Bilqis Azura mulai menyesali keberadaannya.


Sudah hampir seminggu sejak ia dan Bagas menjalankan "hubungan palsu" mereka.


Dan selama seminggu itu, satu kesimpulan berhasil ia dapatkan.


Bagas Mahendra tidak bisa mengikuti aturan.


Sama sekali tidak bisa.. 


Padahal Bilqis sudah menuliskan lima peraturan yang sangat jelas.


Bahkan ia masih menyimpan foto halaman buku yang berisi tanda tangan mereka.


Namun kenyataannya?


Bagas melanggar setidaknya satu aturan setiap hari.


Dan pagi itu, pelanggaran terbaru baru saja terjadi.


"Selamat pagi, Bilqis."


Bilqis yang sedang berjalan menuju kelas menoleh.


Bagas berdiri di dekat gerbang sekolah sambil membawa dua gelas minuman.


Seketika beberapa siswa memperhatikan mereka.


Bilqis langsung curiga.


"Apa itu?"


"Es kopi."


"Aku tidak minum kopi."


"Aku tahu."


Bagas mengangkat gelas satunya.


"Yang ini cokelat."


Bilqis berkedip.


"Kamu beli untukku?"


"Iya."


"Kenapa?"


Bagas terlihat berpikir.


"Lapar?"


"Itu bukan jawaban."


"Baiklah. Aku cuma lewat minimarket."


"Kamu tidak pernah cuma lewat."


"Itu fitnah."


Bilqis menatapnya beberapa detik.


Lalu mengambil minuman itu.


"Makasih."


Bagas tersenyum.


"Sama-sama."


Dari kejauhan terdengar suara Randy.


"WOOO!"


Bilqis langsung ingin mengembalikan minuman tersebut.


---


Jam pertama berjalan cukup normal.


Sampai Nisa tiba-tiba memindahkan kursinya ke dekat Bilqis.


"Kita perlu bicara."


"Kamu terdengar seperti polisi."


"Lebih serius dari itu."


Bilqis menghela napas.


"Ada apa?"


Nisa menyandarkan dagu di meja.


"Kamu sadar nggak?"


"Sadar apa?"


"Kamu sekarang lebih sering bilang makasih ke Bagas."


Bilqis membeku.


"Apaan sih."


"Aku serius."


"Tidak."


"Iya."


Bilqis langsung membuka buku.


Namun sayangnya Nisa tidak berhenti.


"Dulu kalau Bagas bantu ambilin buku, kamu cuma bilang 'geser'."


"Itu tidak benar."


"Benar."


Dinda yang duduk di depan mereka ikut menoleh.


"Itu memang benar."


Bilqis menatap langit-langit kelas.


Kenapa semua orang hari ini melawannya?


---


Saat jam istirahat tiba, kelompok proyek kembali berkumpul.


Mereka harus mempersiapkan presentasi awal yang akan dilakukan minggu depan.


Bilqis sibuk mencatat.


Bagas sibuk menjelaskan ide.


Kevin sibuk membantu.


Sedangkan Randy...


Randy sibuk mengganggu semua orang.


"Aku lapar."


"Tadi baru makan," kata Kevin.


"Aku lapar lagi."


"Itu bukan masalah kelompok."


"Tapi masalah hidup."


Bilqis mulai kehilangan kesabaran.


Namun sebelum ia sempat berbicara, Bagas lebih dulu melempar penghapus ke arah Randy.


Tepat mengenai dahinya.


"Aduh!"


"Fokus."


Randy memegang dahinya.


"Pacarmu galak."


Sunyi.


Sangat sunyi.


Bilqis menatap Randy.


Randy langsung sadar.


"Maaf."


"Terlambat."


Kevin menepuk bahu sahabatnya.


"Aku sudah bilang."


---


Sepulang sekolah, kelompok mereka memutuskan mengerjakan beberapa bagian proyek di perpustakaan.


Bilqis duduk di meja paling ujung.


Beberapa buku terbuka di depannya.


Ia sedang fokus membaca ketika sebuah bungkus roti muncul di atas mejanya.


Bilqis mengangkat kepala.


Bagas.


Lagi.


"Apa ini?"


"Kamu belum makan."


"Kamu tahu dari mana?"


"Sejak tadi kamu cuma minum air."


Bilqis terdiam.


Ia memang lupa makan siang.


Terlalu fokus mengerjakan proyek.


Namun yang membuatnya heran adalah fakta bahwa Bagas menyadarinya.


"Aku tidak lapar."


Perutnya langsung berbunyi.


Bagas menahan tawa.


Bilqis ingin menghilang.


"Baiklah," katanya pelan.


Bagas mendorong roti itu ke arahnya.


"Makan."


Anehnya, kali ini Bilqis tidak membantah.


---


Sore menjelang ketika pekerjaan mereka akhirnya selesai.


Sebagian besar anggota kelompok sudah pulang.


Yang tersisa hanya Bilqis dan Bagas.


Seperti biasa.


Bilqis sedang merapikan catatan ketika Bagas tiba-tiba berkata,


"Aku punya pertanyaan."


Bilqis tidak mengangkat kepala.


"Tanya."


"Kenapa kamu selalu berusaha melakukan semuanya sendiri?"


Pertanyaan itu membuat tangannya berhenti bergerak.


"Apa maksudmu?"


"Kamu selalu begitu."


"Tidak."


"Iya."


Bagas menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Waktu tugas kelompok, kamu mengerjakan paling banyak."


"Itu supaya cepat selesai."


"Waktu observasi juga sama."


"Itu tanggung jawab."


"Dan waktu lupa makan siang?"


Bilqis terdiam.


Bagas melanjutkan.


"Kamu terlalu sibuk mengurus semuanya."


Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk di sana, Bilqis tidak tahu harus menjawab apa.


Karena sebagian dari ucapan Bagas memang benar.


Ia memang terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.


Sejak dulu.


"Kalau aku nggak melakukannya, siapa lagi?" tanyanya pelan.


Bagas menatapnya.


"Kita satu tim."


Bilqis tidak langsung menjawab.


Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa berbeda.


Lebih tulus daripada yang ia duga.


---


Malam harinya, Bilqis sedang belajar ketika ponselnya berbunyi.


Pesan dari Bagas.


Bilqis langsung curiga.


Biasanya pesan dari Bagas identik dengan masalah.


Namun kali ini isi pesannya berbeda.


Bagas:

"Jangan lupa makan malam."


Bilqis membaca pesan itu dua kali.


Lalu tiga kali.


Hanya itu.


Tidak ada candaan.


Tidak ada ejekan.


Tidak ada hal aneh.


Hanya sebuah pengingat sederhana.


Entah kenapa, hal itu membuatnya tersenyum kecil.


Sangat kecil.


Ia segera menghapus senyum tersebut.


Lalu membalas singkat.


Bilqis:

"Sudah."


Beberapa detik kemudian balasan datang.


Bagas:

"Bagus."


Hanya satu kata.


Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, Bilqis tidak merasa terlalu terganggu dengan keberadaan Bagas Mahendra.


Meskipun tentu saja...


Ia tidak akan mengakuinya kepada siapa pun.


Sementara itu, di rumahnya, Bagas yang baru selesai latihan basket meletakkan ponselnya di samping meja.


Ibunya yang kebetulan lewat memperhatikan senyum tipis di wajah putranya.


"Kamu kenapa?"


Bagas tersadar.


"Hah?"


"Kamu senyum sendiri."


"Aku nggak senyum."


Ibunya tertawa kecil.


"Kamu yakin?"


Bagas tidak menjawab.


Karena untuk pertama kalinya, bahkan dirinya sendiri tidak yakin.


Dan tanpa disadari keduanya...


Peraturan yang dibuat untuk menjaga jarak perlahan mulai kehilangan fungsinya.


Karena semakin hari, mereka justru semakin mengenal satu sama lain.


Dan itu jauh lebih berbahaya daripada gosip sekolah mana pun. 


Keesokan harinya, Bilqis datang ke sekolah dengan satu tujuan.


Mengembalikan buku catatan peraturan kepada Bagas.


Semalam ia kembali membaca daftar aturan yang mereka buat bersama.


Dan semakin ia membacanya, semakin ia sadar bahwa sebagian aturan itu sudah mulai dilanggar.


Terutama oleh Bagas.


Begitu memasuki kelas, ia langsung berjalan ke bangku Bagas.


Cowok itu sedang mengobrol dengan Randy dan Kevin.


"Ada apa?" tanya Bagas.


Bilqis meletakkan buku catatan di mejanya.


"Kamu melanggar peraturan."


Randy langsung tertarik.


"Peraturan apa?"


"Diam."


"Oke."


Bagas membuka buku tersebut.


"Kamu menunjuk bagian mana?"


"Nomor lima."


Bagas membaca pelan.


"Tidak boleh membuat Bilqis kesal."


Lalu ia mengangkat kepala.


"Menurutku aku sudah berusaha."


"Berusaha?"


"Iya."


"Kamu setiap hari membuat hidupku lebih sulit."


"Itu bukan sengaja."


Bilqis menatapnya datar.


Bagas tertawa kecil.


"Aku serius."


"Kamu tertawa."


"Refleks."


Kevin menggeleng pelan.


"Bagas, kadang aku paham kenapa Bilqis kesal sama kamu."


"Kadang?"


"Sering."


Randy langsung tertawa keras.


---


Siang itu, kelas XI IPA 1 mendapat kabar bahwa presentasi proyek dimajukan dua hari lebih cepat.


Sontak seluruh kelompok panik.


"Kita belum selesai!"


"Datanya kurang!"


"Slide presentasinya belum jadi!"


Suasana kelas berubah kacau.


Bilqis segera membuka catatan proyeknya.


Otaknya langsung bekerja cepat menyusun daftar yang harus diselesaikan.


Namun sebelum ia sempat membagi tugas, Bagas berdiri.


"Oke, dengarkan."


Anehnya, seluruh kelompok langsung diam.


"Kita bagi pekerjaan seperti kemarin."


Bagas mulai menyebutkan tugas setiap anggota.


Kevin bertanggung jawab pada data.


Randy mengurus desain presentasi.


Anggota lain menangani dokumentasi.


Sementara Bilqis memperhatikan dari tempat duduknya.


Semua orang mendengarkan Bagas.


Tidak ada yang membantah.


Tidak ada yang mengeluh.


Dalam waktu kurang dari lima menit, pekerjaan yang tadinya terasa berantakan kembali teratur.


Saat rapat kecil itu selesai, Bilqis baru menyadari sesuatu.


Bagas memang suka bercanda.


Namun ketika situasi mengharuskannya serius, ia mampu memimpin dengan baik.


Sangat baik.


"Kenapa?" tanya Bagas yang sadar sedang diperhatikan.


"Tidak apa-apa."


"Kamu menatapku."


"Aku sedang berpikir."


"Bahaya."


Bilqis langsung memalingkan wajah.


Kadang ia lupa bahwa Bagas memang tidak bisa berbicara normal.


---


Sepulang sekolah, mereka kembali berkumpul di perpustakaan.


Kali ini suasananya lebih sibuk dari biasanya.


Semua orang fokus menyelesaikan tugas masing-masing.


Bahkan Randy terlihat serius.


Meskipun hanya bertahan sekitar dua puluh menit.


"Aku lapar."


"Nah, itu dia," kata Kevin.


"Aku serius."


"Kamu selalu serius kalau soal makanan."


Bilqis yang sedang mengerjakan laporan tanpa sadar tersenyum kecil mendengar percakapan mereka.


Kelompok itu memang aneh.


Tetapi entah kenapa, bekerja bersama mereka terasa menyenangkan.


Terutama karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus mengerjakan semuanya sendirian.


Saat sedang mengetik, sebuah botol air mineral tiba-tiba diletakkan di samping laptopnya.


Bagas lagi.


"Kamu belum minum."


"Aku bisa ambil sendiri."


"Aku tahu."


"Lalu kenapa dibawakan?"


Bagas mengangkat bahu.


"Karena aku sedang lewat."


"Kamu bahkan tidak ke kantin."


"Detail kecil."


Bilqis menghela napas.


Namun kali ini ia tidak mengembalikan botol tersebut.


---


Hari mulai gelap ketika pekerjaan mereka selesai.


Satu per satu anggota kelompok pulang.


Hingga akhirnya hanya tersisa Bilqis dan Bagas.


Mereka berjalan keluar perpustakaan bersama.


Koridor sekolah hampir kosong.


Lampu-lampu mulai menyala.


"Aku baru sadar sesuatu," kata Bagas.


"Apa?"


"Kita sudah hampir seminggu menjalani hubungan palsu."


Bilqis mengangguk.


"Lalu?"


"Kita belum pernah foto bersama."


Bilqis berhenti berjalan.


"Apa?"


"Pasangan palsu macam apa yang tidak punya foto bersama?"


"Itu justru bagus."


"Menurutmu."


"Menurut orang normal."


Bagas tertawa.


"Kamu tahu, kadang aku penasaran."


"Penasaran apa?"


"Gimana caranya kamu bisa serius selama dua puluh empat jam sehari."


Bilqis memutar bola mata.


"Gimana caranya kamu bisa bercanda selama dua puluh empat jam sehari?"


"Anugerah."


"Itu kutukan."


Bagas tertawa lebih keras.


Dan tanpa sadar, Bilqis ikut tersenyum.


Lagi.


Untuk kedua kalinya minggu itu.


Sebuah hal kecil yang tidak luput dari perhatian Bagas.


Namun kali ini ia tidak menggodanya.


Ia hanya menyimpan momen itu dalam diam.


Karena semakin lama mengenal Bilqis, semakin ia sadar bahwa senyum gadis itu jauh lebih langka daripada yang dibayangkan banyak orang.


Dan anehnya...


Ia mulai menyukai saat-saat ketika berhasil membuat Bilqis tersenyum.


Meski hanya sebentar.


Meski hanya sedikit.


Tanpa mereka sadari, hubungan palsu yang awalnya dibuat untuk menghentikan gosip perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.


Dan jauh lebih berbahaya bagi hati mereka berdua.


BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit