara.


---


Kiara menjerit dalam hati. Di bawah kendali o b a t  p e r a n g s a n g yang membakar darahnya, ia mencoba mengumpulkan sisa kekuatan. Tangan kanannya yang terbalut perban tipis bergerak m e m u k u l dada pria itu.


Bugh! Bugh!


Namun, p u k u l a n nya terlalu lemah, hanya terasa seperti tepukan pelan. Pandangan Kiara makin berbayang keemasan, kabur oleh air mata frustrasi.


"Lepas..." desis Kiara dari sela bibirnya. Suaranya tidak keluar, hanya berupa embusan napas yang tersengal-sengal di tenggorokan.


Pria itu tertawa terbahak-bahak. "Kamu mau bicara? Oh, kudengar kamu bisu. Baguslah, tidak akan ada suara teriakan yang mengganggu malam kita."


Kiara menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia menggunakan kaki kirinya untuk m e n e n d a n g, tetapi pria itu dengan mudah mengunci kedua kaki Kiara dengan berat tubuhnya. C e n g k e r a m a n kasar di pergelangan tangan Kiara membuat gadis itu meringis kesakitan. Air mata Kiara menetes deras, membasahi bantal hotel. Naluri bertahannya terus menjerit, namun tubuhnya mengkhianatinya; rasa panas yang menjalar di perutnya membuat seluruh persendiannya l u m p u h total.


---


Sementara itu, di aula utama ballroom yang bising, Siska setengah berlari menghampiri sudut dekat pintu keluar. Di sana, lima orang wartawan kamera dari media gosip terbesar sedang berkumpul.


"Kalian mau berita besar malam ini?" bisik Siska setengah mendesak, matanya berkilat penuh d e n d a me.


"Berita apa, Nona?" tanya salah satu wartawan berkacamata, langsung menghidupkan perekam suaranya.


"Istri sah Raka Broto. Wanita bisu yang sok suci itu, sekarang sedang bermain gila dengan seorang pria di lantai atas," ujar Siska, tersenyum sinis. "Kamar 404. Naik sekarang sebelum mereka selesai. Jangan lewatkan satu foto pun!"


"Anda serius, Nona Siska? Ini bisa jadi s k a n d a l terbesar tahun ini!" seru wartawan lain, matanya berbinar l a p a r akan berita.


"Untuk apa aku bohong? Cepat naik lewat lift barang di sebelah barat supaya tidak memancing kecurigaan keamanan!" perintah Siska sembari menunjuk arah koridor. Para wartawan itu langsung mengangguk cepat, menyandang tas kamera mereka, dan bergegas pergi.


---


Di ruang privat lantai dua, pintu kayu mahoni akhirnya terbuka. Kakek Broto melangkah keluar terlebih dahulu dengan senyum lebar, diikuti Raka dan Devan di belakangnya.


"Pertemuan yang sangat menguntungkan. Investor Jepang itu sangat terkesan dengan presentasimu, Raka," ucap Kakek Broto, menepuk bahu cucunya.


"Ini baru awal, Kakek," jawab Raka datar, walau matanya langsung menyapu ke arah bawah ballroom, mencari pilar tempat ia meninggalkan Kiara.


Langkah mereka terhenti di puncak tangga ketika Pak Dharma, tangan kanan Kakek Broto, berlari kecil dengan wajah pucat pasi. Napasnya memburu.


"Ada apa, Dharma? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Kakek Broto, alisnya bertaut.


Pak Dharma melirik Raka dengan ragu, lalu berbisik namun cukup keras untuk didengar ketiganya. "Tuan Besar... Tuan Muda Raka... saya baru saja mendapat laporan dari tim keamanan. Nyonya Muda Kiara saat ini berada di dalam Kamar 404... bersama seorang pria asing."


"Apa?!" Devan tersentak, melangkah maju. "Jangan sembarangan bicara, Pak Dharma! Kiara tidak mungkin melakukan itu!"


Raka tidak bersuara. Namun, rahangnya seketika mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Matanya menggelap, memancarkan aura m e m b u n u h yang sangat pekat.


"Kamar 404?" tanya Raka. Suaranya luar biasa rendah, dingin, dan bergetar menahan a m a r a h yang meledak di dadanya.


"Benar, Tuan Muda. Dan... beberapa wartawan baru saja terlihat naik ke lantai atas," tambah Pak Dharma dengan kepala menunduk takut.


"S i a l a n!" umpat Raka.


Tanpa menunggu Kakek Broto atau Devan, Raka berbalik dan berlari menerobos lift VIP. Ego dan harga dirinya sebagai seorang CEO berantakan. Rasa terhina dan a m a r a h m e m b u t a k a n akal sehatnya.


"Raka, tunggu! Kita harus periksa dulu, ini pasti jebakan!" teriak Devan yang ikut berlari mengejar Raka ke dalam lift, disusul Pak Dharma.


---


BRAKKK!


Pintu Kamar 404 jebol setelah hantaman t e n d a n g a n b r u t a l dari kaki Raka. Engselnya patah, menyisakan suara dentuman keras yang menggema di koridor. Di belakang Raka, jepretan lampu kilat dari kamera wartawan langsung menyambar bertubi-tubi, menerangi kamar yang remang-remang itu.


Di atas ranjang, pria sewaan Siska langsung melompat turun dengan wajah yang berpura-pura panik. Pakaiannya sudah acak-acakan. Di atas kasur, Kiara menangis histeris dengan gaun yang kusut, wajahnya merah padam karena pengaruh o b a t.


"T-Tuan Muda Raka! Tolong jangan b u n u h saya!" teriak pria itu, langsung berlutut di lantai dengan suara gemetar yang sengaja dikeras-keraskan agar terdengar sampai ke koridor luar. "Bukan saya yang salah! Wanita ini... istri Anda yang m e n g g o d a saya terlebih dahulu di aula!"


"B a j i n g a n!" bentak Devan, hendak merangsek maju, namun pundaknya ditahan oleh Pak Dharma.


"Dia yang menarik saya ke kamar ini, Tuan!" lanjut pria itu, menunjuk Kiara yang masih lemas di atas kasur. "Dia bilang Anda dingin dan tidak pernah m e n y e m p u r n a k a n / m e n y e n t u h nya! Dia yang meminta saya melayaninya malam ini! Saya bersumpah!"


Mendengar f i t n a h keji itu, Kiara menggelengkan kepalanya dengan histeris. Air matanya mengalir deras membasahi pipi. Dengan sisa kesadarannya yang hampir habis, ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar, mencoba menggerakkan jemarinya forming bahasa isyarat ke arah Raka. "Tidak... bukan begitu... aku dijebak... Tolong aku, Raka..."


Namun, Raka sama sekali tidak melihat ke arah tangan Kiara. Pandangan matanya lurus menatap tubuh istrinya yang berantakan di atas ranjang pria lain. Di telinganya, suara jepretan kamera wartawan terdengar seperti ejekan yang meruntuhkan seluruh harga dirinya di depan publik. E m o s i dan rasa terhina m e n g u b u r seluruh logika yang tersisa di kepalanya.


"Hentikan gerakan tangan s i a l a n mu itu, Kiara!" bentak Raka, suaranya menggelegar k e j a m, memotong gerakan jemari Kiara dengan kasar.


Kiara tersentak. Tangannya jatuh terkulai di atas kasur. Tatapan mata Raka yang dingin dan penuh k e b e n c i a n m e n u s u k jantungnya lebih dalam daripada r a c u n apa pun.


"Raka, lihat kondisi Kiara! Dia sedang tidak sadar, dia diberi o b a t!" Devan mencoba berteriak, melangkah mendekati ranjang untuk melindungi Kiara dari sorotan kamera.


"Diam, Devan!" potong Raka dingin tanpa menoleh. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu membuang muka ke arah dinding. "Urus wanita ini dan b a j i n g a n itu. Aku tidak sudi melihatnya lagi."


Tanpa memedulikan tangisan bisu Kiara yang terguncang hebat, Raka membalikkan badannya dengan kasar. Ia menerobos kerumunan wartawan yang terus mengambil gambar, melangkah lebar meninggalkan area hotel dengan dada yang sesak oleh rasa b e n c i dan d i k h i a n a t i. Targetnya hanya satu, pulang ke rumah pribadinya dan menjauh dari k e m u n a f i k a n ini.


---


Di sudut koridor lantai empat yang agak gelap, Siska berdiri di balik pilar sambil menyilangkan dada. Ia menyaksikan seluruh adegan kepergian Raka dengan senyum kepuasan yang luar biasa.


"Sempurna. Habis sudah riwayatmu, Kiara," bisik Siska pelan, menatap wartawan yang masih sibuk mengambil foto di dalam kamar.


Siska tahu, setelah ini Raka akan berada dalam kondisi paling h a n c u r dan r a p u h. Dan itu adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu.


"Aku harus bergerak cepat," gumam Siska, buru-buru membalikkan badan menuju tangga darurat.


Ia tidak boleh membiarkan Devan atau Kakek Broto menenangkan Raka terlebih dahulu. Siska harus memastikan bahwa dialah orang pertama yang menyambut Raka di rumah pribadinya, berpura-pura menjadi malaikat pelipur lara, sekaligus menyembunyikan fakta bahwa dialah d a l a n g di balik seluruh p e t a k a malam ini. Dengan langkah cepat, Siska bergegas menuju tempat parkir, bersiap merebut kembali posisi yang menurutnya memang miliknya sejak awal.


Judul: Kiara, Cinta Tanpa Suara

Comments

Popular posts from this blog

Dihina