Keluarga benalu
"Kami di u sir, kami nggak punya rumah, dan kamu mau menikmati hidup dengan u a ng itu?" Suara Mas Bimo meninggi.
"Iya. Aku mau menikmati hidup."
“Anak si a la n!”
Mas Arya ikut berdiri dan menarik Mas Bimo untuk duduk lagi.
"Lepasin, Ar!” sentaknya.
Tapi Mas Arya menatapku kecewa, “Kamu tega banget, Yan. Kamu memang se ja ha t ini, ya?"
"Iya. Aku ja h at."
"Kenapa?"
Aku belum menjawab. Pak Baskoro lebih dulu menyela.
"Bukan Yana ja h at, tapi memang itu haknya." Dia mengeluarkan satu lembar kertas lagi. "Ini."
Mas Arya mengambilnya, setelah membaca, matanya langsung membesar.
"Ini...."
"Surat kuasa."
Pak Baskoro menyandarkan badan.
"Sudah sah secara hukum kalau semua hasil pen ju a lan rumah, kebun, dan sisa pe lu na san hu ta ng akan dibawa dan diatur oleh Yana. Karena itu bukan ha r ta dari pernikahan bapakmu, jadi bukan ha r ta wa ri s."
Ruangan kembali sunyi.
Aku melihat tangan Mas Arya sedikit gemetar.
"Kenapa begini?" tanya Mas Bimo.
Pak Baskoro tersenyum tipis. "Tanya sendiri ke ibukmu."
Mas Bimo menatapku tajam. "SENENG KAMU SEKARANG, YA?"
Aku mengerutkan dahi.
"PUAS KAMU!" sentaknya dan tetap tidak kutanggapi.
Aku bisa melihat kedua kakakku hampir menangis di sana me re mas kertas itu. Semua menatapku ta j am, penuh ke be n ci an.
"Kamu tega lihat keluarga sendiri kayak gini?"
Aku menatapnya beberapa detik. Lalu bertanya pelan, "Keluarga?"
Dia terdiam.
Itu membuatku geli dan tersenyum kecil. "Bukannya aku sudah bukan bagian dari keluarga itu?"
Wajahnya langsung berubah.
"Kamu ...."
"Adik kalian ‘kan cuma Lisa,” lanjutku. “Aku ini apa? Biang masalah doang ‘kan?”
Mas Bimo kehilangan kata-kata.
"Tolonglah ... jangan menuntut aku untuk bertindak seperti keluarga setelah apa yang kalian lakuin ke aku. Malu, Mas."
Aku tidak membiarkan mereka kembali berkata lagi dan berdiri mengajak Wina.
“Aku nggak akan berbagi sepersen pun dengan kalian. Sesuai dengan apa yang sudah ibu katakan ke aku.”
Namun sebelum pergi, suara Mas Bimo kembali terdengar.
"Ingat, Yan."
Aku berhenti.
"Kalau kamu terus kayak gini. Nggak akan ada satu pun dari kami yang akan bantu kamu buat jadi wali nikahmu nanti."
Aku tetap lanjut berjalan, tapi Mas Bimo tidak berhenti bicara.
"Kamu akan jadi perawan tua seumur hidup. Bapak nggak akan sudi meski kamu akan bayar dia 20 ju ta per bulan seumur hidupnya!"
Aku akhirnya menoleh. Lalu tersenyum. Sebuah senyum yang kubuat khusus untuk membuat kedua kakakku semakin bingung.
"Yana!"
Aku sudah tidak ingin mendengar lagi. Aku berjalan meninggalkan rumah Pak Baskoro bersama Wina.
Tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah ke kantor KUA. Aku dan Mas Respati sudah mendaftarkan pernikahan. Dan semua syarat-syarat sudah harus segera dilengkapi.
Tinggal yang terakhir, yang menjadi kendala untukku.
Begitu sampai di kantor KUA, aku langsung menuju resepsionis.
“Permisi, Pak. Saya ingin menyerahkan berkas yang kurang,” kataku pada petugas.
“Silahkan duduk, Mbak. Boleh kami, cek.”
Aku menyerahkan lembaran surat perjanjian yang telah Rangga berikan kemarin ke petugas.
“Ini bukti pendukung untuk pengajuan pindah wali nikah, Pak.”
Ketika membaca, petugas itu langsung kaget.
“Ayah saya menyalahgunakan kewajibannya untuk menikahkan putri kandungnya dengan p3m3r4san seperti ini. Jadi ... saya bisa ganti wali nikah, Pak?”

Comments
Post a Comment