Permata tersembunyi

 "


Loh, Pak Deni? Kenapa Anda ada di sini?" tanya Ayah Senja, langkahnya mendadak terhenti di undakan tangga KUA.

M4tanya membelalak melihat sosok pria paruh baya berstelan jas m a h a l yang sangat ia kenali sebagai direktur utama rumah sakit, berdiri di area tunggu bersama seorang wanita sosialita yang m0dis.


Dina yang awalnya memasang wajah masam, seketika langsung menegakkan t u b u h nya dan merapikan gaunnya begitu menyadari siapa yang ada di depan mereka.


"Selamat siang, Om Deni, Tante Siska!" sapanya manis.


"Kalian? Sedang apa di sini?" tanya Siska dingin.


Dina langsung memasang wajah prihatin.


"Kakak saya mau menikah hari ini, Tante. Kami cuma mau memastikan dia tidak ditipu laki-laki m i s k i n yang entah datang dari mana."


Tante Mia ikut mengangguk.


"Namanya juga Senja. Kami khawatir dia salah pilih pasangan."


Namun anehnya, Pak Deni sama sekali tidak menanggapi sindiran itu.


Sejak tadi matanya justru terus mengarah ke pintu masuk utama KUA, seolah sedang menunggu seseorang yang sangat penting.


Bima yang duduk di kursi roda mulai mengernyit.


"Bang... kenapa Direktur Medika Utama ada di KUA kecamatan begini?"


Elang ikut memperhatikan.


Belum sempat ada yang menjawab, tiba-tiba beberapa mobil m e w a h berhenti berurutan di depan halaman KUA.


Satu...


Dua...


Tiga...


Empat mobil sekaligus.


Semua orang yang berada di sana spontan menoleh.


Pak Deni bahkan langsung berdiri tegak dengan wajah t e g a ng.


Dan saat pintu mobil paling depan terbuka...


(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit