Pisah kartu keluarga

 Pisah Kartu Keluarga 


Tidak ada alas tidur yang layak untuk Cisa di ruangan itu. Selama ini dia pikir, masih ada satu ruangan tersisa untuk adiknya bisa tidur nyaman.


Erga memang selalu fokus pada kuliahnya. Dia ingin cepat lulus, mencari kerja agar bisa membantu keuangan Ayahnya. Apalagi toko mulai sepi sejak maraknya yang jualan online.


"Cisa apa gak bilang sama Ayah kalo dia gak kebagian kamar? Ayah 'kan bisa bikin bangunan baru di lantai dua."


Bi Surti tetap diam. Dia ingin bilang kalau Bu Sari mengancam Cisa kalau mengadu pada Ayahnya, akan dibuat jauh lebih dibenci oleh semua anggota keluarga.


"Ayah punya banyak tabungan. Bangun satu kamar aja, pasti bisa."


Tangan Erga mengusap kening. Dia agak menyesal juga tidak tahu tentang keadaan adiknya itu.


"AYAH! AYAH!" Erga memanggil ayahnnya.


Suaranya membuat seisi rumah terbangun lalu keluar. Ayah merapikan sarungnya. Dia sempatkan mencuci muka dulu sebelum menghampiri Erga di ruang tengah.


"Ngapain kamu berisik? Kasian Adik sama kakak kamu lagi tidur," tegur Ayah.


"Ayah sini, aku mau ngomong sesuatu soal Cisa." Dia menarik lengan Ayahnya untuk duduk di sofa ruang tengah.


Wajahnya terlihat cemas. Namun, Bu Sari jauh lebih penasaran. Dia sempat melirik Surti. Pelayan itu mundur dan langsung masuk ke dapur.


Dinda sama waspadanya. Sepertinya mereka sama-sama merasa Surti sudah mengatakan sesuatu ke Erga.


Mata Erga sempat melirik Dinda. Biasanya tatapan itu hangat, tapi entah kenapa kali ini begitu datar.


Mereka bukannya tidak mau menyuruh Cisa sekamar lagi dengan Dinda. Hanya saja selama sekamar dengan Cisa, Dinda selalu murung. Hingga Qila menemukan lebam di lengannya karena dipukul Cisa.


Hal itu terus terulang meski sudah coba memaksa Cisa untuk menerima Dinda dan berbagi layaknya saudara.


Erga paham Ayahnya ingin melindungi Dinda. Namun, dia tidak menyangka kalau Ayah lupa tidak menyediakan ruangan layak untuk Cisa.


"Ayah, tahu selama ini Cisa tidur di mana?"


Ayah menatap Bu Sari. "Enggak. Semua 'kan sudah diatur Ibumu. Lagian Ayah tanya sendiri sama dia, apa sudah dapat kamar. Katanya udah."


Erga mengusap wajahnya. "Ayah gak tanya di mana?"


Bu Sari memainkan jarinya. Dia harus cepat membuat alasan.


"Kamu kayak gak tahu aja adik kamu gimana. Dia kalau Ayah ajak bicara malah marah-marah. Ayah jadi kesal dibikinnya. Daripada tensi Ayah naik, mending Ayah gak usah tanya."


Kaki Erga bergerak-gerak tidak karuan.


"Sore-sore gini kamu malah bikin ribut cuman buat ngomongin anak nakal itu." Qila pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Gara-gara Erga ganggu tidurnya, dia jadi merasa pusing.


"Cisa tidur di gudang, Yah. Tempat Ayah buang barang gak kepake sebelum dijual ke tukang loak," ungkap Erga.


Kali ini Ayah yang terkejut. Dia bingung harus berkomentar apa. Seingatnya dia memang sempat melihat Cisa keluar dari sana.


Awalnya dia pikir, Cisa hanya mencari-cari barang untuk dia jual. Kata Bu Sari, Cisa suka buang uang untuk main game.


"Bu, benar Cisa tinggal di sana?" Ayah memastikan pada istrinya karena selama ini dia menghabiskan waktu di toko. Tentu tidak bisa mengurus semua hal di rumah yang memang menjadi tanggung jawab Bu Sari.


Terpaksa kali ini Bu Sari melakukan siasat yang sama. "Ayah, Erga. Bukan maksudnya Ibu menempatkan Cisa dengan gak layak."


"Semua itu karena selama ini Cisa…."


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit