Salah duga
"Jawab pertanyaanku," tekanku. "Sudah berapa lama kalian bermain g i l a di belakangku?"
Vanya membuang muka, enggan menatapku.
"Sejak kapan kamu masuk ke dalam rumah tanggaku dan merusak semuanya?!" tanyaku dengan nada suara yang mulai meninggi.
Tetap diam.
D a d a ku mulai terasa panas. Karena aku merasa seperti sedang berbicara kepada tembok.
"Aku bicara sama kamu, Vanya! Punya nyali merebut suami orang, tapi nggak punya nyali buat mengakuinya?!" sentakku sambil menggebrak meja perlahan.
Vanya mengangkat wajahnya perlahan. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang sulit kuartikan. Bukan menang. Bukan juga menantang.
Justru seperti... bersalah.
Namun saat itu aku terlalu ma ra h untuk memikirkan hal lain.
"Apa diammu ini tanda membenarkan? Terus, apa sekarang kamu mau menangis dan minta maaf?" tanyaku sinis, melipat kedua tangan di atas meja.
Vanya terdiam beberapa detik, mem ba las tatapanku dengan sorot yang perlahan berubah. Lalu, dia menggeleng pelan.
"Tidak," jawabnya tegas. "Aku nggak akan minta maaf."
Aku membeku. Jawaban itu benar-benar di luar dugaanku. Vanya menatapku lurus.
Kalem.
Tanpa berusaha membela diri. Tanpa berusaha menjelaskan apa pun tentang hu bu ngannya dengan Adrian.
"Aku tahu posisi Mbak Naira," ucapnya pelan namun terdengar begitu kokoh. "Jadi, kalau Mbak mau menyalahkanku..." Dia berhenti sebentar, menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "...silakan. Aku terima semua ke ma ra han Mbak."
Aku sampai tertawa. Tawa yang terdengar dingin bahkan di telingaku sendiri.
"Wow," gumamku sambil bertepuk tangan pelan. "Hebat."
Vanya hanya diam.
"Sekarang pe rem pu a n mu ra han memang jauh lebih percaya diri, ya? Berlagak jadi korban yang pasrah di h i n a?" cibirku ta ja m.
Aku bersandar ke kursi. Mencoba mengendalikan a ma rah yang mulai mendidih melihat ketenangannya.
"Tahu nggak?" Aku menatapnya tanpa berkedip. "Kamu mungkin berpikir kamu sudah menang karena ibu mertuaku merestui kalian."
Vanya tidak menjawab, tapi bi b i r nya terkatup rapat.
"Tapi dengarkan aku baik-baik," desisku perlahan.
Sangat perlahan supaya tidak ada satu kata pun yang terlewat olehnya.
"Aku tidak akan pernah melepaskan Adrian."
Untuk pertama kalinya wajah Vanya berubah. Pucat dan tegang. Tipis. Namun aku melihatnya dengan sangat jelas.
"Aku tidak peduli seberapa dekat kalian berdua di belakangku."
Aku tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak mencapai mata.
"Aku tidak peduli seberapa lama hu bu ngan kotor kalian ini berjalan."
Vanya menggigit bi b i r bawahnya, tampak ingin menyanggah namun tertahan. Sedangkan aku terus berbicara tanpa henti.
"Dan aku tidak peduli siapa saja yang mendukungmu, termasuk ibu dan adik iparku." Tanganku terlipat di depan d a d a, menantang nyalinya. "Kalau mereka dan kamu pikir bisa menyingkirkanku dari rumah itu begitu saja, kalian salah besar."
Kafe itu terasa sangat sunyi. Bahkan suara musik yang mengalun pelan nyaris tidak terdengar lagi. Karena seluruh perhatianku hanya tertuju pada pe rem pu an di depanku.
"Kamu tahu apa yang paling lucu dari semua sandiwara ini, Vanya?"
Aku berdiri dari kursi.
Vanya refleks ikut mengangkat kepala, menatapku dari bawah dengan sorot mata yang akhirnya memancarkan kegentaran.
"Kalian semua menganggap aku bo do h," ucapku dingin sambil menatapnya me ren dah kan.
Aku mengambil tas di samping kursi, menyampirkannya ke bahu dengan gerakan elegan.
"Lembut, bukan berarti lemah.” Senyumku semakin tipis. "Sabar bukan berarti bisa diinjak terus-menerus."
Vanya tidak mengatakan apa-apa. Namun aku bisa melihat jemarinya gemetar kecil di atas meja. Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa puas.
Setidaknya sedikit.
Aku melangkah menjauh. Namun sebelum pergi, aku berhenti sebentar. Lalu menoleh ke arahnya. "Kamu tahu kesalahan terbesar kalian?"
Vanya menatapku.
Aku mengangkat alis tipis.
"Kalian memilih berhadapan dengan orang yang salah."
Aku mencondongkan wajahku lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik matanya yang kini memancarkan ketakutan.
"Aku akan mem ba las semua rasa sa kit ini." Suaraku nyaris berbisik, namun terdengar begitu mematikan. "Dengan segala cara yang aku punya. Sampai kalian sadar bahwa meng han cur kanku adalah kesalahan terbesar dalam hidup kalian."
Vanya menahan napas, bahunya sedikit gemetar.
"Dan ingat satu hal ini baik-baik, Vanya..." Aku menyunggingkan senyum miring yang sedingin es. "...aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Sampai kapan pun," bisikku ta ja m tepat di depan wajahnya.
Lalu tanpa menunggu balasannya, aku berbalik.
Melangkah pergi dengan kepala tegak dan hati yang kini sepenuhnya dikuasai oleh satu tujuan pasti.
Pembalasan.

Comments
Post a Comment