Pagi ini, usai melakukan ibadah, Clarissa memilih mengurung dirinya dalam kamar. Sembari menunggu hari beranjak terang, dia memainkan ponselnya yang sudah retak di sana-sini mencari info kontrakan dan lowongan pekerjaan.


Dor dor dor …. Suara gedoran dari pintu mengalihkan perhatian Clarissa. Dengan malas, dia segera bangkit dari posisinya dan membukakan pintu. Dia tahu betul siapa dibalik pintu tersebut.


“Ada apa, Bu?” tanya Clarissa.

“Ada apa katamu? Kamu tahu gak ini sudah jam berapa?” sentak wanita paruh baya tersebut. 


Clarissa melirik jam yang tergantung di dinding sejenak, lalu kembali menatap mertuanya.


“Jam enam, Bu. Memangnya kenapa?” tanya Clarissa.

“Masih tanya kenapa? Sudah jam enam kamu masih enak-enakan di k a m ar, memangnya kamu gak masak? Kami lapar dan butuh makan,” sentak wanita tersebut lagi. 


Clarissa menghembuskan nafas panjang sejenak mengurai sesak yang kembali menyeruak.


“Bu, bukankah Mas Bastian sudah menjatuhkan t a l ak sama aku?  Jadi aku rasa, itu bukan kewajibanku lagi,” sahut Clarissa.


“Enak saja. Selama kamu masih disini, kamu masih punya kewajiban melakukan pekerjaan rumah. Cepat ke belakang!” sentak wanita paruh baya tersebut lagi.


“Maaf, Bu, aku tidak bersedia. Lagipula, aku juga akan pergi,” sahut Clarissa.

“setidaknya bereskan rumah dulu sebelum pergi.” Clarissa tersenyum sinis menanggapi permintaan konyol mertuanya tersebut. Ralat, mantan mertuanya tersebut.


“Silahkan lakukan sendiri, Bu. Bukankah Ibu masih sehat dan segar bugar? Jadi aku rasa ibu masih mampu melakukannya. Kalau tidak sanggup, Ibu bisa minta tolong putri kesayangan ibu itu,” sahut Clarissa santai. 


Dia segera berbalik dan kembali melangkah ke dalam k a m a r. Tak menunggu lebih lama lagi, dia kembali merapikan barangnya, lalu menarik koper meninggalkan k a m a r tersebut.


“Hei, mau kemana kamu?” sentak wanita paruh baya tersebut.

“Kerjakan pekerjaan rumah dulu sebelum pergi!” sentak wanita paruh baya tersebut lagi seraya mengikuti langkah Clarissa.


“Ada apa sih, Bu, pagi-pagi sudah ribut,” tanya Bastian yang baru saja selesai mandi di k a m ar mandi. Semalam dia tidur di luar, jadi dia memutuskan untuk mandi di k a m ar mandi luar sekalian.


“Si Clarissa tuh, tidak mau masak dan beberes rumah,” adu wanita paruh baya tersebut. Bastian melirik sekilas pada mantan istrinya tersebut yang berdiri dengan santai tidak jauh dari posisinya.


“Kamu pergi sekarang?” tanya Bastian.

“Iya, dari pada disini dijadikan babu, lebih baik aku segera pergi,” sahut Clarissa santai.


“Eh, tidak bisa.”

“Biarkan saja, Bu,” sahut Bastian.

“Tapi, Bas ….”Mantan mertua Clarissa merasa tidak rela membiarkan wanita tersebut pergi begitu saja.


 “BU, sudah seharusnya dia segera pergi. Aku tidak mau Fely melihat dia disini. Dia bisa cemburu, Bu. Masalah pekerjaan, nanti akan aku carikan asisten rumah tangga dari yayasan,” sahut Bastian berusaha memberikan pengertian.


“Beneran ya? Awas kalau bohong. Ibu tidak sanggup kalau harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.”

“Iya, Bu.”


“Ya sudah,  cepat sana pergi, biar jadi g e m b ell sekalian. Pengang guran saja belagu,” sahut mantan mertuanya dengan sewot.


“Aku antar ke p a n t i!” ujar Bastian. Meskipun sudah tidak mencintainya, namun salah sudut hatinya tidak tega membiarkan wanita yang pernah singgah di hatinya tersebut pergi seorang diri.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” sahut Clarissa. Usai mengatakan hal itu, Clarissa segera beranjak dan meninggalkan tempat tersebut.


“Eh …tunggu dulu!” Baru saja dia berjalan dua langkah, mantan mertuanya sudah menghentikannya kembali. Dengan malas, Clarissa kembali berbalik dan menatap mantan mertuanya tersebut.


“Ada apa lagi, Bu?” tanya Clarissa dengan tidak sabar. 


“Sinikan kopermu. Ibu harus periksa dulu. Jangan sampai kamu men c u r i barang berharga dari rumah ini,” ujar wanita paruh baya tersebut seraya menarik paksa koper Clarissa. Dengan sekali hentak, dia membuka koper tersebut dan mengeluarkan seluruh isinya.


“Ibu!” ujar Clarissa tidak terima karena barangnya diacak-acak. Setelah puas mengacak-acak isi koper Clarissa, wanita paruh baya tersebut pun kembali berdiri tanpa merasa bersalah. Sementara itu, Clarissa menatap isi kopernya dengan nanar. 


“Cepat rapikan barangmu dan segera pergi dari sini,” ujar wanita paruh baya tersebut tanpa merasa bersalah. Clarissa menghembuskan nafas kasar sejenak sebelum akhirnya memasukkan barang-barangnya dengan asal. 


Setelah selesai, tak menunggu lama, dia segera meninggalkan rumah tersebut. Dia sudah mengantisipasi kejadian ini. Jadi, uang dan perhiasan miliknya diletakkan di tempat yang tersembunyi sehingga tidak dapat ditemukan oleh mantan mertuanya tersebut. Jika tidak, bisa dipastikan dia akan meninggalkan rumah tersebut tanpa u wang sepe ser pun.

****


Clarissa berjalan dengan gontai. Sudah hampir tiga jam dia melangkahkan kakinya, namun dia belum bisa menemukan rumah kontrakan yang pas. 


U wang tabungannya tidak seberapa. Perhi asan yang dibawanya pun nilainya juga tidak besar, hanya cukup untuk mencari kontrakan sederhana dan biaya hidup dua bulan ke depan. Dia harus berhemat sebelum bisa menemukan pekerjaan.


Clarissa menatap sekelilingnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah warung makan yang berada tidak jauh dari posisinya. 


Akhirnya dia memutuskan beristirahat sejenak. Lagipula, sejak pagi perutnya belum terisi apapun.


"Bu, pesan nasi campur satu dan teh hangatnya juga satu ya," ujar Clarissa.


"Iya, Neng, tunggu sebentar ya!" sahut sang penjual. Sembari menunggu pesanannya datang, Clarissa kembali meraih ponselnya dan mencari informasi rumah kontrakan.


Selang tak berapa lama kemudian, makannya sudah datang. Setelah menyelesaikan makannya, Clarissa kembali fokus pada ponsel di tangannya. Tanpa dia sadari, sang penjual mengamatinya sejak tadi.

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit