Warisan
"Tidak apa-apa. Acara pengajian memang sangat penting. Aku bisa paham kok. Jauh lebih penting daripada cucu sendiri yang sedang bertaruh nyawa di dalam ruang operasi," ucapku datar seraya menyodorkan cangkir teh ke hadapan mereka.
"Diminum, Bu, Pak."
Mendengar ucapanku, gestur Bapak berubah canggung. Beliau terbatuk beberapa kali, lalu mengalihkan pandangan ke arah dinding.
Sementara Ibu yang menerima cangkir teh dariku mulai tampak gelisah. Senyum palsu di wajah keriputnya perlahan memudar, dia menyesap teh berulang-ulang agar gugupnya hilang.
Semakin lama pembicaraan mereka mulai melenceng jauh dari kondisi kesehatan Misya. Mereka tidak lagi bertanya tentang perkembangan medis atau obat-obatan yang harus ditebus oleh cucunya, melainkan mulai menggiring topik ke arah finansial.
Ibu meletakkan kembali cangkir teh yang baru diminum ke atas meja. Wanita tua itu memajukan tubuhnya, menatapku dengan sepasang mata berbinar.
"Begini, Nel... Ibu lihat di mutasi rekening, kamu belum ada mengirimkan uang bulanan untuk biaya pengobatan Bapak bulan ini. Sepertinya kamu sibuk sekali ya sampai bisa lupa?" tanya Ibu.
"Maaf loh, ya. Ibu tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi Bapak harus segera kontrol."
Mendengar kalimat yang meluncur mulus dari bibir ibu mertuaku, aku menatap mereka bergantian. Seluruh rasa hormat yang selama bertahun-tahun ini membelengguku sebagai seorang menantu yang penurut seakan menguap tanpa sisa.
Aku menegakkan posisi duduk, menatap lurus tepat ke dalam manik mata keriput wanita di hadapanku ini dengan pandangan sedingin es.
"Oh, jadi Ibu sama Bapak datang sini untuk meminta u4ng? bukan berniat menjenguk Misya?" tanyaku dengan nada suara meninggi. Cukup! Aku capek berpura-pura meladeni sandiwara mereka.
"Gak gitu maksud kami loh, Nel. Kamu jangan salah paham dulu," jawab Bapak mencoba memperbaiki keadaan yang mulai memanas. "Cuma kan kamu tahu sendiri, Bapak ini harus kontrol ulang minggu depan ke dokter spesialisnya. Obat-obatannya juga sudah mau habis, jadi kami butuh dananya sekarang."
Aku menarik sudut bibirku, membentuk senyuman getir, muak? Tentu saja. Aku menatap bergantian ke arah Ibu dan Bapak.
Cukup sudah aku menjadi mesin u4ng bagi keluarga tidak tahu diri ini.
"Maaf ya, Pak, Bu. Mulai sekarang, aku tidak akan lagi menanggung biaya pengobatan

Comments
Post a Comment