Kepergok adik ipar
Gara-gara terpergok adik ipar, aku yang sedang bermain solo pun terkejut... hingga benda yang kupakai main pun patah dan tersangkut!
Brak!
Wulan yang mendorong pintu kamar Arga dan menatap ke arah kasur seketika melotot lebar saat mendapati adik iparnya menggigil dengan posisi meringkuk tanpa selimut.
"Astaga, Arga!"
Buru-buru wanita cantik itu mendekati adik iparnya yang menggigil kedinginan. Lalu mendaratkan bokongnya yang cukup berisi di pinggiran kasur. Tangannya pun bergerak, menarik selimut dan menutupi tubuh Arga yang terasa sangat panas.
"Astaga, Ga, kamu demam," kata Wulan. Suaranya pelan, sedangkan guratan cemas terlihat jelas di wajahnya yang ayu nan cantik.
"Huhu... dingin banget. Rasanya seluruh badanku kayak ditempeli es batu," lirih Arga yang benar-benar menggigil hebat.
Suara Arga yang bergetar dan sepasang matanya yang terkatup membuat Wulan semakin cemas. Sudah dua tahun tinggal berdua bersama Arga, ini adalah kali pertama adik iparnya itu mengalami sakit dan demam tinggi.
"Tunggu di sini sebentar, aku ambilin obat." Takut demam Arga semakin parah, Wulan pun beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi mengambil obat.
Namun, Arga yang meringkuk kedinginan tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dan menahannya dengan cukup erat.
"Jangan tinggalin aku. Dingin, aku gak tahan dan gak mau ditinggal sendirian...." racau Arga dengan lirih, sepasang matanya masih terpejam.
Degh!
Jantung Wulan berdetak dua kali lebih cepat. Rasa aneh seketika menjalar di seluruh tubuhnya saat pergelangan tangannya digenggam oleh Arga.
Perasaan wanita itu kini menjadi tak karuan. Kejadian memalukan antara dirinya dan Arga sore tadi kembali memenuhi isi kepalanya.
"Ya ampun, apaan sih yang aku pikirin? Gatel banget jadi perempuan. Inget, Lan, Arga itu iparmu, jadi jangan berpikiran macem-macem," batin Wulan, menepis pikiran kotor yang ada di otaknya.
Tak ingin pikiran tidak pantas itu semakin menguasai otak dan perasaannya, Wulan pun menarik tangannya yang digenggam oleh Arga dengan gerakan cepat.
"Aku mau ke dapur, Ga. Ngambil obat penurun panas buat kamu. Tungguin sebentar ya," kata Wulan dengan suaranya yang lembut dan pelan.
Wulan pun melangkah keluar dari kamar tersebut dan pergi menuju dapur. Ia membuka lemari makan, mengambil obat penurun panas untuk adik iparnya.
Setelah mengambil obat dan juga segelas air, cepat-cepat Wulan kembali ke kamar dan membantu Arga meminum obat penurun panas tersebut.
"Angkat kepalanya sedikit dan minum obatnya biar demamnya cepet turun," kata Wulan dengan pelan. Sebelah tangannya menyentuh dan menahan kepala Arga, sedangkan sebelah tangan yang satunya lagi memasukkan butiran obat tersebut ke mulut adik iparnya yang membiru akibat kedinginan.
Usai meminum obat, Wulan meminta Arga untuk tidur agar saat bangun besok pagi keadaannya membaik.
Namun, Arga yang mengalami demam justru tak henti-henti meracau. Bahkan, pemuda itu menangis dalam tidurnya.
"Tolong... jangan tinggalin aku, Bu. Dingin, aku mau dipeluk Ibu...."
Jantung Wulan kembali berdetak dengan cepat. Mendengar racauan yang keluar dari bibir Arga serta cairan bening yang mengalir di sudut matanya membuat wanita cantik itu merasa iba. Ia tahu betul, sejak kecil kedua orang tua Arga dan suaminya sudah meninggal dunia.
Namun, ia tak menyangka jika sosok Arga yang selama ini terlihat ceria, humoris, dan mandiri ternyata begitu rapuh dan kekurangan kasih sayang.
"Jangan tinggalin Arga, Bu. Arga mohon...."
Merasa kasihan pada Arga yang tak hentinya meracau, Wulan pun memutuskan menemani Arga yang mengalami demam tinggi malam itu.
"Nemenin Arga di sini kayaknya gak masalah, toh cuma nemenin karena dia lagi sakit, bukan ngelakuin hal yang macem-macem," kata Wulan dalam hati.
Wanita itu duduk di pinggiran kasur. Sedangkan tangannya bergerak, menggenggam jemari Arga yang terasa begitu panas.
"Tidur yang nyenyak, aku janji gak akan ninggalin kamu malem ini. Aku bakal nemenin kamu sampe sembuh."
***
Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Arga yang semalaman mengalami demam tinggi perlahan mengerjapkan matanya yang terasa lengket dan berat. Kepalanya masih berdenyut-denyut, dan sekujur tubuhnya terasa sakit.
"Sstt... kepalaku pusing banget," gumam Arga pelan sembari mengangkat tangannya.
Namun, gerakannya seketika terhenti lantaran merasakan beban berat yang menindih lengannya.
Dengan kening berkerut dan alis bertautan, pemuda tanggung itu pun menoleh perlahan.
Degh!
Jantung Arga seketika berhenti berdetak. Sepasang matanya mendelik seperti ikan asin yang sedang dijemur di bawah teriknya matahari.
Di sampingnya, Wulan tertidur pulas dengan kepala berbantalkan lengannya. Bukan hanya itu, kakak iparnya bahkan berada dalam posisi yang sangat intim hingga membuat tubuh Arga seketika menegang. Bahkan, batangannya yang biasa bangun di pagi hari kini semakin menegang tak terkendali.
Terkejut bercampur panik, refleks Arga menjerit keras sambil beringsut mundur dari posisinya dan mendorong kasar tubuh kakak iparnya.
"Argh... Mbak Wulan ngapain tidur di kamarku?!”

Comments
Post a Comment