Pelukan hangat
Ku pikir setelah menjadi janda hidupku akan tenang, ternyata mantan ayah mertuaku lebih membuatku tidak bisa tenang, apalagi ketika di r a nj ang....
"Aku nggak percaya kamu tega melakukan ini ke aku, Mas!" jerit Nayara, m a tanya memerah, suaranya bergetar penuh l u ka.
Adrian berdiri di seberangnya, wajahnya dingin tapi sorot m a tanya tampak goyah. Tangannya mengepal, seakan ingin mengatakan sesuatu yang bisa menenangkan Nayara—tapi tak ada kata-kata yang cukup untuk meredakan badai di h a ti istrinya.
"Maaf, Nay ..." katanya akhirnya, pelan. "Tapi aku mencintai Serena."
Seketika, d a da Nayara serasa dih a n tam ribuan jarum. Ucapan itu meny a yat, seolah semua pengorbanan, tawa, dan air m a ta selama tiga tahun terakhir tak berarti apa-apa.
"Jadi ... selama ini kamu menduakan aku? Di belakangku?" desis Nayara, t u buhnya limbung, tapi tatapannya t anjam.
Adrian menatapnya, mencoba mempertahankan ketenangan yang rapuh.
"Kalau kamu mau ... kamu tetap bisa jadi istriku. Dan Serena ... Serena bisa jadi istri keduaku. Aku akan berusaha adil."
Kata-kata itu m e namp ar Nayara lebih keras dari apapun. Dia terkesiap, seakan tak mengenali pria di depannya lagi. Nafasnya memburu, h a tinya berkecamuk antara kecewa, m a rah, dan hancur.
"Aku nggak rela berbagi h a ti!" teriak Nayara lantang, air m a tanya tumpah tak tertahan. "Kalau itu pilihanmu ... ceraikan saja aku!"
Nayara hanya menatap nanar dari ambang pintu k a mar, tatapan m a tanya kosong menyorot punggung pria yang dulu ia cintai sepenuh h a ti—pria yang kini tengah memasukkan sisa-sisa hidupnya ke dalam koper tanpa menoleh sedikit pun. Setiap helai baju yang dilipat Adrian terasa seperti sepotong kenangan yang dikemas dan akan dibawa pergi selamanya.
Tak ada kata yang terucap. Hening menggantung seperti kabut pekat di antara mereka. Suara resleting koper terdengar begitu nyaring, me nya yat keheningan yang menyesakkan.
Adrian akhirnya berdiri, menatap ke sekeliling ruangan untuk terakhir kalinya. Raut wajahnya datar, tapi ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan di balik m a tanya—sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh Nayara, karena ia pernah mengenal lelaki itu lebih dari siapa pun.
"Aku nggak akan minta bagian apa pun, Nay," ucap Adrian datar namun terdengar tulus. "Rumah ini ... milikmu sekarang. Anggap saja ganti atas semua l u ka yang aku tinggalkan."
Nayara tak menjawab. Bibirnya bergetar, tapi tak satu pun kata mampu lolos dari tenggorokannya yang terasa tercekat. Rumah ini adalah mimpi mereka—tempat di mana mereka menanam harapan, tertawa bersama, bahkan bertengkar lalu saling m e meluk lagi. Kini rumah itu akan berdiri dengan sepi yang membekas.
Dan Nayara akan tinggal di dalamnya... sendirian.
Adrian melangkah melewatinya tanpa menyentuh, tanpa berpamitan seperti suami pada istrinya. Mungkin karena status itu kini hanya tinggal sebutan yang hampa makna.
Pintu utama tertutup perlahan di belakang punggung Adrian, meninggalkan Nayara dalam keheningan yang lebih dingin daripada malam itu sendiri. Tak ada lagi kata, tak ada lagi pertanyaan. Hanya ada kenyataan pahit bahwa cinta saja tidak pernah cukup—dan bahwa kadang, orang yang paling kita cintai juga bisa menjadi orang yang paling dalam melukai.
Nayara duduk diam di tepi r a njang, tubuhnya nyaris tak bergerak, seolah seluruh energinya telah diserap oleh kepedihan yang menggantung di udara. M a tanya terpaku pada satu benda di meja kecil di samping tempat tidur—sebuah bingkai foto yang dulu begitu ia banggakan. Foto pernikahan mereka. Ia dan Adrian berdiri bersebelahan, tersenyum bahagia, seolah dunia akan selalu berpihak pada mereka.
Tapi kini, senyuman itu terasa seperti ejekan kejam. Lambang dari harapan yang sudah dikubur oleh pengkhianatan.
Dengan tangan gemetar, Nayara meraih bingkai itu. Jari-jarinya menyusuri permukaan kaca yang dingin, menyentuh bayangan masa lalu yang tak bisa ia gapai lagi. Napasnya berat, dadanya sesak oleh rasa kecewa yang mendidih perlahan.
Lalu, tanpa pikir panjang, ia melempar bingkai itu ke dinding.
Prang!
Suara kaca pecah menggema di ruangan yang sunyi, seperti gema dari h a ti yang retak berkeping-keping. Pecahan bingkai tersebar di lantai, dan potongan kecil wajah Adrian di foto itu terbelah, nyaris seperti pertanda bahwa semua benar-benar telah usai.
Air m a ta menggenang di m a tanya, tapi tak jatuh. Nayara menahan semuanya—air m a ta, amarah, dan duka yang menggumpal. Ia mengepalkan tangan, menatap ke arah serpihan kaca yang berserakan, dan berbisik dengan nada dingin penuh tekad.
"Jangan kamu pikir setelah ini aku nggak bisa bangkit, Mas ..." desisnya, penuh kepastian.
"Kamu mungkin bisa hancurkan hatiku, tapi aku nggak akan biarkan kamu menghancurkan aku."
Untuk pertama kalinya sejak semuanya runtuh, Nayara merasakan nyala kecil dalam dirinya. Nyala yang masih lemah... tapi cukup untuk memulai langkah pertama menuju kebebasan.
Dua bulan telah berlalu sejak malam penuh lu ka itu. Hari ini, semuanya benar-benar berakhir—secara hukum dan h a ti. Nayara melangkah keluar dari gedung pengadilan agama, tangannya menggenggam erat sebuah map berwarna cokelat. Di dalamnya, selembar surat resmi menyatakan bahwa ia kini resmi menyandang status janda. Di sisi lain, Adrian juga membawa map yang sama, hanya dengan label berbeda: duda.
Langkah mereka berpapasan di tangga luar gedung, namun tak ada sapa, tak ada lirih perpisahan. Hanya tatapan singkat yang cepat berlalu, seperti orang asing yang pernah saling mengenal terlalu dalam.
Tiba-tiba, seorang wanita melangkah cepat ke arah Adrian. Cantik, berpenampilan glamor dengan tubuh sintal yang langsung menarik perhatian. Serena Valeska—wanita yang menjadi alasan semua ini terjadi.
Tanpa malu, ia langsung m e me luk Adrian dari samping, tangannya melingkar manja di d a da pria itu.
"Akhirnya kamu utuh milikku, sayang," ucap Serena dengan suara menggoda, mencium pipi Adrian seolah menandai wilayah kekuasaannya.
Nayara berhenti sejenak. Pandangannya dingin menatap pasangan di hadapannya. M a tanya menyorot l u ka yang belum sepenuhnya sembuh, tapi juga ketegasan yang tak bisa diganggu.
Serena menoleh, tersenyum sinis, lalu menatap Nayara dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menikmati kemenangan.
"Ah! Maaf ya ... gara-gara aku kamu dijandakan Adrian," katanya t a jam, nada suaranya sengaja dibiarkan keras agar terdengar oleh siapa pun yang lewat.
Nayara mengangkat dagunya sedikit, menatap langsung ke m a ta perempuan itu. Senyum tipis menghiasi wajahnya—senyum yang penuh ketegasan, bukan kepura-puraan.
"Lebih baik jadi janda daripada jadi perebut laki-laki orang," balas Nayara tenang, nada suaranya dingin namun men u suk. "Semoga kalian bahagia ... selama bisa."
Tidak menunggu reaksi, Nayara berbalik dan melangkah pergi dengan anggun. Tumit sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer, setiap langkah seolah menegaskan bahwa dia tidak akan menoleh ke belakang lagi.
Ia masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu perlahan, dan menyalakan mesin. Di balik kaca mobil yang mulai melaju menjauh, ada wanita yang mungkin kehilangan, tapi jauh dari kalah.
Kesibukan di butik mewah milik Nayara telah menjadi pelariannya selama dua bulan terakhir. Di antara jahitan, sketsa gaun, dan kemilau koleksi couture, ia berusaha melupakan luka yang ditorehkan oleh masa lalu. Di tempat inilah ia merasa paling hidup—di balik kain sutra, bukan kenangan yang perih.
Pagi itu, begitu mobilnya berhenti di depan butik, seorang pria dengan gaya centil langsung menyambutnya.
“Mbaaaak! Udah ditungguin tamu lho dari tadi,” seru Yeyen, asisten kesayangannya, dengan suara melengking dan langkah lincah khasnya.
Nayara mengerutkan dahi, menggantungkan tas di lengannya. “Siapa?”
Yeyen hanya mengangkat bahu dengan gaya dramatis. “Liat aja deh sendiri. Udah nunggu di ruangan Mbak Nay dari setengah jam yang lalu.”
Tanpa banyak bicara, Nayara langsung menaiki tangga spiral menuju lantai dua, tempat ruang kerja pribadinya berada. Langkahnya cepat namun tetap anggun, sedikit diliputi rasa penasaran.
Begitu pintu dibuka, aroma khas ruangannya langsung menyambutnya—perpaduan kopi, parfum mahal, dan lembaran kertas desain. Namun yang membuatnya terdiam bukan itu, melainkan sosok pria yang berdiri membelakangi jendela besar.
Dia berdiri tegap, mengenakan kemeja biru tua yang pas di tubuhnya. Pemandangan taman butik yang tenang terbentang di luar jendela, tapi Nayara tak melihat ke sana. M at anya terpaku pada siluet lelaki itu.
Meski hanya dari belakang, ia tahu pasti siapa dia.
“... Ayah?” suara Nayara pelan, nyaris seperti bisikan. “Kenapa ke sini?”
Pria itu berbalik perlahan. Wajahnya tetap tenang, namun m a tanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak—antara rindu, kekhawatiran, dan sesuatu yang lebih dalam. Davin Renhard, pria berusia 42 tahun itu, mantan ayah mertuanya ... atau lebih tepatnya, ayah tiri dari mantan suaminya.
“Jadi ... kamu sudah benar-benar berstatus janda sekarang?” tanyanya, suaranya berat dan dalam, namun tak menyembunyikan getaran emosional di ujungnya.

Comments
Post a Comment