Dosa di ujung seragam

 "Pilih ba yi itu atau aku?" 



Duniaku rvntuh saat cowok yang kubela m ati-ma tian ternyata se-ba ngsat ini... 😭

Dua tahun pacaran sia-sia, aku dibuang seperti sampah saat tahu ada jan in di pervtku.


-------


Part 1 


"Apa ini?" Miko menatap Renna dengan ekspresi bingung. "Tes pek siapa, Ren?" 


"A--aku, Miko," jawab Renna dengan suara yang bergetar. 


"Garis dua, Miko. Aku udah cek empat kali dan hasilnya sama," jawab Renna dengan perasaan ha ti yang kacau. Air mata yang sejak tadi ia bendung kini luruh membasahi kedua pipinya. 


Miko terdiam mendengar pernyataan dari Renna. Tes pek yang ada di tangannya ia geng gam erat. Suasana di gedung belakang sekolah yang sunyi menambah kesan sepi dan men ce kam


"Miko, bagaimana ini? Ini an ak kamu, Miko," ucap Renna kembali. 


Miko mengacak rambutnya dengan ka sar. Miko melemparkan tesp ek yang ada di tangannya begitu saja. 


"Sial! Kamu bercanda kan, Ren? Ini bukan hari ulang tahunku." 


"Aku gak bercanda! Aku juga takut, tapi ini di pervtku ..." Rena tak mampu melanjutkan ucapannya, air matanya semakin berderai. 


Tangan Renna memegang pervtnya yang masih rata. Sedangkan Miko memilih menjauh dari Renna, ia duduk di kursi yang selalu ada di sana. Miko mengeluarkan bungkusan yang selalu ia bawa, mengeluarkan seba tang niko tin dan menyulvtnya dengan tangan bergetar. Bukan karena takut, tapi karena marah. 


"Kamu gi la, Ren?! Kamu mau hancvrkan semuanya?" suara Miko rendah. Namun, ta jam seperti sembilu. 


Renna yang masih berdiri bersandar lemas pada dinding usang berdebu seketika berdiri tegak. Ia berjalan mendekati Miko dengan tatapan yang sulit di artikan. 


Renna mere mas ujung seragamnya kuat-kuat. "Aku gak mau menghancvrkan apa pun, Miko. Tapi ini kenyataan, aku telat dua bulan dan itu hasilnya."


Miko menggelengkan kepalanya, ia masih sulit percaya dengan perkataan Renna. 


"Miko, aku takut. Kita harus bagaimana?" tanya Renna dengan suara serak. 


Sejak malam setelah Renna mengetahui hasil bahwa ia positif ha mil, pikirannya kacau. Cantik, pandai dan idola sekolah adalah kebanggaan selama ini. Namun, dari itu semua mendadak lenyap ketika hasil menandakan garis dua. 


Apa kata keluarganya, Renna masih tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya. Bahkan sepanjang jam pelajaran sekolah pun, Renna tak fokus memperhatikan pelajaran. 


Miko bangkit berdiri, menghembvskan asap ro kok ke udara. 


"Takvt?" Miko tertawa. "Yang seharusnya takvt itu aku, Renna! Aku kapten basket. Sebentar lagi ujian sekolah, lomba basket, sebentar lagi ujian seleksi masuk universitas, kalau ini bocor dan semua orang tau namaku hancvr, Ren! Karirku ma ti! Paham kamu!" 


Renna tertawa pedih, menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka bahwa pria yang selama ini ia cintai dan ia bela ma ti-ma tian ternyata tak punya hati dan perasaan. Renna menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya. 


"Terus gimana dengan aku? Ini di pervtku, Miko. Bukan di pervtmu. Kamu pikir aku gak punya masa depan?" sentak Renna dengan penuh emosi. 


Pria yang ia puja, pria yang ia banggakan nyatanya bukan pria yang tepat. 


Miko melangkah maju, men ceng keram kedua bahu Rena. Matanya yang biasanya memuja kini menatap dengan kebencian yang nyata.


"Ini bukan 'an ak', Ren. Itu masalah. Dan masalah itu harus hilang sebelum orang-orang tahu. Kamu denger aku, kan? Cari cara, gugvrkan," ucap Miko dengan tegas. 


Renna membulatkan kedua matanya mendengar solusi dari Miko. Itu bukan solusi tapi menurut Renna menambah masalah. 


Renna menepis kedua tangan Miko yang ada di bahunya dengan kasar. Ia mundur selangkah, matanya mulai berkaca-kaca lagi. 


"Gugvrkan? Kamu sadar apa yang kamu omongin, Miko? Ini nya wa, Miko? Aku nggak mungkin sejahat itu," jawab Renna dengan dadak yang terasa sesak. 


Miko menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kas ar. "Terus kamu mau apa, Renna? Nikah? Pakai seragam sekolah dengan pervt buncit? Aku nggak mau masa depanku hancvr cuma karena satu kesalahan. Kalau kamu mau pertahankan itu, silakan. Tapi jangan bawa-bawa namaku."


Renna maju selangkah di depan Miko, tangannya mengepal kuat. Tatapan Renna pada Miko penuh kebencian, kesakitan dan juga kekecewaan. 


"Kamu pengecvt, Miko!" bent ak Renna dengan nafas tersengal. 


"Kamu bilang sa yang aku. Tapi, kenapa kamu minta aku jadi pembvnuh!" sambung Renna dengan tangis yang kembali mendera. 


Tangis Renna tak dapat di bendung lagi, dalam benak dan hatinya hanya ada kata mengapa dan mengapa. Renna memvkul da danya sendiri. 


"Renna cukup!" sent ak Miko. 


Miko mengenggam erat tangan Renna, walau ia benci keadaan ini tapi hat i kecilnya masih ada rasa cinta pada wanita yang ada di depannya. 


"Kenapa Miko! Kenapa kamu tega?" 


Renna menepis tangan Miko yang menggenggam tangannya. "Kamu pikir yang hancvr itu kamu? Kamu egois Miko! Kamu pengecvt!" 


"Stop, Renna!" ben tak Miko


Renna terlonjak kaget dengan bentakan Miko. 


Miko men ceng kram bahu Renna, tatapan matanya ta jam bak elang yang akan memburu mangsanya. 


"Pilihannya cuma dua: buang benda itu dan kita tetap aman, atau simpan dia dan kamu hadapi semuanya sendirian," ujar Miko 


"Aku nggak akan pernah bertanggung jawab untuk sesuatu yang bakal ngervsak hidup dan reputasiku Renna," desis Miko. 


Renna tertawa dan menepis tangan Miko kembali. 


"Buang?" lirih Renna 


"Itu sama aja pembvnuhan, Miko! Apa kamu mikir setelahnya aku bagaimana?" tanya Renna. 


Miko mengusap wa jahnya dengan ka sar, ia meninjv udara kosong untuk meluapkan rasa kesalahannya


"Itu jalan satu-satunya, Renna. Kamu buang benda itu, aku janji kita akan tetap bersama," ujar Miko meyakinkan Renna. 


Renna kembali menggelengkan kepalanya, ia menatap pria yang selalu di cintainya dengan sepenuh ha ti dengan tatapan benci. 


"Nggak, Miko! Aku nggak bisa," Rena menggelengkan kepalanya kuat-kuat.  "Ini nya wa. Aku memang berdosa karena melakukan ini sama kamu, tapi aku nggak mau jadi pembvnuh." 


Riko men ceng keram tangan Renna kembali, ia mendo rong Renna dengan kas ar hingga Rena terhuyung dan mena brak tembok. Ia menatap Rena seolah gad is itu adalah orang asing yang menji jikkan. 


"Aaa Miko," je rit Renna tertahan. 


"Oh, jadi kamu mau jadi pahlawan? Kamu mau pamer pervt buncit di depan guru-guru? Di depan ayahmu yang sudah bav tanah itu?" hardik Miko dengan tatapan ta jamnya. 


Rena terbelalak. Seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Perkataan Miko terlalu sa dis di indera pendengarannya. 


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Miko. Napas Rena membvru, dadanya sesak oleh rasa sakit yang luar biasa. 


"Jangan bawa-bawa Ayahku!" be ntak Renna. 


​Riko mengusap pipinya yang memerah, lalu tersenyum sinis. Senyum yang membuat nyali Rena mendadak mencivt. "Oke. Kalau itu maumu, Ren. Pertahankan 'benda' itu sendirian."


Miko berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan Renna. Namun, ia berbalik lagi sebelum membuka pintu gudang yang tertutup rapat. 


"Jangan pernah cari aku, jangan pernah sebut namaku. Mulai detik ini, kita nggak pernah kenal. Kita putus!" 


Setelah mengatakan hal itu, Miko membuka pintu dan kemudian pergi begitu saja tanpa memperdulikan wanita yang selama dua tahun mengisi hatinya. 


"Miko!" te ri ak Renna. 


Tubuh Renna ambruk di lantai bedebu, mendekap pervtnya yang masih rata namun terasa sangat berat. Ia menangis meluapkan rasa sakit hatinya. 


"Kamu akan menyesal, Miko!" 


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit