Setelah menghadiri reuni SMA, suamiku terpi kat pada temannya yang j a n d a. Dan berniat menjual rumah yang selama ini kurenovasi dan kupercantik dengan u4ng hasil jerih payahku. Yang bikin s a k i t, seluruh u4ng hasil penjualan rumah itu akan diberikan untuk calon istrinya.
Baiklah, jangan salahkan aku. Rumah itu akan kukembalikan lagi seperti saat pertama kali kamu membelinya.
Part 17
Seminggu kemudian, Mahendra akhirnya datang ke rumah ibunya. Di tangannya ada sebuah kantong plastik berisi ob4t, svsu, dan beberapa buah.
Ia memarkir motornya di halaman. Suara mesin motor membuat Bu Wati yang sedang menyiram tanaman menoleh.
"Hendra?"
"Iya, Bu."
Bu Wati tampak heran. "Lho ... mobilmu mana?"
Mahendra tersenyum hambar. "Sudah diju4l, Bu."
"Kenapa diju4l?"
Mahendra menyerahkan kantong belanjaannya.
Bu Wati menerimanya sambil masih menatap wajah putranya. "Kamu belum jawab pertanyaan Ibu."
Mahendra menghela napas panjang.
"Mobilnya saya ju4l. Uangnya dipakai buat bi4ya sekolah an4k-an4k Lavina."
Bu Wati terdiam.
"Yang besar masuk SMA. Yang kecil masuk SD. Bi4yanya banyak."
Bu Wati hanya mengvsap d4danya pelan.
"Ya Allah ..."
Mahendra memaksakan senyum.
"Nggak apa-apa, Bu. Nanti kalau rezeki ada lagi, Hendra bisa beli mobil lagi."
Bu Wati mengajak Mahendra masuk ke ruang tamu. Setelah menuangkan segelas teh hangat, beliau kembali menatap putranya.
"Hendra ..."
"Iya, Bu."
"Ibu minta ob4t ini sudah seminggu yang lalu."
Mahendra menundukkan kepala.
"Maaf, Bu. Lagi banyak keperluan."
Bu Wati mengangguk pelan.
"Ibu mengerti."
Beliau terdiam sejenak. Tatapannya jatuh pada ob4t dan kotak svsu yang baru saja dibawa Mahendra.
Dulu ... Saat beliau mengeluh ob4tnya hampir habis, Kirana sering kali datang pada hari itu juga. Kadang tanpa diminta, membawakan ob4t, svsu, buah, bahkan memasakkan makanan kesukaannya.
Kini ... Untuk sekadar mengantarkan ob4t yang dibutuhkan, Mahendra baru bisa datang setelah satu minggu berlalu.
Bu Wati mengembuskan napas panjang.
"Ibu bukan sedang menghitung siapa yang paling baik. Tapi sekarang Ibu jadi benar-benar sadar ..."
"Besarnya pengorbanan Kirana selama menjadi istrimu."
Mahendra terdiam.
"Selama ini Ibu kira semua itu biasa. Ternyata ...tidak semua orang mau melakukan hal seperti itu."
Ucapan sang ibu membuat dada Mahendra terasa sesak.
Bayangan Kirana kembali muncul di benaknya. Perempuan yang dulu hampir tidak pernah mengeluh saat harus mengurus dirinya, ibunya, rumah tangga, bahkan membantu keu4ngan keluarga.
Sementara kini ... Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri, ia harus menjval mobil yang tinggal beberapa bulan lagi lun4s.
Mahendra menundukkan kepala. Entah mengapa, untuk pertama kalinya, penyesalan itu terasa semakin nyata.
*
Hari yang telah dipersiapkan selama berminggu-minggu itu akhirnya tiba. Sejak pukul enam pagi, Ballroom Anggrek Grand Danendra Hotel sudah dipenuhi guru, panitia, dan beberapa siswa yang akan tampil dalam pentas seni.
"Kursi tamu undangan dirapikan dulu."
"An4k-an4k yang tampil pertama silakan bersiap di ruang rias."
"Pastikan anak-anak yang akan mengikuti acara pelepasan, sudah duduk di kursinya masing-masing."
Kirana berjalan ke sana kemari sambil membawa handy talky kecil yang dipinj4m dari pihak hotel.
"Pak Joko, tolong banner di pintu masuk luruskan sedikit."
"Bu Alina, perlengkapan untuk acara pelepasan sudah lengkap semua?"
"Sudah, Bu Kiran."
Kepala sekolah menghampirinya.
"Bu Kiran, terima kasih. Sampai sekarang semuanya berjalan sesuai jadwal."
Kirana tersenyum lega.
"Semoga acaranya lancar sampai selesai, Pak."
Tak jauh dari sana, Pak Bima memperhatikan jalannya acara. Ia kemudian berbicara melalui walkie-talkie.
"Tim banquet, pastikan air minum di meja tamu tidak kosong."
"Baik, Pak."
Di lantai atas, Yudistira baru saja menyelesaikan rapat singkat dengan bagian operasional. Saat hendak kembali ke ruang kerjanya, Pak Bima menghampiri.
"Pak."
"Iya?"
"Hari ini ada Acara pelepasan SD Negeri Tunas Bangsa sudah dimulai dari pagi, Pak."
Yudistira mengangguk.
"Bagaimana persiapannya?"
"Alhamdulillah lancar."
"Bu Kirana dan panitianya sangat rapi mengatur acara."
Yudistira tersenyum tipis. "Ayo kita lihat sebentar."

Comments
Post a Comment