Jangan ajari aku selingkuh
"Mau sampai kapan kamu membiarkan ra himmu kosong, Mira?"
Suara berat itu menghentak meja makan. Prasetyo, ayah mertuaku, meletakkan cangkir tehnya.
Klang!
Bunyi porselen beradu kaca. Angkuh. Tepat di depan mukaku.
"Kami sudah menikah dua tahun, Pak. Kami masih berusaha," jawabku lirih. Jemariku mere mas ujung baju. Gemetar.
Mertuaku mende ngus. Telunjuknya mengetuk meja kayu jati berkali-kali. Ketukan yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Dua tahun itu lama bagi keluarga bupati! Saya tidak butuh alasan," po tongnya tajam. Tatapannya sedingin es. "Mulai besok, hentikan pekerjaanmu di rumah sa kit. Lepas jas bidanmu."
Duniaku run tuh. "Tapi, Pak... menolong persalinan itu jiwa saya. Mas Dimas juga tahu…"
"Dimas itu dokter spesialis obsgyn!" Prasetyo memo tong tanpa ampun. "Dia mengobati ra him orang lain setiap hari. Sementara ra him istrinya sendiri gersang. Kamu tidak malu?"
Gersang. Satu kata yang menem bus ulu hati. Menghan curkan harga diriku sebagai wanita.
Aku menoleh ke arah Dimas. Suamiku. Pria yang dulu berjanji akan mendukung karierku.
Kini, dia hanya menunduk. Sibuk mengaduk supnya yang sudah mendingin. Mem bi su. Mengabaikan mataku yang mulai basah.
"Kamu menikah dengan a nak tunggal pejabat, Mira," lanjut mertuaku. Suaranya merendah, namun penuh tekanan yang mence kik. "Garis keturunan kami butuh penerus. Tugasmu di rumah ini cuma satu: hamil. Bukan kelayaban dinas malam."
Kelayaban? Aku bekerja menyelamatkan nya wa ibu dan bayi! Tapi di rumah ini, nilai diriku hanya sebatas mesin pencetak a nak.
Di depan publik, mertuaku adalah bupati yang bersih dan berintegritas. Di dalam rumah ini, dia adalah diktator yang tidak boleh dibantah.
"Mas..." aku berbi sik, menyen tuh lengan Dimas. Berharap setitik pembelaan.
Dimas menghela na pas berat. Dia meletakkan sendoknya, lalu menepis pelan tanganku. Dia menatapku. Bukan dengan tatapan bersalah, tapi tatapan terganggu.
"Ikuti saja kata Bapak, Mir. Jangan ke ras kepala," ucap Dimas tenang. Terlalu tenang untuk ukuran suami yang istrinya sedang diin jak-in jak.
"Mas, tapi karierku..."
"Ga ji mu sebagai bidan tidak seberapa, Mira. Tidak usah idealis," po tong Dimas dingin. "Aku juga mau kita cepat punya a nak. Kamu di rumah saja. Urus ra himmu, biar aku yang cari naf kah."
Urus ra himmu.
Kalimat itu keluar dari mul ut suamiku sendiri. Seorang dokter obsgyn yang tahu betul bahwa a nak adalah rezeki Tuhan, bukan perkara mesin yang bisa dipak sa. Ternyata ego dan nama besar keluarganya jauh lebih penting daripada perasaanku.
Run tuh sudah pertahananku. Di meja makan ini, aku dikepung dua pria egois. Suamiku sendiri ikut menekan, menu suk dari belakang dengan kata-katanya yang santun tapi mema tikan.
Aku hanya bisa menelan lud ah yang terasa menyumbat tenggo rokan. Mengangguk pasrah dengan hati yang han cur.
Bersambung...

Comments
Post a Comment