Berlian yg kamu abaikan
"Jangan sen tuh, Bunda! Aku tidak suka kalau Bunda tidak izin!"
Teriakan Alina menggelegar di dalam ka mar mungilnya, menghentikan ta nganku yang baru saja hendak menye ntuh sekumpulan bunga origami di atas meja belajar.
Aku terhenyak. Da daku seperti baru saja dihan tam benda tumpul yang tidak terlihat. Aku menatap putri kecilku yang kini berdiri dengan napas memburu, kedua ma tanya menatapku ta jam seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja masuk tanpa permisi.
"Bunda cuma mau lihat, Sa yang. Bagus sekali bunganya. Alina bikin sendiri?" tanyaku, mencoba melembutkan suara, meskipun ada getar yang sulit kusembunyikan.
Alina tidak menjawab. Dia segera menghampiri meja, lalu mende kap tumpukan kertas warna-warni itu dengan kedua le ngannya seperti sedang melindungi har ta karun paling berhar ga dari incaran pencu ri.
"Bunda keluar saja," uusirnya tanpa menatap ma taku.
Aku menelan lu dah, berusaha mengabaikan perih yang menjalar di ulu ha ti. "Alina ada tugas dari sekolah? Mau Bunda bantu lipat daunnya?"
"Tidak perlu," jawabnya singkat. Ta ngannya kembali sibuk merapikan lipatan kertas yang sedikit menekuk.
Aku memperhatikan gerakan ta ngannya. Dia begitu fokus. Sesekali bi birnya melengkung, membentuk senyum kecil yang begitu tulus. Senyum yang belakangan ini sangat jarang dia berikan untukku. Ada binar bahagia di ma tanya saat menatap origami itu, hingga benda ma ti itu terasa hidup di hadapannya.
"Lalu, bunga itu untuk apa kalau bukan tugas sekolah? Banyak sekali," gumamku pelan.
Alina mendengkus, lalu memutar tub uh dan menabr akkan diri ke arahku. Bukan untuk meme luk, melainkan untuk mendo rongku menjauh dari mejanya. "Alina mau sendiri! Mau buat lagi yang banyak. Besok bunga ini mau kukasihkan ke orang."
"Kasih ke siapa?"
"Bukan urusan Bunda!"
Aku mematung. Kata-kata itu terasa begitu dingin keluar dari bi bir mungilnya. "Biar Bunda duduk di sini saja ya, menemani Alina. Bunda janji nggak akan nyen tuh apa pun."
"Nggak mau, Bunda! Alina nggak mau ada Bunda di sini! To long keluar, Bunda!"
Kedua ta ngan kecilnya mendo rong ping gangku dengan kuat. Aku terhuyung mundur hingga melewati ambang pintu ka mar.
Belum sempat aku berkata-kata lagi, pintu kayu itu sudah tertutup rapat di depan wa jahku. Bunyi kunci yang diputar terdengar begitu nyata, memutus aksesku ke dunia putriku sendiri.
Aku menyandarkan pung gung ke dinding, memandangi pintu yang kini tertutup rapat itu. Rongga da daku terasa sesak. Rasanya seperti ada jarak yang makin membentang luas di antara kami. Jarak yang aku sendiri tidak tahu kapan mulainya, tetapi kini terasa begitu nyata dan menya kitkan.
***
"Kamu tidak ambil u angnya?"
Pertanyaan itu muncul dari arah pintu ka mar utama. Aku sedang melipat pa kaian Alina di atas tempat ti dur, mencoba mengu sir sisa-sisa pe rih yang belum juga reda.
Tanpa menoleh, aku tahu siapa yang berdiri di sana. Aku bisa merasakan tatapan ma tanya yang ta jam tertuju pada nakas, tempat dua lembar u ang merah yang tadi pagi dia lem parkan masih tergeletak dengan ang kuh.
"Tidak perlu, Mas," jawabku datar. Ta nganku terus bergerak, menyatukan ujung-ujung daster kecil milik Alina dengan rapi.
Mas Arya melangkah masuk, lalu terkekeh pendek. Suara tawanya terdengar kering dan penuh penghi naan. "Sok punya har ga diri sekarang? Tadi pagi yang minta siapa?"
Aku menghentikan gerakan. Menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa ketenangan yang masih kupunya. Perlahan, aku memutar tu buh dan menatapnya tepat di ma ta. Tatapanku mungkin datar, tetapi aku tahu ada keta jaman yang tidak bisa kututupi.
"Aku minta naf kah, Mas. Bukan minta dilem pari," ucapku pelan, tegas.
Mas Arya mendengkus, dia melonggarkan ikatan dasinya dengan ka sar. Ruangan ini menda dak terasa makin sempit. Udara di sekitar kami serasa mene gang, membuat napasku terasa makin berat.
"Apa bedanya? U angnya sama saja, 'kan? Tetap dua ratus ri bu. Cara ngasih nggak akan mengubah jumlahnya," sahutnya dengan nada meremehkan.
"Bedanya ada pada cara kamu memperlakukanku, Mas. Aku istrimu, bukan penge mis di pinggir jalan yang kamu kasih re cehan sambil lewat."
"Oho, sekarang sudah pintar bicara, ya? Sudah mulai berani melawan?"
Dia berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapanku dengan aroma parfum mah al yang sangat menyengat. Aroma yang tidak pernah kukenal sebelumnya. "Ingat, Arena. Semua yang kamu pa kai, makanan yang kamu telan, itu semua dari keringatku."
Aku tersenyum getir, menatap pria yang dulu begitu aku cintai karena kesederhanaannya. "Kalau u ang itu harus aku ambil dengan cara menja tuhkan har ga diriku di depanmu, aku nggak butuh, Mas. Aku lebih baik nggak be li baju lebaran daripada harus merasa sehi na tadi pagi."
Mas Arya terdiam sejenak, mungkin tidak menyangka aku akan memberikan jawaban sekeras itu. Namun, ego besarnya dengan cepat mengambil alih lagi.
"Sok jual ma hal." Dia mendengkus sekali lagi, lalu membuang muka. "Paling besok-besok juga kamu ambil diam-diam. Kamu 'kan, nggak punya pilihan lain."
Aku tidak menyahut. Aku hanya terus menatapnya saat dia berbalik arah, melangkah keluar ka mar dengan langkah yang berat dan angkuh.
"Mas mau lihat Alina dulu. Jangan ganggu kami," pesannya sebelum menghilang di balik pintu, menuju ka mar putri kami yang tadi terkunci rapat untukku.
Aku mendengar pintu ka mar Alina terbuka, disusul suara tawa riang putriku yang menyambut ayahnya. Sangat berbeda dengan sambutan dingin yang kudapatkan beberapa menit lalu.
Aku kembali duduk di tepi tempat ti dur. Ha tiku terasa re muk. Di saat yang sama, ada sesuatu yang mendidih di dalam sana. Bukan kema rahan yang meledak-ledak, melainkan sebuah tekad yang perlahan-lahan menge ras seperti batu.
Aku menatap cermin di lemari pa kaian yang sudah mulai kusam. Bayangan perempuan yang bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengadon kue itu terlihat lelah. Jemari yang mengusap wajah terasa kasar, bekas bekerja tanpa banyak mengeluh, demi memastikan suaminya bisa duduk di bangku kuliah tanpa memikirkan bia ya.
Di balik kelelahan itu, ma taku memancarkan sesuatu yang lain.
"Suatu hari nanti, Mas," bisikku pada bayangan di cermin.
Aku mencengke ram kain seprai dengan kuat hingga kuku-kukuku memutih. Suaraku begitu lirih, hampir seperti desisan angin.
"Aku berjanji, aku tidak akan lagi membiarkan diriku diperlakukan serendah ini.”
Judul : Berlian yang Kalian Abaikan

Comments
Post a Comment