Malam itu, Mas Rendi makan bersamaku. Tetapi, tatapan matanya sangat dingin.

“Citra,” dia memulai, nadanya seakan mengumumkan hal penting. “Ibu sudah bicara dengan aku semalam. Dan kami sepakat, mulai bulan depan, aku yang akan memegang keuangan penuh. Kata ibu kamu itu boros banget, nggak pandai mengatur keuangan. Kemarin aku ceritakan sama ibu, kalau kamu lebih pentingkan membeli bedak, daripada mementingkan kebutuhan anak.”


Aku meletakkan cangkir tehku pelan-pelan. Hasutan ibu mertuaku sungguh berbisa. Sampai segitunya ia membenciku, menganggapku boros dan tak pandai mengatur keuangan. Di matanya, aku adalah ‘anak dari kampung’ yang hanya tahu menghabiskan uang kerja keras putranya.


“Maksudnya?” tanyaku dengan datar. Aku berusaha keras agar suaraku tak bergetar.


“Ya maksudnya, semua gaji. Uang bulanan, uang listrik, uang belanja, semua akan kuatur. Setiap kali kamu belanja harian, harus ada catatan rincian yang harus kamu berikan setiap malam.”


“Biar apa, Mas?”


Mas Rendi sedikit gelagapan. “Tentu saja karena … karena kamu tak hemat, Citra. Lihat saja, baru kemarin kamu minta uang dua juta. Itu uang besar. Kata ibu, kamu tidak punya perencanaan finansial yang baik. Ibu bilang, dia tidak mau bangkrut seandainya kita kekurangan uang.”


Aku tersenyum tipis, tetapi hatiku penuh luka. “Oh, jadi uang untuk pengobatan Ayah yang sedang terbaring lemah itu, Mas anggap sebagai kebutuhan tidak penting.”


Mas Rendi tersentak dan wajahnya memerah. “Bukan itu maksudku! Maksudku! Kamu harusnya punya uang. Biar nggak ganggu dari uang gajiku. Ibu hanya bantu kita untuk disiplin.”


“Bantu disiplin, atau bantu mengontrol?” Aku menusuknya dengan pertanyaan menohok. “Mas, aku yang belanja, aku yang tahu harga di pasar naik, aku yang tahu biaya susu formula ketiga anak kita. Aku sarjana, Mas. Mas yang nyuruh aku resign saat baru menikah, Mas sanggup membiayai aku. Buktinya, Mas selalu sibuk dengan urusan Mas dan gak pernah peduli dengan aku.”


“Sudah! Jangan banyak membantah! Ini sudah diputuskan,” potongnya dengan nada tinggi, kembali dengan ego dan arogannya yang tinggi. “Dan satu lagi. Soal kamu mencari pekerjaan itu, lupakan. Ibu tidak setuju. Anak-anak harus diurus ibunya sendiri, bukan baby sitter bayaran yang akan menghabiskan uangku.”


“Baik, Mas. Mulai bulan depan, silahkan Mas atur semuanya. Aku akan mengikuti aturan Mas. Aku akan menulis semua pengeluaran. Bahkan, harga sebutir gula pun akan aku catat. Tapi tolong ingat ya, Mas,” lanjutku, suaraku turun menjadi bisikan dingin yang penuh janji.


Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap matanya lurus-lurus. “Jika Mas mengatur keuangan, maka semua yang terjadi di rumah ini adalah tanggung jawab Mas sepenuhnya. Jika ada tagihan terlambat dibayar, itu semua urusan Mas.”


Mas Rendi mundur, sedikit terintimidasi oleh logikaku yang kejam. Aku tahu, dia paling benci mengurus hal-hal remeh seperti membayar dapur dan memantau persediaan dapur. Dia hanya mau memegang uang.


“Kamu …” dia tergagap, “Kamu tidak perlu berlebihan, Citra.”


“Aku hanya sedikit perhitungan, Mas. Persis seperti Mas dan Ibu inginkan,” balasku, “Mulai besok Mas Juga harus ke pasar.”


“Aku tak mau.” Mas Rendi mendengus, bangkit dengan kasar lalu pergi.


Setelah dia pergi, aku tersenyum pahit, tetapi ada sedikit kepuasan.


Pagi-pagi sekali, aku sudah bersiap untuk mengantar anak ke sekolah. Kubiarkan rumah berserakan dan aku tak masak. Untuk memberikan pelajaran sama suamiku yang pelit.


Mas Rendi turun dari kamar dengan wajah kusut. Ia melihatku sudah duduk santai di sofa.


“Citra, kenapa kamu belum masak?” tanyanya, suaranya terdengar tidak sabar.


“Mas.” Aku menoleh dengan wajah polos. “Semalam aku cek, bahan masakan kita habis ya, Mas. Bawang, cabai, sayuran, semua kosong.”


Mas Rendi mengerutkan dahi. “Ya, ampun. Lalu, kenapa kamu tidak segera ke pasar?”


“Kenapa aku yang ke pasar, Mas?” tanyaku balik dengan nada mematikan. “Mas yang memutuskan memegang kendali keuangan. Berarti Mas harus tahu persis, apa yang ada di dapur, apa yang harus dibeli. Capek banget gue ke pasar, tapi nggak ada upahnya ngerjain rumah. Pakai kendali pegang uang segala. Aku capek Mas! Aku menyesal nikah sama kamu. Semenjak aku nikah, hidupku depresi.”


“Aku udah telat, Citra. Aku ada meeting penting pagi ini!” suaranya meninggi suaranya panik.


“Mas, aku tak peduli,” kataku, berdiri dan mendekat padanya, tatapanku tetap tenang. “Pilihan ada di tangan Mas. Kalau Mas pengen pegang uang, Mas harus yang ambil andil dalam rumah ini. Aku hanya duduk manis saja. Namun, aku akan berubah pikiran untuk mencari kerja.”


Mas Rendi menatapku dengan tatapan marah. Dia sangat benci disalahkan, apalagi di depan orang lain. Dia mendengus kesal, mencengkeram kunci mobilnya.


“Sialan!” umpatnya. “Baik! Aku yang pergi! Tapi ini hanya kali ini, Citra! Besok-besok aku akan minta sopirku mengantar barang belanjaan.”


“Oh, jadi Mas rela menggaji supir untuk belanja sayuran, demi menghindari tugas yang selama ini aku lakukan tanpa dibayar?”


“Mana daftar belanjaannya? Nggak usah banyak ngomong!”


“Ini, Mas.” Aku menyerahkan daftar belanjaan sama Mas Rendi.


Mas Rendi hanya mendesis dan pergi terburu-buru. Membawa daftar belanjaan yang telah aku tulis di kertas.


Lihat aja Mas, akan aku beri kamu pelajaran. Karena sifat pelit kamu itu.


Kamu harus tahu aku …


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit