Tak ku sangka

  Milyaran uang kudapatkan, sudah waktunya aku pulang ke rumah ibu tercinta. Tapi di sana aku  direndahkan oleh ibu dan saudara tiriku. Bahkan disebut gembel kesasar di depan banyak orang. Ternyata aku sudah tidak dianggap sebagai anak ibu lagi. 




Setelah malam yang penuh penghinaan itu, aku memutuskan untuk tidak langsung mengeksekusi rencanaku terhadap pak Anwar. Ada hal yang jauh lebih penting: mencari keberadaan Reza. Aku tidak sudi menemui Bapak. Mengingat wajah lelaki yang selalu digambarkan Ibu sebagai sosok yang jahat, kejam, dan pelit itu membuat lambungku mual. Sejak kecil aku tidak pernah dekat dengan bapak. Tapi demi adikku Reza, aku akan menepis ego itu.


Aku mendatangi alamat rumah lama kami yang dulu ditinggali Bapak setelah Ibu pergi. Begitu sampai di depan pagar, dahiku berkerut. Rumah itu kini tampak jauh lebih bagus, dicat rapi, dengan halaman yang tertata.


Aku melangkah maju dan mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu. Tok! Tok! Tok!


Tak berselang lama, pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berkaos oblong keluar sambil menatapku heran.


"Cari siapa ya, Mas?" tanyanya ramah.


Aku buru-buru menyunggingkan senyum sopan. "Eh, maaf, Pak. Saya pikir rumah ini masih milik orang tua saya, Pak Imin. Apa benar ini rumah beliau?"


Pria itu tertawa kecil lalu menggeleng. "Oh, bukan, Mas. Rumah ini sudah lama saya beli dari Bu Asih. Katanya dulu buat bayar utang-utangnya Bu Asih."


Deg! Jantungku mencelos. Dijual oleh Ibu? Untuk bayar utang?


"Di-dijual oleh Bu Asih, Pak?" tanyaku memastikan, tenggorokanku mendadak kering. "Lalu... Bapak tahu pemilik rumah ini yang dulu sekarang tinggal di mana?"


Pria itu tampak berpikir sejenak. "Setahu saya, Bu Asih pindah ke desa Sadar Sriwijaya. Katanya sih sudah nikah lagi sama bos singkong di sana. Tapi kalau Pak Imin, mantan suaminya, saya kurang tahu ya tinggal di mana sekarang. Soalnya waktu transaksi rumah ini, cuma Bu Asih yang urus."


Aku mengepalkan tangan di balik saku. Jadi, rumah warisan atau harta bersama ini pun dipreteli oleh Ibu?


"Baik, Pak. Terima kasih banyak atas informasinya," ucapku lemas.


"Sama-sama, Mas."


Aku berpamitan dan melangkah pergi dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di kepala. Selama beberapa hari berikutnya, aku berkeliling Lampung Timur, menyusuri daerah Sadar Sriwijaya dan sekitarnya, mencoba melacak keberadaan Bapak dan Reza. Namun hasilnya nihil. Aku tidak punya nomor telepon Reza lagi. Anak itu rupanya sudah lama mengganti nomor ponselnya, dan aku kehilangan kontak sama sekali semenjak aku fokus membangun bisnisku di luar kota.


Di tengah keputusasaan itu, ponselku berdering keras di dalam mobil. Layarnya menampilkan nama wanita yang teramat kucintai: Chelsie.


"Halo, Sayang—"


"Keenan! Kamu di mana sekarang?" Suara Chelsie di seberang sana terdengar bergetar, panik, dan terengah-engah seperti menahan tangis. "Bisa ke rumahku sekarang? Tolong, Keenan... kita harus ketemu."


"Hei, tenang. Ada apa? Kamu kenapa menangis?" Tanyaku, langsung diserang rasa cemas yang luar biasa. Rumah Chelsie berada di kecamatan yang berbeda dengan rumah orang tuaku, tapi masih di wilayah Lampung Timur.


"Nanti aku jelasin di rumah. Tolong cepat ke sini, Keenan..."


"Iya, aku jalan sekarang. Tunggu aku."


Aku langsung memerintahkan Bimo untuk memacu SUV hitam kami menuju rumah Chelsie secepat mungkin. Jalan yang rusak dan berlubang sedikit memperlambat perjalanan kami. Begitu mobil memasuki halaman rumahnya, aku langsung turun dan mendapati Chelsie sudah menungguku di teras. Air mata menetes di pipi mulus dokter muda yang biasanya selalu tampak tegar di rumah sakit di Bandar Lampung itu.


Aku bergegas menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya. "Chelsie, ada apa? Katakan padaku."


"Keenan..." Chelsie terisak, menatapku dengan mata sembap. "Ada orang yang mau melamar aku ke rumah. Dia... dia mantan kekasihku dulu waktu sekolah. Keluarganya datang dengan memaksa."


Aku tertegun, rahangku mengeras. "Lalu? Apa jawaban orang tuamu?"


"Orang tuaku bingung, Keenan. Makanya aku mohon sama kamu," Chelsie meremas tanganku erat, "Tolong jujur sama bapak dan ibu sekarang. Kasih tahu mereka kalau kamu punya banyak perusahaan, kalau kamu sukses. Tolong tunjukkan kemampuanmu, Keenan, supaya orang tuaku punya alasan kuat untuk menolak pinangan laki-laki lain itu!"


Aku tersenyum lembut, lalu mengusap sisa air mata di pipinya. "Ayo kita masuk. Kita temui bapak dan ibumu."


Di ruang tamu, kedua orang tua Chelsie menyambutku dengan gundah. Tanpa menunda waktu, aku langsung duduk dan membuka pembicaraan dengan tegas namun tetap sopan.


"Bapak, ibu, maaf jika selama ini Keenan terkesan menutupi jati diri Keenan yang sebenarnya," ucapku dengan nada berwibawa. "Keenan sengaja ingin melihat ketulusan Chelsie. Tapi hari ini, Keenan ingin jujur. Keenan bukan lagi Keenan yang dulu lunglai karena broken home. Saat ini, Keenan adalah manajer utama sekaligus pemilik saham di perusahaan pabrik tepung tapioka terbesar yang menerima seluruh penjualan singkong di seluruh wilayah Lampung Timur ini."


Mendengar pengakuanku, Papa Chelsie terbelalak, sementara Mamanya menutup mulut karena terkejut. Namun, senyum lega langsung terbit di wajah mereka.


"Astaga, Keenan... Jadi kamu..." Ayah Chelsie menggeleng-gelengkan kepala, tampak sangat lega. "Sebenarnya, sejak awal kami tidak pernah menuntut kamu harus kaya raya, Keenan. Kami menerima kamu apa adanya karena kami tahu kamu anak yang baik dan bertanggung jawab. Kami sangat setuju kalau kamu menikah dengan Chelsie."


"Terima kasih, Pak, Bu," jawabku tulus. "Tapi, kalau bapak setuju dengan saya, kenapa bapak dan ibu tampak susah menolak lamaran dari keluarga mantan Chelsie itu?"


Bapak Chelsie mendesah berat, bahunya merosot seketika. "Itulah masalahnya, Keenan. Kami susah menolak lamaran mereka karena kami masih punya banyak utang pada ayahnya. Waktu Chelsie kuliah kedokteran dulu, biayanya sangat besar, dan kami terpaksa meminjam uang dalam jumlah besar pada orang itu. Kami merasa berutang budi, sekaligus tertekan karena mereka menggunakan utang itu sebagai senjata untuk memaksa kami menerima anak mereka."


Aku menyipitkan mata, merasakan firasat buruk. "Memangnya, siapa nama ayah dari mantan Chelsie itu, Pa?"


"Namanya Pak Anwar," jawab ayah Chelsie lirih. "Dia bos singkong yang cukup terkenal sekecamatan."


Deg!


Mulutku setengah terbuka. Pak Anwar? Bos singkong?


Duniaku serasa berputar memadukan kepingan-kepingan takdir yang luar biasa ini. Mantan kekasih Chelsie... apakah itu artinya Dimas atau Bisri? Mengingat usia yang sepadan, kemungkinan besar adalah Bisri! Jadi, keluarga sombong yang tempo hari mengusirku dan menjadikanku babu itu, sekarang mencoba menginjak-injak keluarga calon istriku?


"Pak Anwar?" ulangku, memastikan dengan suara yang mendingin.


"Iya, Keenan. Dia bos singkong yang menguasai lapak-lapak di sini. Kamu mengenalnya?" tanya Papa Chelsie heran.


Sebuah senyuman sinis dan dingin mengembang di wajahku. Mataku berkilat penuh dendam yang terukur. "Saya sangat mengenalnya, Pak. Sangat kenal."


Aku memajukan badanku, menatap ayah Chelsie dengan serius. "Berapa total utang bapak kepada Pak Anwar?"


"Lima puluh juta rupiah, Keenan," jawab ayah Chelsie dengan nada sungkan. "Bagi kami, uang segitu sangat besar dan sulit dilunasi dalam waktu dekat."


Aku langsung merogoh saku, mengeluarkan buku cek dari dalam jasku yang berada di mobil lewat isyarat pada Bimo yang berjaga di luar. Aku menuliskan nominal di atas kertas cek tersebut dengan tegas, lalu menggesernya ke hadapan ayah Chelsie.


"Ini cek tunai senilai lima puluh juta rupiah, Pak. Cairkan saja besok kalau orangnya datang lagi," kataku dengan suara mantap. "Baik, saya yang akan melunasi semuanya. Jadi, tolong bapak dan ibu tolak lamaran mereka mentah-mentah kapan pun saat mereka datang."


Ayah Chelsie menatap cek itu dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca menatapku. "Keenan... kamu serius? Terima kasih banyak, Nak."


"Sama-sama, Pak. Tapi saya punya satu permintaan," aku menjeda kalimatku, tatapanku menajam penuh ambisi. "Kalau bisa, beri pelajaran kepada keluarga sombong itu saat mereka datang kemari, Pak. Katakan pada mereka bahwa utang mereka sudah lunas, dan putri bapak hanya akan menikah dengan pria yang jauh lebih terhormat daripada anak seorang penipu timbangan singkong seperti mereka."


Ayah Chelsie, yang tampaknya juga sudah lama makan hati dengan keangkuhan Anwar, perlahan-lahan menegakkan punggungnya. Sebuah senyuman tegas muncul di wajah paruh bayanya. Beliau mengangguk mantap.


"Baik, Keenan. Serahkan urusan malam ini pada bapak!"


Aku menyandarkan punggungku, bernapas lega. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai, Anwar. Dan ibuku tercinta... bersiaplah melihat bagaimana singgasana mewahmu runtuh berantakan.


Comments

Popular posts from this blog

Dihina