Pecat

 Aku pecat suamiku lalu aku lelang rumahku yang ditempatinya setelah aku dihin4 habis-habisan di acara pelantikan kenaikan jabatan nya 



Balik Mas Pelantikan mu Sudah Aku Batalkan 


Bab 14

# POV Danu


"Lepaskan!" bentakku pada satpam yang menyeretku keluar. Ah, memang sialan Dina itu, pakai menyamar segala. Coba dari awal dia bilang kalau kaya, aku pasti tak akan berselingkuh. Ah, memang dasar sialan.


"Loh, Pak Kepala Sekolah, kok diseret begitu? Lagi latihan, ya?" ujar salah seorang guru mengejek.


"Latihan apaan diseret begitu?" tanya temannya yang lain.


"Latihan didepak dari sekolah ini. Kasihan, sudah sombong mau traktir KFC orang satu RT, eh, enggak tahunya gagal," ejeknya.


Ah, sial! Awas saja nanti kalau Rani pulang, kubalas kalian semua. Aku akan meminta modal kepada Rani, lalu membuka usaha yang kuyakin cepat berkembang.


Aku menghentikan mobil untuk menghubungi Rani. Aku masih ragu untuk pulang, membayangkan orang-orang dusun sudah menungguku untuk menagih jatah KFC. Sedangkan di dompet, aku sudah tak punya uang.


Akhirnya, aku memutuskan untuk menelepon Rani yang berada di luar negeri.


"Halo, Mas," sapa Rani. Kali ini nadanya terdengar datar. Tidak seperti biasanya yang tampak bahagia ketika aku menghubunginya. Namun, kutepis perasaanku. Mungkin dia sedang sibuk.


"Halo, Ran. Maaf menelepon, kamu lagi apa?" tanyaku.


"Lagi di kampus sih, Mas. Ada apa, ya?" tanya Rani. Aku diam sejenak. Biasanya kalau aku menelepon, Rani tidak pernah menanyakan hal ini. Sebaliknya, dia langsung bercerita tentang kegiatannya.


"Enggak, aku pengen aja ngobrol sama kamu," balasku.


"Aduh, aku enggak bisa, Mas. Aku sibuk. Mungkin lain kali Mas bisa ngobrol sama aku."


Tut.


Telepon langsung dimatikan.


"Gimana sih, kok langsung dimatikan? Apa Rani sudah dengar kalau aku batal dilantik jadi kepala sekolah? Atau jangan-jangan, Rani punya selingkuhan di sana?"


Aku yang rencananya mencari hiburan, mendadak menjadi semakin galau memikirkan kekasihku itu. Sekarang cuma dia harapanku satu-satunya setelah gagal merayu Dina.


Aku mencoba menghubungi Rani lagi. Di saat seperti ini, aku butuh seseorang untuk mendukungku. Namun, setiap kali tersambung, telepon langsung dimatikan.


`[Sayang, nanti kalau senggang hubungi aku, ya. Aku butuh support kamu.]`


Kukirimkan pesan itu, namun tidak dibalas. Benar-benar berbeda dari biasanya. Setiap kali aku mengirimkan pesan, Rani langsung membalas. Tapi kali ini, dibaca pun tidak. Namun, aku tetap berpikiran positif, mungkin saja kekasihku itu sedang sibuk.


Akhirnya, setelah berpikir beberapa kali, aku memutuskan untuk pulang. Apa pun yang terjadi di sana, aku akan menghadapinya. Toh, kalau aku menolak mentraktir mereka, nanti mereka bakal diam sendiri.


---


"Lah, itu Danu!" kata salah seorang warga menunjukku ketika aku baru saja sampai.


'Tuh kan, mereka masih menungguku,' batinku.


Salah seorang warga langsung mendekat. Aku masih enggan untuk keluar, malas saja kalau mereka menagih traktiran.


Tok! Tok!


Salah seorang warga mengetuk pintu mobil.


"Ada apa, Pak? Kalau mau traktiran sabar dulu, enggak hari ini soalnya uang saya belum cair. Tadi saya pergi ke ATM, tapi ternyata ATM-nya sedang gangguan," jawabku beralasan. Gengsi saja kalau mereka tahu aku tidak punya uang.


"Aduh, itu pikirkan nanti! Sekarang kamu lihat deh ibu sama adik kamu!" jawab warga tersebut.

Baca selengkapnya di kbm 

Judul Balik Mas Pelantikan mu Sudah Aku Batalkan 

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit