Madu yg pahit
“Aris, Papa mau pulang dulu. Papa lelah sekali baru sampai dari luar kota langsung ke sini,” ucap Rayan sambil merapikan jasnya yang sedikit ku-sut. Mata menatap ta-jam ke arah sang putra.
"Ingat pesan Papa, jangan ting-gal-kan Rena sedetik pun sebelum dia sadar. Mengerti?" Pe-rin-tah-nya tak butuh penolakan.
Aroma karbol yang taj-am me-nu-suk indra pen-ciu-man Aris. Pria itu duduk di kursi plastik di samping ka-sur ru-mah sa-kit dengan wa-jah ditekuk se-ri-bu.
Ma-ta-nya terus melirik ke arah jam dinding, menghitung setiap detik yang terasa seperti memesannya. Di atas ka-sur, Rena masih terba-ring lem-ah dengan selang in-fus menan-cap di punggung tangannya yang ku-rus.
"Iya, Pah. Aris mengerti," jawab Aris dengan nada ma-las tanpa menoleh.
"Papa harap kamu punya sedikit empati, Aris. Dia istri mu," tambah Rayan dengan suara berat, mencoba mengingatkan a-nak-nya akan bermartabat sebagai seorang pria.
Ratna, yang berdiri di samping Rayan, memutar bola matanya jengah. "Ayo sih, Pah. Nanti Papa malah tambah le-lah kalau kelamaan di sini. Biar Aris yang urus. Dia sudah besar."
"Aku tidak bicara padamu, Ratna," sahut Rayan dingin. Ia menghela na-pas panjang, menatap waj-ah pu-cat Rena sekali lagi dengan tata-pan yang sulit di artikan, lalu melangkah ke-lu-ar diikuti oleh Ratna yang masih terus mengomel pelan.
Begitu pintu ka-mar ra-wat tertutup rapat, Aris langsung memancarkan ka-sar. Ia bangkit dari duduknya dan menatap Rena dengan memutarinya.
"Gara-gara kamu, aku jadi kena mar-ah Papa. Da-sar perempuan kam-pung, bisanya hanya me-nyu-sah-kan saja!"
Aris memperhatikan wa-jah Rena yang tanpa riasan. Bi-bir-nya pe-cah-pe-cah, ku-lit-nya ku-sam, dan rambut yang be-ran-tak-an karena keringat.
"Lihat dirimu, Rena. Je-lek sekali. Tidak ada menarik-menariknya sama sekali. Pantas saja aku tidak pernah betah me-nyen-tuh mu," ci-bir Aris dengan suara rendah yang penuh peng-hi-naan.
Ponsel Aris ber-ge-tar. Sebuah panggilan video masuk dari Dina. Aris segera menjawabnya dengan wa-jah yang tiba-tiba cerah.
"Sa-yang, kamu di mana? Kok lama sekali?" tanya Dina di seberang sana dengan nada man-ja yang dibuat-buat.
"Aku ter-je-bak di ru-mah sa-kit, Dina. Papa me-mak-sa ku menemani si be-ban ini," keluh Aris sambil mengarahkan sekilas kamera ponselnya ke arah Rena yang masih me-me-jam-kan mata.
"Hiih, se-ram sekali wa-jah-nya. Seperti ma-yat hidup," e-jek Dina sambil tertawa renyah. "Aku tidak mau tahu, Mas. Aku sudah berada di parkiran ru-mah sa-kit sekarang. Aku ke atas ya?"
"Jangan, Sa-yang! Nanti kalau Papa balik lagi bagaimana?" cegah Aris pa-nik.
"Papa kamu kan sudah pulang tadi, aku lihat mobilnya ke-lu-ar. Sudah ya, aku naik!" Dina mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Aris meng-u-sap wa-jah-nya dengan ka-sar, namun ada binar kegembiraan di matanya. Ia menata rambutnya di depan cermin kecil ka-mar man-di ru-mah sa-kit.
Tak butuh waktu lama, pintu ka-mar ter-bu-ka perlahan. Dina masuk dengan gaun mini berwarna biru elektrik yang sangat kontras dengan suasana ru-mah sa-kit.
Wangi parfum ma-hal-nya langsung memenuhi ruangan, mengalahkan aroma o-bat-o-bat-an.
"Mas Aris!" seru Dina sambil berlari kecil dan langsung menghambur ke pe-luk-an Aris.
"Sstt … pelan-pelan, Dina. Nanti ada suster yang dengar," bi-sik Aris sambil mem-ba-las pe-lu-kan wanita itu dengan e-rat, seolah-olah ia baru saja menemukan oasis di tengah padang pasir.
"Habisnya aku ka-ngen, Mas. Masa kamu lebih pilih menemani perempuan ku-sam ini dari pada aku?" rengek Dina sambil melirik si-nis ke arah ka-sur Rena.
"Jangan bahas dia, Sa-yang. Kamu tahu sendiri aku di sini ter-pak-sa," ucap Aris sambil menge-cup kening Dina dengan me-sra.
Dina mengalungkan lengan di le-her Aris, menarik wa-jah pria itu mendekat. "Buktikan kalau kamu benar-benar ka-ngen padaku," tan-tang Dina dengan meyakinkan.
Tanpa mem-per-du-li-kan keberadaan Rena yang terba-ring hanya beberapa jengkal dari mereka, Aris menyambar bi-bir Dina. Mereka ber-ciu-man dengan penuh naf-su di dalam ka-mar ra-wat yang hening itu.
Suara deca-pan dan na-pas yang mem-bu-ru terdengar me-nji-jik-kan di tengah kondisi Rena yang sedang berjuang antara hidup dan ma-ti.
Namun, di tengah ke-me-sra-an yang ko-tor itu, jemari Rena bergerak sedikit. Mata yang terasa berat mulai ter-bu-ka perlahan. Efek obat bius dan demam membuatnya terasa pening, namun suara-suara di sekitarnya terdengar sangat nyata.
Rena mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menjernihkan pandangan yang masih buram.
Hal pertama yang ia lihat adalah punggung suaminya, Aris. Namun, Aris tidak sendirian. Ada seorang wanita berambut panjang yang sedang di pe-luk-nya e-rat.
Deg!
Jan-tung Rena seakan berhenti berdetak saat melihat suaminya sedang melu mat bi bir wanita lain tepat di depan matanya.
Wanita itu adalah wanita yang sama yang ia lihat di depan Ho-tel XX kemarin.
"Mas ... Aris … " bi-sik Rena dalam ha-ti. Suaranya tidak bisa ke-lu-ar, tertahan oleh rasa se-sak yang lu-ar biasa di da-da.
Dina, yang sedang ber-ciu-man, sengaja mem-bu-ka sedikit matanya dan melirik ke arah ka-sur. Ia melihat mata Rena ter-bu-ka dan me-na-tap mereka dengan mem-bu-ka mata kosong yang penuh.
Alih-alih merasa ma-lu atau ta-kut, Dina justru tersenyum me-nge-jek di sela menci-umnya. Ia semakin mendekatkan tu-buh-nya pada Aris, seolah ingin menunjukkan pada Rena bahwa Aris adalah miliknya sekarang.
Rena merasa dunianya benar-benar run-tuh. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi bantal yang ia tempati. Ha-ti-nya yang kemarin masih mencoba menyangkal, kini han-cur berkeping-keping tanpa si-sa.
Peng-khia-nat-an itu terjadi begitu te-lan-jang di depannya, di saat ia sedang dalam kondisi paling le-mah.
“Sa-kit … Mas … sa-kit sekali … ” rin-tih Rena dalam ha-ti, sementara suaminya terus teng-ge-lam dalam gai-rah bersama wa-ni-ta lain tanpa sedikit pun rasa ber-sa-lah.
Bersambung...

Comments
Post a Comment