Balas dendam anak terbuang


 Bapak lebih memilih menggelar pesta kelulusan untuk a nak tirinya. Daripada menemui a nak kandungnya yang tengah meregang nya wa di ru mah sakit.


Baiklah, Pak. Jika itu pilihanmu. Aku akan membuatmu mengerti, arti sebuah kehilangan ....


Cuplikan Part Premium 


"Ini semua karena kebodohanmu, Mas! Mengapa tidak kau habisi Hendrawan sekalian waktu itu?!" bentak Bu Lastri, suaranya melengking penuh a ma rah, memecah kesunyian malam lewat penyuara telinga yang kukenakan.


Bapak mendongak, urat-urat di lehernya menegang kaku. "Kukira dia sudah ma ti bersama Ratna saat mobil itu jatuh ke jurang! Sabotase rem yang kuatur harusnya membuat mereka berdua hancur berkeping-keping! Ternyata lelaki brengsek itu masih hidup.


Deg!


Jantungku rasanya seperti dihantam gada besar hingga hancur. Gawai di tanganku bergetar hebat, nyaris merosot ke lantai. Air mataku mendadak menggenang, bukan karena sedih, melainkan karena syok dan murka yang luar biasa. Ibu ... jadi tiga tahun lalu Ibu tidak kecelakaan? Tetapi, Bapak yang menyabotase rem mobil itu demi menyingkirkan Ibu dan Pak Hendrawan.


Seluruh badanku mendadak dingin, da daku sesak, seolah pasokan oksigen dicabut paksa dari paru-paruku.


Di dalam layar ponsel,  Bu Lastri kembali berteri ak menunjuk-nunjuk wajah Bapak tanpa tahu diri.


"Sekarang, satu-satunya yang bisa menolong kita hanya Naila, ini semua salahmu! Kenapa kau usir dia?! Seandainya Naila masih ada di sini, kita bisa mencairkan u ang perusahaan tanpa batas menggunakan hak asuh dan tanda tangannya." 


"Kau menyalahkanku?!" Bu Lastri berdiri, suaranya meninggi mencakar udara.


"Iya, semua ini salahmu! Sudah kubilang dari dulu, asuh Naila baik-baik agar semuanya aman. Kita bisa pura-pura jadi orang tua yang baik di depan hukum. Tapi kau keras kepala, kau malah menyiksanya dan mengusirnya."


"Diam kamu, Lukman! Kamu yang melemparkan koper a nakmu malam itu. Lalu, sekarang kau menyalahkanku? Kau amnesia?!"


Prang!


Bapak menendang gelas di dekatnya hingga hancur berantakan. Pertengkaran mereka kian liar, saling melempar kesalahan atas dosa pembu nuhan masa lalu yang kini berbalik mence kik leher mereka sendiri hingga ke dasar kemiskinan.


Aku menggenggam ponsel berlogo apel digigit itu dengan tangan yang gemetar hebat. Tangisku pecah tanpa suara. Seluruh badanku menggigil, disergap rasa muak, ben ci, dan den dam yang membakar menjadi satu di dalam rongga dada. Fakta bahwa ibuku dibu nuh secara keji oleh suaminya sendiri membuat kewarasanku hampir runtuh malam ini.


"Pak, tunggu pembalasanku. Setelah ini, kupastikan kalian membusuk di penjara."


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit