(27) Teganya ibu tiriku menjv4lku pada Dok ter mesvm di rumah sakit nenek dir4w4t, dengan harga 2M dia berbelanja sampai pvas dan aku dis4ntap Do kter mesvm, beruntungnya ada Cakra, tapi setelah itu Cakra dan Dokter itu terus bersitegang sampai akhirnya ....



|| SPOILER BAB PREMIUM 17 ||•


Tiarra berh3mbvs menatap langit dengan lelah. Layaknya r4ut wajah yang terlihat begitu pen at. "Bu Marisa menghabiskan v4ng cic ila n untuk b!ay4 Nenek, aku ..., harus membay_arnya, kalau enggak, aku harus me ni kah dengannya," urai gadis itu, lem'ah.


Diam-diam pemuda itu m3r3mas botol air mineral yang telah habis di tangannya. "Mereka bener-bener bukan m4nu5ia," decaknya, ge ram.


"U4ng untuk peng0bat4n ibu dari su4minya sendiri, dihabiskan tanpa rasa bel as kas ih an sama sekali?! Ck," sambung Cakra mende_ngkus di akhir.


"Intinya ..., mereka ingin men gus irku dari rumah dan mereka ingin mendapatkan kevntvng4n atas kepe'rg'ianku," katanya menu_nduk, termangu.


Cakra menoleh sejenak, dia pandangi bahu rap uh Tiarra. "Pergi dari sana Tiarra, tinggal bersamaku, walau aku memang hanya punya galeri, tapi aku bisa me mb eli rumah untukmu jika diperlukan," tukas Cakra dengan lant ang.


Pernyataan itu terdengar amb!gv di telinga Tiarra, gadis itu langsung terkejut mendengarnya. Bukan hanya tu buhnya yang g3m3t4ran, de tak jan'tvng dan den yut na_dinya ikut mem bun cah.


Matanya m3mb3lal4k, saat Tiarra menoleh pada Cakra. Pria bertub uh tinggi itu masih menatap Tiarra dengan intens. "Maksudmu?" tanyanya, polos.


"M3nik4h denganku," katanya, penuh keyakinan.


Tiarra m3mbvlat, kaget. "Hah?! Ka-ka—"


"Enggak, maksudku," elak Cakra, meluruskan beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangan Tiarra, "Kita tidak bisa tinggal bersama jika tidak ada ika tan, maka p3rnik4han adalah jalannya," tambahnya.


"Jadi ..., maksudmu, p3rnik4han ini hanya sebagai syarat agar kita tidak di-judge, dan untuk men yela matka nku dari mereka?" tanya gadis itu, tatapannya bersinar, tersa_njung.


"Aku hanya gak re la kamu terus-terusan d i s i k s a oleh mereka, dan ayah kamu, selalu memaklumi semua perbuatan mereka," pungkas Cakra.


Perlahan pria itu b4ngk!t dari sisi Tiarra yang terduduk di tangga, langkahnya melaju ke sebuah t0ng s4mp ah yang ada di sebelah kiri. "Aku tidak akan mem4ks4mu men_ikah denganku untuk menjadi istri sesungguhnya, kamu bisa melakukan apapun tanpa ada campur tangan mereka."


"Kenapa kamu begitu ped uli denganku, kenapa kamu tidak memikirkan masalahmu dengan keluargamu, aku ..., sepertinya selalu menyvsahk4nmu, Cakra," urai gadis itu merasa tidak pant as dicintai seh3b4t ini.


Sebaliknya Cakra malah tersen gih, dia membalik badannya hanya untuk mengatakan hal paling indah yang pernah didengar Tiarra. "Sederhana aja, aku hanya mencintaimu, entah kenapa dan karena alasan apa, aku gak tahu, yang jelas ...."


"Awalnya aku hanya mengagumimu karena kamu begitu tangguh di tengah s i k s a a n mereka, lalu ..., terbiasa dan aku ..., jatuh cinta," paparnya.


Tiarra terenyuh mendengar pengakuan cinta Cakra yang konsisten sejak dulu, Cakra telah menjadi bagian penting dalam hidupnya sejak lama.


Dia yang selalu ada dan selalu datang dalam kondisi tak terduga, dia yang selalu hadir ketika Tiara mem butu hkannya, dan sekalipun lelaki itu tidak pernah lelah berada di sisinya.


"A-aku ..., hanya gak mau kamu m3ny3sal dan mengalami kesu_litan karena bersamaku," ungkap gadis itu menggunakan alasan yang sama seperti sebelum-sebelumnya.


"Aku tidak keber'atan, mereka udah pernah berhadapan denganku, dan aku lepas dari orangtuaku karena mereka memang gak pernah memberiku kesempatan untuk memilih." Cakra m3mb4ntah kekhaw—atiran Tiarra.


Kaki j3nj4ngnya melangkah dengan ga gah berani ke hadapan Tiarra. "Aku udah hidup sulit dari lama, kehidupan sulit bukan masalah, tapi ..., apa kamu bersedia hidup bersama pria yang jauh dari orangtua, dan pekerjaanku yang kata orang tidak menjanjikan."


Dengan sigap Tiarra m3ngg3leng. "Pelukis sangat menjanjikan, terlebih kamu melakukan banyak pekerjaan, kurasa itu sudah lebih dari cukup."


Sungguh Cakra merasa tersa'njung mendengar bahwa wanitanya tidak mempermasalahkan kevang4nnya yang tidak sebaik dengan kondisi keluarganya yang serba b3rk3cukvpan.

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit