Sapi sudah dipo tong, undangan sudah tersebar semua, tetangga rewang sedang masak, tapi pengantin pria membatalkan pernikahan H-1 melalui chat WA.
Menjelang sore sebelum malam tarawih pertama, suasana di r u m a h Pak Minan sedikit lebih santai. Nisa sedang sibuk menyetrika daster-daster pesanannya ketika Rauf mendekat dengan wajah yang tampak ge li sah.
"Nis, aku nggak mungkin tarawih pakai baju koko bapakmu terus. Sempit di ketiak," keluh Rauf sambil menarik-narik lengan kemejanya yang memang terlihat agak ter sik sa membungkus otot lengannya.
Nisa mendongak, menatap suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala. Benar juga, Rauf terlihat seperti raksasa yang di pak sa masuk ke baju kurung. "Ya terus mau gimana? Aku belum sempat ke pasar."
"Kita ke mall di kota saja. Naik motor kamu. Sekalian aku mau belikan baju buat bapak, ibu, sama adikmu. Anggap saja hadiah perkenalan dariku," ujar Rauf santai.
Nisa melongo. "Ke mall Mojokerto? Naik Scoopy? Kamu yakin?"
"Yakin. Kenapa tidak?"
Maka, di sinilah mereka sekarang. Di atas Scoopy merah milik Nisa, mem be lah jalanan Dawarblandong menuju arah kota Mojokerto. Rauf yang menyetir. Ini adalah pengalaman pertama dalam sepuluh tahun terakhir Rauf memegang stang motor. Biasanya, dia duduk di kursi belakang mobil mewah dengan peredam suara yang kedap, menatap macetnya Surabaya dari balik kaca gelap sambil sibuk dengan tabletnya.
Sekarang? Angin sore menerpa wajahnya. Bau sawah, bau asap knalpot, hingga bau parfum melati dari mukena yang dibawa Nisa di dalam tasnya, semuanya terasa begitu ... nyata.
"Mas! Pelan-pelan nyetirnya! Ini motor, bukan pesawat!" te ri ak Nisa sambil mencengkeram jaket jeans Rauf.
Rauf tertawa. Tawanya lepas, sesuatu yang jarang sekali dia lakukan di kantor. "Ini seru, Nis! Aku baru tahu naik motor sore-sore bisa seenak ini!"
"Seru apanya? Panas tau!" b a l a s Nisa, tapi diam-diam dia menyandarkan kepalanya sedikit di pungg gung tegap Rauf. pungg gung badut ini nyaman juga, batinnya.
Sesampainya di sebuah mall di Mojokerto, Rauf langsung menuju departemen p a k a i a n pria. Nisa awalnya ingin mengajak ke toko baju murah di pinggir jalan, tapi Rauf bersikeras masuk ke mall.
"Mas, di sini mahal-mahal! Uangmu cukup?" bisik Nisa panik saat melihat label h a r g a di sebuah baju koko premium.
"Cukup. Temanku yang ternak ayam itu kemarin baru kirim 'bonus' karena ayamnya ludes seribu box," b o h o n g Rauf dengan lancar.
Rauf mulai memilihkan baju. Dia tidak melihat label h a r g a, dia melihat bahan. Insting Dirut-nya yang biasa memakai kain kualitas ekspor bekerja. Dia memilihkan baju koko bahan katun Mesir untuk Pak Minan, gamis syar'i untuk Bu Juleha, dan kemeja keren untuk adik Nisa.
"Dan ini untukmu," Rauf menyodorkan sebuah mukena sutra dengan bordir halus yang harganya bikin Nisa menelan ludah.
"Mas! Ini harganya satu juta lebih! Kamu g i l a ya?!"
"Ssst. Ini Ramadan pertama kita. Aku ingin kamu cantik pas tarawih nanti," ujar Rauf pelan, menatap mata Nisa dengan intensitas yang bikin Nisa menda dak bi su.
Rauf membayar semuanya di kasir. Tidak pakai kartu kredit, dia mengeluarkan segepok u a n g tunai dari dompetnya—u a n g yang sudah disiapkan Yuda di bagasi motor tadi subuh. Kasir mall itu bahkan sampai berkali-kali melirik Rauf, heran melihat pria tampan berpakaian santai tapi bayar tunai jutaan rupiah tanpa menawar.
Malamnya, Masjid Al-Ikhlas Dusun Pucuk penuh sesak. Pak Minan keluar r u m a h dengan da da membusung, mengenakan baju koko baru pemberian menantunya yang kainnya terasa sangat dingin di kulit. Nisa juga tampak anggun dengan mukena barunya.
Namun, drama dimulai saat pengurus masjid mengumumkan bahwa Imam tetap sedang sakit.
"Mas Abdul! Ayo maju!" desak Pak RT yang sudah terlanjur mengagumi wibawa Rauf sejak acara ayam krispy kemarin.
Rauf menarik n a p a s panjang. Dia maju ke depan mihrab. Saat dia mengucapkan takbiratul ihram, suaranya yang berat bergema merdu, membuat jamaah yang tadi sibuk berbisik langsung diam seribu bahasa.
"Alhamdulillahi rabbil 'alamin..."
Bacaan Rauf bukan sekadar hafal, tapi tartil. Iramanya mirip Imam-Imam besar di Madinah yang biasa didengarkan Nisa lewat YouTube. Suaranya mengisi setiap sudut masjid, membawa ketenangan yang luar biasa.
Di shaf perempuan, Nisa terpaku. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Ada getaran aneh di da danya. Dia merasa... dilindungi. Bukan oleh u a n g sejuta atau ayam seribu box, tapi oleh suara pria itu yang seolah sedang berdialog langsung dengan Tuhan.
Mas Abdul ... badut jenis apa kamu ini sebenarnya? Kenapa makin hari rahasiamu makin berat?
Selesai tarawih, Rauf kembali jadi bintang. Warga mengerubunginya. Pak Minan tertawa bangga, merasa investasinya me mu ngut menantu di bypass adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Saat berjalan pulang, Rauf kembali tertinggal beberapa langkah di belakang Nisa. Dia merogoh saku baju koko barunya, mengeluarkan HP. Ada pesan dari Yuda, ia hanya membaca sekilas.
Rauf menyimpan HP-nya saat Nisa menoleh. Di bawah sinar lampu jalan, Nisa tampak sangat cantik dengan mukena sutranya.
"Mas, kok senyum-senyum sendiri? Kesambet se tan masjid ya?" tanya Nisa c u r i g a.
"Nggak, Nis. Cuma lagi mikir ... ternyata jadi orang 'biasa' itu jauh lebih mewah daripada hidup penuh beban," jawab Rauf filosofis.
"Apa kamu bilang mas, Penuh beban..

Comments
Post a Comment