Part Nadira dan Dirga



Udara sore itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Nadira yang membuat segalanya terasa berbeda. Ia berdiri kaku di depan mobil hitam yang berhenti tepat di hadapannya. Tatapan Dirga masih tertuju lurus padanya—tajam, menekan, dan seolah tidak memberi ruang untuk menolak.


“Naik.”


Nada suara itu tidak berubah sejak tadi. Datar, rendah, tapi mengandung perintah yang tidak bisa dianggap sepele.


Nadira menggeleng pelan, meski jantungnya berdetak semakin cepat di dalam dada. “Saya bisa pulang sendiri,” jawabnya, berusaha terdengar tegas walaupun suaranya sedikit bergetar.


Dirga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Nadira beberapa detik, diam, seolah sedang menilai seberapa jauh perempuan itu akan bertahan. Lalu terdengar bunyi kecil—


Klik.


Pintu mobil di samping Nadira terbuka dari dalam.


“Jangan sampai gue ulangi lagi,” ucap Dirga pelan, namun jelas. Tidak ada ancaman yang diucapkan secara terang-terangan, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka terasa menegang.


Nadira menggigit bibirnya. Rasa kesal dan marah bercampur jadi satu, tapi di saat yang sama… ia lelah. Hari ini terlalu panjang. Terlalu banyak hal yang terjadi, terlalu banyak emosi yang harus ia tahan sendirian. Ia tidak punya tenaga lagi untuk berdebat.


Dengan gerakan kaku, akhirnya ia membuka pintu mobil dan masuk tanpa menatap Dirga. Tanpa berkata apa-apa.


Pintu tertutup.


Mobil langsung melaju.


Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya suara mesin mobil yang halus dan napas mereka yang terasa terlalu jelas di dalam ruang sempit itu. Nadira menatap ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Orang-orang berjalan seperti biasa, kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, dunia tetap bergerak… sementara hidupnya terasa tertinggal di tempat yang sama.


Tangannya mencengkeram ujung tas di pangkuannya erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang saat ini.


Ia bisa merasakan tatapan Dirga sesekali mengarah padanya.


Namun Nadira tidak menoleh.


Tidak mau.


Tidak sanggup.


Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa semakin berat, hingga akhirnya suara Dirga memecahnya.


“Kamu tinggal di mana?”


Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat Nadira menegang. Ia tidak langsung menjawab, seolah berharap pertanyaan itu menguap begitu saja.


Namun tentu saja tidak.


“Alamat,” ulang Dirga, kali ini lebih singkat dan lebih tegas.


Nadira menghela napas pelan. Ia tahu ia tidak akan bisa menghindar selamanya. Dengan suara pelan, ia menyebutkan alamat kontrakannya tanpa tambahan apa pun.


Dirga hanya mengangguk kecil.


Mobil terus melaju.


Namun pikirannya jelas tidak setenang wajahnya.


Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah gang sempit. Lampu jalan di sana redup, beberapa rumah tampak sederhana, sebagian bahkan hampir gelap. Suasana terasa jauh berbeda dari tempat-tempat yang biasa didatangi Dirga.


Ia mengamati sekeliling sekilas, alisnya sedikit berkerut.


“Di sini?” tanyanya.


Nadira sudah membuka pintu sebelum ia selesai bicara. “Iya. Terima kasih,” ucapnya datar. Tidak ada rasa terima kasih dalam nada suaranya.


Ia turun tanpa menunggu jawaban.


Namun baru beberapa langkah—


“Gue ikut.”


Langkah Nadira langsung terhenti. Ia menoleh cepat, matanya menunjukkan penolakan yang jelas. “Tidak usah.”


Dirga sudah keluar dari mobil, mengabaikan penolakan itu begitu saja. Ia menutup pintu dengan tenang, lalu berjalan mendekat.


“Untuk apa?” suara Nadira mulai meninggi. “Cukup sampai di sini!”


Dirga tidak berhenti. Langkahnya tetap tenang, tapi pasti. “Tunjukin.”


“Sudah saya bilang cukup—”


“Nadira.”


Satu panggilan itu menghentikan semuanya.


Nada suara Dirga tidak keras, tapi cukup untuk membuat Nadira terdiam. Ada sesuatu di dalamnya… sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi berhasil membuatnya tidak melanjutkan penolakan.


Nadira menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya mengalihkan pandangan. Tanpa bicara, ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam gang.


Dirga mengikuti di belakang.


Gang itu sempit dan jalannya tidak rata. Beberapa anak kecil masih bermain di pinggir jalan, suara tawa mereka terdengar kontras dengan suasana hati Nadira yang berat. Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah kontrakan kecil dengan cat yang mulai pudar dan pintu sederhana.


Ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu.


Sebelum masuk, ia menoleh sedikit. “Sudah lihat?” ucapnya pelan. “Sekarang Bapak bisa pergi.”


Namun Dirga tidak bergerak.


Tatapannya justru menyapu bagian dalam rumah itu saat pintu terbuka. Sederhana. Terlalu sederhana.


“Kenapa nggak masuk, Mbak?”


Suara itu tiba-tiba terdengar dari dalam. Seorang remaja laki-laki muncul, wajahnya mirip Nadira—Dika.


Nadira langsung menegang. “Dika, nggak usah—”


Namun Dirga sudah melangkah masuk tanpa permisi.


Tanpa ragu.


Nadira menggertakkan giginya, kesal, tapi tidak bisa menghentikannya.


Di dalam, ruangan itu kecil. Hanya ada satu ruang utama dengan sofa tua dan meja kecil. Di sudut ruangan terlihat pintu menuju kamar.


Dirga berdiri diam, mengamati semuanya dengan saksama. Ada sesuatu yang terasa asing baginya—bukan hanya karena tempat ini sederhana, tapi karena ia tidak pernah membayangkan Nadira hidup seperti ini.


“Itu bos kamu, Mbak?” tanya Dika santai.


Nadira tidak langsung menjawab.


“Iya,” jawab Dirga lebih dulu.


Dika mengangguk kecil, menatap Dirga beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Terima kasih sudah antar Mbak saya.”


Nadira langsung memalingkan wajah. Ia tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.


Dirga mengangguk singkat. “Dia kerja bagus.”


Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup untuk membuat Nadira menegang. Pujian itu justru terasa asing… dan menyakitkan.


Beberapa detik hening.


“Kalau sudah, silakan pulang,” ucap Nadira akhirnya, nada suaranya kembali dingin, jelas mengusir.


Dirga menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak jadi. Ia berbalik dan melangkah menuju pintu.


Sebelum keluar, ia sempat berhenti.


“Besok jangan telat.”


Kalimat itu terdengar seperti perintah biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa.


Seperti pagi tadi tidak pernah ada.


Pintu tertutup.


Dirga pergi.


Begitu suara mobilnya menghilang, Nadira langsung terduduk di kursi. Tubuhnya lemas, seolah semua tenaga yang ia tahan sejak tadi akhirnya runtuh.


Dika menatapnya bingung. “Mbak… Mbak kenapa?”


Nadira menggeleng cepat. “Nggak apa-apa.”


Bohong.


Sangat jelas bohong.


Dika mendekat, wajahnya penuh khawatir. “Mbak, serius… tadi itu—”


“Aku capek,” potong Nadira cepat, suaranya sedikit bergetar. “Aku mau istirahat.”


Tanpa memberi kesempatan untuk bertanya lagi, ia berdiri dan masuk ke kamar. Pintu ditutup, lalu dikunci.


Begitu sendirian, Nadira bersandar di pintu. Tubuhnya perlahan meluncur turun hingga ia duduk di lantai. Air matanya jatuh lagi, kali ini tanpa bisa ia tahan.


Pandangannya kosong.


Namun perlahan… kenangan itu muncul.


Bukan tentang hari ini.


Bukan tentang Dirga.


Melainkan masa lalu.


Rumah yang lebih hangat.


Suara tawa.


Ibunya di dapur.


Ayahnya tersenyum.


“Jaga adikmu ya, Nadira…”


Lalu—


suara benturan.


Cahaya terang.


Dan kabar itu…


tentang kecelakaan yang merenggut semuanya.


Dunianya runtuh saat itu.


Dan sekarang… seolah runtuh lagi.


Nadira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, pelan tapi menyakitkan.


“Aku capek…” bisiknya lirih.


Di luar sana—


tanpa Nadira tahu—


Dirga belum benar-benar pergi.


Mobilnya masih berhenti di ujung gang, lampunya mati. Tangannya mencengkeram setir erat, rahangnya mengeras, pikirannya tidak tenang.


Gambaran rumah itu terus terbayang.


Dan wajah Nadira yang menahan semuanya sendirian.


Dirga mengembuskan napas kasar.


Untuk pertama kalinya—


ia tidak bisa lagi menganggap semuanya biasa.


Dan untuk pertama kalinya juga—


ia mulai sadar.


Bahwa perempuan itu…


tidak seharusnya sendirian.


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit