Aku menghadiri pesta mew ah pernikahan mantan suami. Saat mereka menghinaku, tiba-tiba saja datang seorang pria tampan yang membelaku. Pria itu ternyata ...
"Ma, kamu yakin aku harus melakukan ini?” suara Anita terdengar ra gu, saat ia merapikan rambutnya di depan cerm in kecil kos sederhana itu.
Waj ahnya pu cat, mat anya semb ab karena tan gis semalam, dan bi birnya kering. Tapi di balik semua itu, ada keteguhan samar yang berusaha ia gen ggam.
Ema, yang duduk di tepi ran jan g, menghela nap as pan jang. “Ta, kamu nggak boleh kalah. Kalau kamu cuma sembunyi dan menghindar, mereka akan berpikir kamu han cur. Sekali ini saja, berdirilah dengan kep ala te gak. Kamu ngerti maksudku, kan?”
Anita terdiam. Kata-kata itu seperti cam buk, tapi juga peng uat. Akhirnya ia mengan gguk pelan.
“Baik, Ma. Kita coba. Tolong bantu aku, ya!"
"Pasti, Ta. Aku tidak akan pernah me ningg alkan kamu. Kamu sahabat terbaikku dan aku tidak ingin melihat kamu terus mende rita hanya karena pria yang tak punya ha ti itu.”
"Terima kasih, ya, Ma."
Ema tersenyum dan mengan gguk. "Dah, yuk, kita berangkat!"
Keduanya pergi ke sebuah butik besar yang namanya sudah terkenal di kota itu atas saran Ema. Awalnya Anita menolak karena tahu pasti ha rga gaun di sana ma hal. Tapi berkat buj u kan Ema, Anita mau dengan catatan hanya melihat-lihat saja dulu.
Begitu pintu ka ca terbuka, aroma khas butik mew ah langsung menyergap. Anita langsung terkesima melihatnya. Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke butik mew ah dan ma hal.
Gaun-gaun indah berge lant ungan di rak dam sebagian dipajang di manekin. Di mata Anita, tak ada gaun yang je le k. Semuanya tampak bagus dan desainnya juga modern.
Beberapa pelanggan lain, dengan tas bermerek dan dan dan an sempurna, menoleh sekilas ke arah Anita dan Ema. Ta tap an mereka cepat tapi men u suk, seakan menilai mereka dari kelas mana.
Anita men elan lu dah. Rasa minder men elus up ke da d anya. Ia bahkan nya ris ingin berbalik keluar saat melihat pakaian yang dia kenakan.
Namun Ema meraih tan ga nnya, menggeng gam e rat. “Kita ke sini bukan buat minta be las kas ihan orang, Ta. Kita ke sini karena kamu pantas kelihatan cantik. Cu ek aja gak usah lihat yang lainnya.”
Seorang pramuniaga berpenampilan rapi mendekat, senyum profesional terpasang di b ib irnya.
“Selamat datang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu? Apa sedang mencari gaun untuk acara khusus?”
Ema mengan gguk tegas. “Ya, untuk pesta pernikahan, Mbak. Tolong carikan gaun yang pas untuk teman saya ini!” Ema menunjuk ke arah Anita.
Anita merasakan d ad anya dire m as. Kata pernikahan seperti be l ati yang baru dit usu kkan. Tapi ia berusaha tegar. Ia tak boleh kelihatan ra puh.
---
Mereka mulai menyu suri deretan gaun. Ada yang sederhana dengan po to ngan lurus, ada yang penuh payet dan pe rm ata berkilau. Namun langkah Anita terhenti di depan sebuah gaun berwarna biru safir.
Gaun itu sederhana tapi memikat. Po to ngan leh e r berbentuk V yang elegan, detail renda di bagian ba hu, dan kain satin yang ja tuh lembut hingga menyent uh lantai. Warnanya memancarkan keanggunan yang menuntut perhatian.
Jant ung Anita berde bar. Ia mendekat, jema rinya menye ntuh kainnya. Di ngin. Halus. Seperti menye ntuh sesuatu yang sakral.
“Coba yang ini, Ta!” dorong Ema. “Aku yakin ini jodohmu.”
Anita menelan lu dah. “Aku nggak yakin, Ma. Kita pulang aja, ya!”
“Gak! Kamu harus coba, Ta! Ayo aku bantu!”
Dengan ra gu, Anita akhirnya masuk ke ruang ga nti. Saat ia keluar, Ema nyaris tak bisa berkata-kata.
“Ya Allah …” bisiknya pelan. “Ta, kamu ca ntik sekali dengan gaun ini.”
Anita berdiri di depan cermin besar. Untuk sesaat, ia tak mengenali bay angan dirinya. Gaun itu memba lut tu b uhnya sempurna, membuat w aja hnya lebih bercahaya, sorot ma t a nya lebih hidup.
Sebuah bi si kan ba tin muncul. 'Bay angkan waj ah Akbar saat melihatmu seperti ini. Baya ngkan ekspresi Ratu. Mereka pasti tak akan pernah lupa.'
Sudut bi bir Anita terang kat sedikit. Namun tata pannya ja tuh ke label ha rga yang tergan tung di sisi gaun. Dan senyum itu langsung lenyap.
Jumlah yang tertera membuat kepalanya langsung pe ning. Nom inalnya lebih dari sepa ruh tabu ngan hid upnya.
“Ma … ini terlalu ma hal. Cari yang lain saja, ya,” ucapnya lirih.
Ema mendekat, seakan tak peduli. “Kalau kamu suka, aku yang bayarin. Anggap hadiah dariku untuk membalas rasa sakit hatimu pada mantan suamimu itu, Ta.”
“Tidak, Ma!” Anita langsung menolak. Wa jahnya teg ang. “Aku nggak mau. Aku udah terlalu banyak merepotkan kamu. Aku tahu keuwangan kamu juga pas-pasan. Aku nggak bisa biarin kamu keluarin uwang segini hanya buat gaun.”
“Tapi Ta, kamu harus kelihatan—”
“Enggak, Ma.” Anita mengge leng, suaranya te gas meski matanya berk aca-ka ca. “Aku nggak mau terlihat berharga di mata orang, tapi sebenarnya aku meni ndas orang yang paling say ang sama aku, yaitu kamu. Itu bukan keme nangan. Itu kemu na fikan.”
Suasana hening sesaat. Bahkan pramuniaga di samping mereka ikut me na han na pas, seakan tak ingin mengganggu momen itu.
Akhirnya Ema menghela nap as pa njang. “Baiklah. Kamu memang ker as kep ala. Tapi ingat, Ta … kamu pantas dapat yang terbaik.”
Akhirnya Anita mencoba mencari gaun-gaun lain yang ha rganya sesuai kantong. Beberapa terlalu ramai, beberapa terlalu longgar. Tak ada yang bisa menandingi pesona gaun safir itu. Setiap kali Anita melewati rak gaun itu, ha tinya berde sir, lalu pat ah lagi.
Akhirnya ia memilih sebuah gaun krem klasik. Potongannya sederhana tapi tetap elegan, tidak terlalu ma hal, dan nyaman dipakai.
“Yang penting aku nyaman, Ma. Aku nggak mau datang dengan beban di hati,” ucapnya sambil menatap gaun itu di cermin.
Ema tersenyum ti pis, menyembunyikan sedikit kecewa, tapi ia tahu itu pilihan bijak. Dan ia pun tahu tak bisa memaksa Anita.
Keluar dari butik, Anita menghela na pas panj ang. Rasanya seperti baru saja melewati med an pe rang. Bukan pera ng dengan orang lain, tapi dengan dirinya sendiri.
“Kamu yakin sama pilihanmu?” tanya Ema lagi.
Anita menatap ke jalan ra ya yang ramai, lalu tersenyum kecil. “Aku lebih yakin sama diriku. Kalau aku pakai gaun ini dengan percaya diri, aku akan tetap kelihatan menawan. Orang nggak akan lihat label harga, Ma. Mereka cuma akan lihat bagaimana aku membawanya.”
Ema menatap sahabatnya lama, lalu meraih bah unya. “Kamu benar. Aku bangga sama kamu, Ta.”
"Terima kasih, ya, Ema, sudah temani aku hari ini. Sebelum pulang, kita ke kafe dekat sini, yuk!"
"Ayok!"
---
Mereka singgah sebentar di sebuah kafe kecil di dekat butik. Suasana hangat, aroma kopi memenuhi ruangan. Ema memesan teh han gat, sementara Anita kopi latte kesukaannya. Ia memandang keluar jendela, memperhatikan lalu-lalang kendaraan.
Hatinya sedikit lebih ringan. Tapi bayangan pesta pernikahan itu tetap menghan tui. Baya ngan Akbar berdiri dengan jas hitam, menggen ggam tan gan Ratu dengan senyum lebar. Bayan gan dirinya hanya tamu undangan, yang dulu pernah jadi ratu di ha ti pria itu.
Anita menghela na pas pan jang, menahan pe r ih yang kembali men us uk.
“Ta?”
Sebuah suara be rat tapi ramah menyen taknya. Anita menoleh, ma tanya membesar.
Seorang pria tinggi berdiri di depannya. Mengenakan kemeja biru muda, membawa secangkir kopi. Waja hnya lebih dewasa dari yang ia ingat, dengan rah ang kokoh dan senyum yang tetap hangat.
“Baskara?” Anita terperan jat, nyaris tidak percaya dengan penglihatannya.
Pria itu tertawa kecil. “Aku nggak salah lihat, kan? Ini benar Anita?”
Anita masih terdiam, lidahnya ke lu. Kenangan masa lalu muncul. Baskara, teman kuliahnya yang dulu selalu ada di sisinya. Pria yang sering menemaninya belajar, pria yang diam-diam ia tahu menaruh ha ti, tapi ia abaikan karena saat itu hat inya sudah ja tuh pada Akbar.
“Ya Tuhan!” Anita bergumam. “Baskara …”
Degu pan di da da Anita berubah ritmenya. Ada rasa cang gung dan juga kehan gatan. Sementara Ema, ia hanya mena tap keduanya dalam kebingungan.
Baskara tersenyum lebar, matanya berbinar. “Akhirnya kita ketemu lagi setelah sekian lama.”
Bersambung …

Comments
Post a Comment