Acara


 Tepat di acara kunjungan pejabat tinggi mili ter, istriku malah bersikap di luar nalar dan membuatku ma lu di depan seluruh anggotaku. Dia berkata .... 


(CUPLIKAN 14) 


14 tahun yang lalu ….


Mahra duduk di teras rumah kon trakan mereka yang sempit. Di tangannya, amplop cokelat berisi pengumuman kelulusan SMA yang sudah beberapa kali ia buka-tutup sejak pagi. Angin sore berembus pelan, membawa suara batuk dari dalam rumah.


“Bu …,” panggil Mahra sambil berdiri cepat.


Ia masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya yang bernama Magdalena terbaring di kasur tipis, napasnya tersengal. Adiknya, Meida, duduk di lantai sambil mengipas-ngipas.


“Ibu nggak apa-apa, Ra,” ucap sang ibu lirih. “Cuma capek.”


Mahra berjongkok di samping kasur. “Ibu jangan bo hong. Batuknya makin pa rah.”


Bu Lena tersenyum tipis. “Ibu kuat.”


Kalimat itu justru membuat da da Mahra se sak.


Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu terdengar. Mahra bang kit dan membukanya. Seorang perempuan berpenampilan rapi berdiri di hadapannya. Rambutnya pendeknya tergerai. Kacamata hitam membingkai ma ta.


“Mahra?” tanyanya.


“I-iya, saya sendiri,” jawab Mahra ragu.


“Saya Candrika,” katanya sambil tersenyum tipis. “Boleh bicara sebentar?”


“Bo-boleh. Silakan masuk!”


“Ah, jangan di sini!” tolak Candrika. “Kita cari tempat lain saja.”


Mahra menoleh ke dalam rumah. Ia berpikir sejenak. Lalu, mengangguk. Mahra tahu jika wanita bernama Candrika ini pasti merasa tak nyaman berada di rumah kecil itu.


“Baiklah.”


Setelah berpamitan pada ibu dan adiknya, Mahra pergi bersama Candrika mencari tempat untuk berbicara empat ma ta. Taman sepi di ujung jalan menjadi pilihan.


Wanita bernama Candrika itu duduk di bangku kayu bersama Mahra. Ma tanya menyapu sekeliling. Kemudian, menatap Mahra lekat.


“Kamu baru lulus SMA, ya?” tanya wanita itu langsung.


“Iya,” jawab Mahra. “Kenapa memangnya, Bu?”


Bukannya langsung menjawab, Candrika malah terkekeh. “Ayolah, jangan panggil Bu! Aku gak setua itu. Panggil Mbak aja.”


“I-iya. Baiklah, Mbak.”


“Nah, gitu dong! Kan, lebih enak didengar. Lagian, usia kita juga gak beda jauh. Cuma beda sekitar 10 tahunan aja kayaknya.” Candrika membuka tasnya dan mengeluarkan map tipis. “Saya dengar kamu punya nilai bagus. Cita-cita kamu juga besar.”


Mahra tersenyum pahit. “Cita-cita doang nggak cukup kalau nggak ada bia ya.”


Candrika kembali menatap Mahra. “Kamu mau jadi dokter?”


Mahra terkejut. “Mbak, tahu dari mana?”


“Gak penting aku tahu dari mana. Yang jelas, aku selalu punya cara untuk tahu,” jawab Candrika tenang. “Hmmm … ngomong-ngomong, aku juga tahu kondisi keluargamu. Ayahmu seorang tenta ra. Gu gur saat bertugas karena virus me ma tikan dan ibumu … ibumu sekarang sakit-sakitan.”


Mahra langsung mene gang. “Maksud Mbak apa?”


Candrika menarik napas. “Okay. Aku gak akan bertele-tele. Aku datang membawa tawaran.”


“Tawaran?” ulang Mahra waspada.


“Kuliah kedokteran di luar negeri,” ujar Candrika. Pelan, tapi jelas. “Bia ya penuh. Hi dup kamu ditanggung.”


Mata Mahra membesar. “Itu … nggak mungkin.”


“Belum selesai,” lanjut Candrika. “Selama kamu di luar negeri, bia ya pengobatan dan kehidupan ibumu serta adikmu juga akan kami tanggung.”


Mahra berdiri seketika. “Mbak, jangan bercanda!”


Candrika menatapnya lurus. “Aku gak bercanda.”


Mahra membeku. Bayangan ibunya yang sakit-sakitan karena terlalu lelah berjuang menghidupi dua an ak seorang diri berputar-putar di kepa la. Akan tetapi, Mahra tahu betul jika penawaran menggi urkan dari wanita di hadapannya ini tidak cuma-cuma. Pasti ada udang di balik batu. Ada timbal balik yang harus dia beri.


“Syaratnya apa?”


Mendengar pertanyaan Mahra, senyum tipis tersungging di bi bir Candrika. Rupanya ga dis di hadapannya ini sudah nyambung dengan maksud dan tujuannya.


“Kamu memang cerdas, Mahra.” Candrika tertawa kecil. “Oke. Aku kasih tahu. Sebagai gantinya, kamu hanya perlu melakukan satu hal, Mahra. Satu hal!”


Mahra menelan ludah. Angka satu memang sedikit, tapi satu hal ini pasti akan sangat berat.


“Apa itu?”


Candrika mencondongkan tu buh nya sedikit. “Menjadi ibu penggan ti.”


Dunia Mahra seolah berhenti.


“Ibu … maksudnya apa?” suara Mahra bergetar.


“Surogasi,” jawab Candrika tenang. “Kamu akan mengan dung an ak dari pasangan lain.”


“Itu … itu nggak mungkin.” Mahra mundur selangkah. “Itu salah.”


“Secara hu kum di negara ini, iya. Ini ile gal,” kata Candrika jujur dan penuh penekanan nada bicara. “Karena itu kamu akan dibawa ke luar negeri.”


Mahra terduduk. Tangannya me re mas kuat punggung bangku. Da da nya naik turun. “Aku nggak tahu siapa orangnya. Aku nggak mau.”


Pikiran Mahra berkecamuk. Bagaimana mungkin dia dijadikan ibu penggan ti bagi pasangan yang sudah menikah, sedangkan dirinya saja masih pera wan?


“Kamu gak perlu tahu,” ujar Candrika. “Identitas mereka dilindungi. Kamu gak akan bertemu mereka. Hanya dokter dan kon trak.”


“Kenapa mereka gak berusaha sendiri?”


“Ayolah, Mahra! Mereka ada masalah pada reproduksi.”


Napas Mahra kian mem bu ru. “Tapi aku masih pe ra wan.”


“Ya, aku tahu. Tapi kamu butuh ua ng.” Candrika mendekatkan wa jahnya ke teli nga Mahra dan berbisik, “Bayangkan wajah ibumu yang kelelahan hingga sakit-sakitan karena mencari ua ng. Bayangkan juga wa jah adikmu. Bagaimana kalau dia sampai pu tus sekolah di tengah jalan. Bayangkan ….”


Napas Mahra makin tak beraturan. Terjadi pergula tan se ngit dalam batinnya.


Candrika bang kit dari duduk. “Baiklah. Aku beri kamu waktu tiga hari. Pikirkan matang-matang!”


Kaki Candrika baru melangkah, tapi ….


“Tunggu, Mbak!


Langkah Candrika tertahan.


“Aku terima,” ucap Mahra dengan suara ge me tar, tapi mantap.


Bersambung 

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit