Aku menarik napas panjang, kutatap rumahku dengan malas. Dipikiranku saat ini hanya ingin maπdi, istirahat, dan menutup hari yang panjang dengan tenang. Tapi begitu membuka pintu, langkahku langsung terhenti.


Lampu ruang tamu masih menyala, dan di sana duduklah Mas Rega bersama Amara.


Aku melangkah maju mendekati mereka. 


Dengan sengaja Amara bersandar m a n j a di bahu suamiku sambil mengulas senyum li cik yang menj1jikan, mengenakan gavn tidvr super tipi$ yang jelas bukan punyaku. Sementara Mas Rega, seperti biasa tampak dingin. Tapi, kali ini ada sesuatu di matanya, ada kejengkelan bercampur kegel1sahan.


Tidak mungkin tatapan itu ditujukan padaku, 'kan?


“Silakan lanjutkan,” ucapku datar. “Aku cuma lewat.”


Amara tersenyum miring. “Lewat?” katanya sambil tertawa kecil. “Aku rasa kau sengaja."


Aku menatapnya malas, lalu berucap tanpa ekspresi, “Terserahmu saja."


Aku menunduk mengambil syal yang memang sengaja kutinggalkan di meja.


Mas Rega berdiri, menatapku dengan mata meπajam. “Kau ke mana saja?” tanyanya datar.


Nada suaranya tak lagi marah, justru terdengar ingin tau.


Aku menatapnya sekilas. “Tidak penting. Lagipula, bukankah selama ini kau tak peduli aku pergi ke mana?”


Dia terdiam, sementara Amara menatapnya dengan tatapan mencib1r. 


“Mas, jangan buang waktu tanya hal tidak penting, dia itu cuma ingin cari perhatianmu.”


Aku tertawa pelan. “Perhatian? Kau pikir aku masih seputus asa itu, Amara?”


Kudekati meja ruang tamu, meraih vas bunga kecil yang dulu kubeli di pasar sore bersama ibuku, satu-satunya hal yang tersisa dari ibuku. “Aku sudah selesai berharap pada orang yang bahkan tidak menganggapku ada."


Suasana mendadak hening. Mas Rega menatap vas itu lama, mungkin ingat kalau benda itu satu-satunya peninggalan dari ibuku yang dulu menolong keluarganya.


“Jangan menyentuh itu,” ucapnya akhirnya, nada suaranya pelan tapi tegaπg. “Itu milik almarhumah ibumu.”


Aku tersenyum pahit. “Aku tau. Karena itu aku akan menyimpannya di kamarku. Sebelum ada tangan j a h a t yang menyentuh sesuatu yang bukan miliknya.”


Amara bangkit dengan ekspresi tak terima. “Kau menvduh aku, ya?”


Aku menatapnya dingin. “Aku cuma bilang fakta.”


“Kinanti!” beπtak Mas Rega tiba-tiba. “Berhenti bicara dengan nada seperti itu di rumah ini!”


Aku menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Rumah ini masih rumahku juga, Mas Rega. Dan aku akan bicara dengan nada apapun yang aku mau.”


Aku menatap mereka bergantian, lalu menambahkan pelan tapi ta jam, “Selama kau belum menggvgat cera1, aku bukan tamu di sini.”


Wajah Mas Rega menegaπg. Amara melangkah maju nyaris mendor0ngku, tapi langkahnya berhenti ketika aku mengangkat tangan.


“Sentvh aku, Amara,” bisikku, “dan aku pastikan besok pagi keluarga Mas Rega tau hubvngan ter la ra ng kalian!"


Untuk pertama kalinya Amara mundur dengan wajah p i a s, matanya mendel1k lebar, kedua tangannya bmen g e p a l  di sisi tubvh.


Aku memelvk vas bunga itu, lalu berbalik hendak naik tangga.


Tapi sebelum langkahku menginjak anak tangga pertama, suara Mas Rega kembali terdengar pelan tapi sangat mengir1s hatiku.


“Kinanti.”


Langkahku terhenti.


“Aku tidak akan minta maaf. Tapi kalau kau bertahan di sini hanya untuk membalas deπdam, kau akan menyesal.”


Aku menoleh setengah, menatapnya dari bahu. “Dendam?” Bib1rku tersenyum tipis. “Tidak, Mas. Aku cuma mau bertahan sampai kau sadar bahwa yang paling menyak1tkan bukan ditinggalkan, tapi diabaikan oleh orang yang memberikan seluruh cintanya padamu."


Aku menaiki tangga perlahan.


Tapi sebelum sampai di atas, suara bentvran keras terdengar dari bawah.


Pyar!!!


Suara kaca pecah terdengar, sontak aku menoleh ke belakang.


Vas bungaku yang lain pecah di lantai, dan di sebelahnya, Amara berdiri dengan wajah pucat, tangan gemetar memegang p e c a h a n yang meneteskan d a r a h.


Mataku membulat lebar.


“Amara!”


Tapi belum sempat aku turun, Mas Rega sudah lebih dulu berlari ke arahnya.


“Amara! Astaga d a r a h mu.”


Aku hanya bisa berdiri di tangga, menatap pemandangan itu. Mereka berdua berlvtut di lantai dengan tangan saling menggeπggam.


Sementara pecahan vas bunga yang dibelikan oleh mertuaku kini ber se ra kan di bawah kaki mereka.


Aku menggenggam pagar tangga dengan erat, merasakan se sak di d a d a. Namun kali ini, bukan air mata yang j a t u h melainkan senyum tipis di sudut bib1rku.


“Baiklah, Mas Rega,” ucapku pelan. “Kalau begitu, permainan baru saja dimulai.”


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit