Art ternyata maduku

 Mobil Haikal baru saja meninggalkan halaman rumah ketika Farhan menghampiri Nadia dengan wajah merah padam.



"Kemana aja kamu?" bentaknya.


Nadia yang masih kelelahan hanya menatap suaminya tanpa semangat.


"Tadi mobilku mogok."


"Mogok?" Farhan mencibir. "Terus kebetulan banget yang nolong Haikal?"


"Mas, jangan nuduh sembarangan."


"Nuduh?" Farhan tertawa sinis. "Aku lihat sendiri kamu turun dari mobil dia! Kalau memang cuma rekan kerja, kenapa harus dianterin sampai depan rumah?"


Nadia menggenggam tasnya erat.


"Karena mobilku mogok! Aku sudah telepon kamu berkali-kali."


"Aku nggak dengar. Dari tadi alasan terus!" Belum sempat Nadia membalas, sebuah mobil berhenti tepat di depan pagar rumah.


Seorang wanita paruh baya bersama suaminya turun sambil membawa beberapa kantong buah dan oleh-oleh. "Wah... rumahnya bagus sekali, Pak."


"Alhamdulillah anak kita sukses juga." Nadia mengernyit.


"Siapa mereka?"


Pasangan itu berjalan mendekat sambil tersenyum.


Namun begitu melihat Nadia berdiri di teras, wanita paruh baya itu langsung berkata ramah.


"Oh... ini ART yang kerja di rumah Sherly, ya?"


Nadia melongo.


"ART?"


"Iya." Wanita itu mengangguk.


"Sekarang pembantu mah pada enak. Sudah digaji majikan, masih boleh kerja di luar."


Nadia berkedip beberapa kali. Ia menoleh ke kanan dan kiri.


"Ngomong sama siapa, ya?"


Tatapannya akhirnya berhenti pada Farhan. "Mas...Ada apa ini?"


Wajah Farhan mendadak pucat.


Tanpa menjawab, ia buru-buru menarik lengan Nadia menjauh ke sudut teras.


"Mas! Lepas!"


Farhan menoleh memastikan orang tua itu tidak mendengar. "Nad... tolong."


"Apa lagi?"


"Itu..." Farhan menelan lud ah. "Orang tua Sherly."


Nadia membelalak. "Apa?"


"Mereka datang dari kampung."


"Lalu?"


"Mereka nggak tahu kalau Sherly kerja jadi ART."


Nadia masih belum mengerti.


Farhan menarik na pas panjang. "Selama ini Sherly bilang kalau rumah ini rumahnya."


Nadia mematung. "Jadi..."


Farhan mengangguk pelan. "Tolong... sehari ini saja kamu pura-pura jadi ART."


Nadia langsung menarik tangannya.


"Aku?"


"Iya."


"Di rumahku sendiri?"


"Iya. Nad"


Nadia sampai tertawa saking tidak percayanya. "Mas, kamu sadar nggak sih ngomong apa? Aku capek. Aku baru pulang kerja. Terus sekarang kamu minta aku jadi pembantu di rumahku sendiri?"


Farhan menggenggam kedua tangan Nadia.


"Nad... aku mohon. Kalau orang tua Sherly tahu dia jadi ART di luar kota, dia bisa dimarahi habis-habisan. Kasihan dia."


Kalimat itu membuat dad a Nadia semakin se sak.


"Kasihan dia? Lalu aku? Apa Mas pernah mikirin aku?"


Namun Farhan terus memohon. "Plis, Nad. Cuma sehari. Besok pagi mereka pulang."


Nadia menutup mata sejenak.


Entah mengapa...

Hatinya masih terlalu lemah untuk mengatakan tidak.


Ia mengembuskan nap as panjang. "Baik. Cuma sehari. Setelah itu jangan pernah minta aku melakukan hal seperti ini lagi."


Wajah Farhan langsung berbinar. "Makasih, Nad. Kamu memang istri terbaik."


Nadia hanya tersenyum hambar.


Entah kenapa...

Kalimat itu justru terasa seperti penghinaan.


Belum sempat Nadia masuk ke rumah, Farhan kembali berkata dengan suara ke ras agar terdengar orang tua Sherly.


"Hei! Buruan cuci piring! Kamu sudah telat pulang, masih lelet aja kerjanya!"


Nadia langsung menoleh.


"Mas?"


Belum sempat berkata apa-apa, ibu Sherly tiba-tiba ikut menyela. "Nah, itu dia. Pembantu sekarang banyak yang nggak sopan."


Ia memandang Nadia dari ujung kepala sampai kaki.


"Majikan kok dipanggil Mas? Itu majikan kamu. Harusnya panggil Pak Farhan."


Nadia mengg igit bi birnya kuat-kuat. Tangannya mengepal di balik rok kerjanya. Untuk pertama kalinya dalam hidup...

Pemilik rumah itu harus menelan har ga d irinya sendiri.

Dan semua itu... Demi menutupi kebohongan suaminya.


Nadia yang masih menahan kesal buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah. Baru saja ia membuka pintu, langkahnya mendadak terhenti.


Sherly keluar dari kamar dengan penampilan yang jauh berbeda dari biasanya.


Rambutnya ditata rapi, wajahnya dipoles make-up tipis, dan ia mengenakan dress bunga selutut yang membuatnya tampak seperti nyonya rumah. Tak ada lagi celemek ataupun seragam ART yang biasa dikenakannya.


Sherly hanya melirik sekilas ke arah Nadia, lalu tersenyum tipis seolah kehadiran Nadia tidak berarti apa-apa.


"Eh, Ibu... Bapak..." serunya riang sambil berlari kecil menghampiri kedua orang tuanya.


"Ibuk... Bapak... masuk, yuk."


Ibu Sherly langsung memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Masyaallah... anak Ibu makin cantik."

Sherly terkekeh malu.


"Ah, Ibu bisa aja."


Farhan yang melihat itu ikut tersenyum lega. Setidaknya sandiwara mereka masih berjalan sesuai rencana.


Sherly lalu menggandeng kedua orang tuanya memasuki ruang tamu.


"Ibuk sama Bapak capek, ya? Duduk dulu."


Ia bahkan menarikkan kursi untuk kedua orang tuanya, benar-benar bertingkah seperti pemilik rumah.


Nadia yang berdiri beberapa meter dari mereka hanya mampu menghela napas panjang. Dad anya terasa s esak.


Rumah yang ia cicil dari hasil jerih payahnya... Kini justru dipakai orang lain untuk bermain sandiwara.


Belum sempat Nadia melangkah menuju kam arnya, suara Sherly kembali terdengar.


"Nad!"

Nadia berhenti.


Sherly menoleh sambil tersenyum manis di depan kedua orang tuanya.


"Buruan bikinin minum Ibu sama Bapak, ya."


Nadia mematung. Matanya membulat tak percaya.


"Berani-beraninya dia..."


Ia menatap Farhan, berharap suaminya akan menegur Sherly.

Namun yang ia dapat justru anggukan kecil dari Farhan, seolah membenarkan perintah itu.

"Nad... tolong dulu."


Hati Nadia semakin panas. Untuk sesaat ia benar-benar ingin berteriak bahwa rumah itu miliknya.


Ingin mengatakan kepada pasangan paruh baya itu bahwa anak mereka hanyalah ART yang bekerja di rumah tersebut.


Namun...


Tatapannya jatuh pada wajah kedua orang tua Sherly yang terlihat begitu bahagia melihat putrinya.


Mereka datang dari kampung dengan penuh kebanggaan.

Tak sedikit pun mereka tahu bahwa semua yang mereka lihat hanyalah kebohongan. Nadia menutup matanya sejenak.


"Aku menghormati mereka."


"Mereka tamu di rumah ini."


"Bukan salah mereka kalau dibohongi oleh anaknya sendiri."


Perlahan ia mengembuskan na pas.


"Baik."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Nadia berjalan menuju dapur.

Tangannya mulai menyiapkan empat gelas teh hangat dan sepiring camilan. Sesekali ia mengusap sudut matanya yang kembali basah.


"Anggap saja aku sedang menjamu tamu. Bukan sedang menjadi pembantu." Batinnya berusaha menguatkan diri.


Beberapa menit kemudian Nadia membawa nampan berisi minuman ke ruang tamu.


"Silakan, Bu... Pak."


Ia meletakkan gelas satu per satu dengan sopan.

"Masyaallah."


Ibu Sherly tersenyum puas. "Pembantu sekarang sopan juga, ya. "Bersyukur sekali kamu, Sherly. Dapat ART yang rajin begini."


Sherly tersenyum sambil melirik Nadia sekilas. "Iya, Bu. Namanya Nadia. Orangnya memang baik."


Kalimat itu terdengar seperti pujian. Namun bagi Nadia, rasanya lebih menyakitkan daripada tamparan.


Ia hanya menundukkan kepala, berusaha menelan semua penghinaan itu. Tiba-tiba ayah Sherly ikut membuka suara.


"Nadia."


"Iya, Pak?"


"Nanti habis makan malam, tolong pijitin kaki saya, ya."


"Tadi perjalanan dari kampung jauh sekali. Kaki saya pegal semua."


Nadia terdiam. Belum sempat ia menjawab, Farhan lebih dulu menyela. "Iya, Pak. Nanti Nadia yang pijitin."


Mata Nadia langsung menatap Farhan taja m. Ada rasa marah yang perlahan mulai memenuhi dad anya. Satu demi satu harg a dir inya diinjak.


Dan semua itu... Dilakukan oleh suaminya sendiri.


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit