Madu yg ku buang

 


Aku terpaksa menerima is tri sirih su amiku, bukan karena merasa kalah tapi aku ingin  ja lang itu merasakan sa kit  lebih dari yang kurasakan.


"Nikmati saja ne rakamu, Safira, bersama a nak dalam kandung anmu"


Bab 1: Pintu untuk maduku.


"Mulan?" Suara Mas Haris terdengar ragu saat ia melangkah masuk.

Aku tidak menoleh. Aku tahu dia tidak sendirian. Aroma parfum floral murahan yang menye ngat segera menyerbu indra pen ciumanku, mencoba bersaing dengan aroma elegan pengha rum ruangan yang ku pasang.


"Ya, Mas. Di sini," jawabku tenang, meletakkan cangkir porselen ke tatakannya tanpa denting sedikit pun.

Mas Haris muncul di ambang pintu ruang tengah. Wa jahnya tegang,  di belakangnya, seorang wan ita berdiri dengan kep ala tertunduk. Namanya Safira. Wa nita yang selama setahun  ini diam-diam menjadi 'ma du' dalam kopi perni kahanku.


"Mulan... ini Safira. Yang tempo hari kita bicarakan," suara Mas Haris hampir menyerupai bisikan.


 "Dia tidak punya tempat tinggal lagi karena keluarganya mengu sirnya. Dia sedang ha mil, Lan. Mas tidak bisa membiarkannya di jalanan."


Aku bangkit dari kursi, memutar tubuh perlahan. Aku men atap Safira yang kini mulai berani mengangkat wa jah. M atanya sembab, entah akting atau sungguhan dan tang annya meremas ujung blus yang ia kenakan. Dia tampak seperti korban, sementara aku, dengan gaun ru mah mewah  dan rapi, tampak seperti antagonis yang siap mene rkam.

"Silakan duduk, Safira," kataku dengan senyum paling ramah yang pernah ku buat.


Safira tertegun. Mas Haris apalagi. Dia mungkin mengira aku akan melem parkan vas bunga ke arah mereka atau setidaknya berte riak his teris seperti wa nita yang dikhiana ti pada umumnya.


"M-mbak Mulan... maafkan saya," isak Safira pe cah. Dia berlutut di depanku, memegang ujung kakiku. "Saya tahu saya salah. Saya perempuan rendah, tapi tolong... izinkan saya tetap di sini. Saya akan melakukan apa saja, jadi pemb antu Mbak pun saya mau, asal a nak ini punya ayah."


Mas Haris mendekat, hendak menyentuh pundakku. "Mulan, Mas tahu ini berat buatmu, tapi Mas janji akan adil—"


"Adil?" Aku memotong kalimatnya dengan tawa kecil yang anggun. "Siapa yang bicara soal adil, Mas?"

Aku menarik kakiku dari genggaman Safira, lalu membantunya berdiri. Telapak tanganku menyentuh lengannya yang dingin. Di ma taku, dia bukan manusia. Dia hanya seonggok sampah yang kebetulan berwujud cantik.

"Mas tidak perlu merasa bersalah. Justru aku yang harus berterima kasih karena Mas sudah membawanya ke sini," ucapku sambil menatap lurus ke ma ta Mas Haris.


"Maksudmu, Lan?"


"Di luar sana, kalau aku ingin membu ang sampah, aku harus keluar rumah dan tang an bisa kotor terkena debu jalanan. Tapi kalau Mas membawanya masuk..." aku menjeda kalimatku, jemariku beralih merapikan kerah kemeja Mas Haris yang sedikit kusut. "Aku bisa membu angnya langsung dari dalam. Lebih bersih, bukan?"


Safira tampak bingung dengan analogiku, terlihat sekali kebo dohannya. Sementara Mas Haris hanya mendesah lega, mengira aku sudah menerima takdir ini.


"Ka marmu sudah kusiapkan, Safira. Di sebelah gudang belakang. Dekat dengan dapur, supaya kamu mudah jika ingin 'melay ani' keperluan Mas Haris atau... kebutuhanku."

Aku melihat kilat kemenangan di ma ta Safira. Dia pikir dia telah berhasil masuk ke benteng pertahananku. Dia pikir, dengan kakinya yang kini menapak di lantai marmer ru mah ini, dia adalah pemenangnya.

Silakan bermimpi, Safira. Nikmati setiap detik udara di ru mah ini selagi kau bisa. Karena bagiku, memasukkan mu ke sini bukanlah bentuk kekalahan. Ini adalah cara tercepat untuk menghan curkanmu sampai berkeping-keping, tepat di depan ma ta laki-laki yang memujamu ini.

Selamat datang di nera kamu, Madu. Tanggal mainnya sudah kau siapkan sendiri.


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit