Raja
Anusapati : Raja Singhasari yang Naik Takhta Lewat Dendam, Lalu Gugur karena Balas Dendam
Di balik berdirinya Kerajaan Singhasari, terdapat kisah penuh intrik, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan. Salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Jawa adalah **Anusapati**, putra Ken Dedes yang dikenal sebagai raja kedua Singhasari. Hidupnya seolah membuktikan bahwa dendam yang diwariskan dari satu generasi dapat melahirkan tragedi di generasi berikutnya.
Menurut kitab Pararaton, Anusapati adalah putra Ken Dedes dari suami pertamanya, Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Setelah Tunggul Ametung terbunuh, Ken Arok menikahi Ken Dedes dan mengambil alih kekuasaan. Sejak kecil, Anusapati dibesarkan di lingkungan istana bersama anak-anak Ken Arok. Dalam waktu yang lama, ia diyakini sebagai putra Ken Arok.
Ketika mulai dewasa, Anusapati mengetahui bahwa ayah kandungnya sebenarnya adalah Tunggul Ametung, dan bahwa Ken Arok diduga menjadi dalang pembunuhan ayahnya. Kebenaran itu membangkitkan keinginan kuat untuk membalas kematian sang ayah.
Anusapati kemudian menyusun rencana. Ia memanfaatkan keris yang terkenal dibuat oleh Mpu Gandring—keris yang dalam tradisi Pararaton dikaitkan dengan kutukan. Dengan tipu muslihat, ia berhasil membuat Ken Arok terbunuh. Peristiwa itu mengakhiri pemerintahan Ken Arok dan mengantarkan Anusapati naik takhta sebagai Raja Singhasari sekitar tahun 1227 M.
Selama pemerintahannya, Anusapati dikenal tidak terlalu agresif dalam memperluas wilayah. Beberapa kisah tradisional menggambarkannya lebih menyukai kehidupan yang tenang, berburu, dan menikmati kehidupan istana. Namun, di balik ketenangan itu tersimpan ancaman besar.
Tohjaya, putra Ken Arok dari istri lain, mengetahui bahwa ayahnya dibunuh oleh Anusapati. Didorong keinginan membalas dendam, Tohjaya menyusun rencana balasan. Suatu hari, ketika Anusapati sedang mengikuti sabung ayam—hiburan yang sangat disukainya—Tohjaya menjalankan aksinya. Anusapati akhirnya terbunuh, mengakhiri masa pemerintahannya sekitar tahun 1248 M.
Setelah kematian Anusapati, Tohjaya mengambil alih takhta. Namun kekuasaannya tidak berlangsung lama. Ia kemudian digulingkan oleh Ranggawuni (Wisnuwardhana), putra Anusapati, yang berhasil memulihkan stabilitas Kerajaan Singhasari.
Kisah Anusapati menjadi salah satu cerita paling dramatis dalam sejarah Nusantara. Rangkaian pembunuhan antara Ken Arok, Anusapati, dan Tohjaya sering dipandang sebagai siklus balas dendam yang terus berulang. Walaupun sebagian besar kisah tersebut berasal dari Pararaton dan memuat unsur legenda, Anusapati tetap diakui sebagai salah satu raja penting dalam sejarah awal Singhasari.
Perjalanan hidup Anusapati mengajarkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kekerasan dan dendam sering kali melahirkan konflik baru. Ia berhasil merebut takhta, tetapi akhirnya mengalami nasib yang sama seperti orang yang pernah ia tumbangkan. Dari kisahnya, kita belajar bahwa ambisi tanpa kebijaksanaan dapat membawa kehancuran, bukan hanya bagi seorang penguasa, tetapi juga bagi sebuah kerajaan.

Comments
Post a Comment