Suti


 “Aku akan menun tut balas… Setelah aku tiada... aku pastikan, semua yang memfit nahku akan mende rita.”


⭐ 1 - Fit nah yang Mengundang Pe taka ⭐


“SUTI! KELUAR SEKARANG!”


“SUTI!"


"KELUAR KAMU!”


Suara teriakan itu menggema dari depan rumah.

Keras. Ka sar. Dipenuhi ama rah.


“KELUAR KAMU, SUTI!”


Gedo ran pintu menyusul.

Ke ras. Bertubi-tubi. Seolah ingin mero bohkan bangunan itu.


“JANGAN SEMBUNYI!”


“PEREMPUAN NGGAK BENER!”


“PELA CUR BERKEDOK PENGUSAHA!”


Di dalam, Sutiyah yang sedang duduk di kursi langsung tersentak.

Tangannya ge metar, masih memegang buku catatan keu angan.


“Bi…” suaranya pelan. “Ada apa di luar?”


Bi Darsih, yang sedang melipat pakaian, ikut terkejut.

“Nggak tau, Neng. Ko rame banget ya?” gumamnya.


Gedo ran kembali terdengar.


“SUTI! JANGAN SEMBUNYI!”


“KELUAR SEKARANG!”


Jantung Suti berdetak makin cepat.

Ia berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela.

Begitu tirai disingkap sedikit, napasnya langsung tercekat.


Puluhan orang berdiri di depan rumah.

Wajah mereka tegang.

Marah.

Dan… penuh kebencian.


“Ya Allah…” bisik Suti.


Bi Darsih ikut mendekat.

Begitu melihat kerumunan itu, wajahnya langsung pucat.


“Neng… kenapa banyak banget orang?” katanya cemas.


Di luar, seorang pria melangkah maju.

“SUTI! KALAU KAMU GAK KELUAR, KITA DO BRAK RUMAHMU!”


Suti menelan ludah.

“Bi… saya keluar aja ya…”


“Jangan!” Bi Darsih langsung menarik tangannya. “Mereka lagi emosi.”


“Kalau saya nggak keluar, mereka makin ma rah…”


Gedoran pintu kembali terdengar.

Lebih keras dari sebelumnya.


“PELA CUR!” teriak seseorang.


“DU ITMU HARAM!”


“PELIHARA TU YUL YA?!”


Tu buh Suti terasa le mas.

Ia menggeleng pelan.

Matanya mulai berkaca-kaca.


“Saya nggak salah, Bi…” bisiknya.

“Saya ker ja keras. Saya capek-capek bangun usaha perkebunan itu dari nol.”


Bibi menggenggam tangannya erat.

“Bibi tahu, Neng… Bibi tahu…”


Suara di luar makin kacau.

Dog... Dog... Dog...

Daun pintu berge tar.


“BUKA!”


Suti menghela napas panjang.

Pelan-pelan, ia melepaskan genggaman Bi Darsih.


“Kalau saya nggak keluar,” ucapnya tenang tapi bergetar, “mereka nggak akan pergi.”


“Neng, jangan…” suara Bibi bergetar.


Suti melangkah.

Tangannya gemetar saat membuka kunci.

Begitu pintu terbuka—

Suasana langsung riuh.

Teriakan meledak bersamaan.


“NAH ITU DIA!”


“LIHAT! MUKANYA SOK POLOS PADAHAL PENDO SA!”


“SUM PAH PO CONG AJA SEKALIAN!”


Suti berdiri di ambang pintu.

Tatapan puluhan mata menancap ke tu buhnya—ta jam, ben ci.

Wajahnya pu cat.

Namun sorot matanya tetap tenang.


“Bu… Pak…” suaranya lembut.

“Ada apa sebenarnya?”

“Kalau saya ada salah, tolong bicarakan baik-baik.”


Seorang pria maju.

“Kamu pelihara tu yul ya?!”


Suti menggeleng cepat.

“Tidak… Demi Allah, tidak.”


“BOHONG!”


“GAK MUNGKIN KAMU CEPET KA YA!”


“ORANG KAYA MENDADAK ALASANNYA CUMA DUA!”


“JU AL DIRI ATAU PIARA SE TAN!”


Suara-suara makin keras.


Bi Darsih maju.

“Hei! Jaga omongan kalian!” katanya tegas. “Neng Suti kerja dari pagi sampai malam—”


“HALAH!!!”


“SURUH DIA SUM PAH PO CONG!”


“IYA! KALAU MEMANG KEKAYAANMU BUKAN HASIL PESU GIHAN ATAU JU AL DIRI!”


Suti terdiam.

Kata itu…

menghantam kepalanya lebih keras dari tamparan.


“Sum pah… po cong?” ulangnya pelan.


“BERANI NGGA?!”


“Kalau nggak ngerasa salah, kenapa takut?!”


Suti terdiam.

Ia menatap wajah-wajah di depannya.

Wajah yang selama ini ia kenal.

Wajah yang sering menyapanya dengan ramah.

Kini berubah penuh keben cian.


“Saya tidak pelihara tu yul, Pak…” suara Suti mulai berge tar.

“Saya bangun usaha ini sendiri… dari nol…”


“BOHONG!” bentak seorang pria.


“Kalau bukan pesugihan, ngak mungkin kamu bisa kaya secepat itu!”


Bi Darsih ikut tersulut emosi.

“Jangan asal nu duh!” suara Bi Darsih meninggi.

“Neng Suti itu kerja dari subuh sampai malam! Saya yang lihat sendiri!”


Seorang pria lain tertawa sinis.

“Kerja? Atau ju al diri?” katanya.


Wajah Bi Darsih langsung memerah.

“JAGA MULUTMU!” bentaknya.


Kerumunan makin panas.


“Kalau memang kekayaanmu itu hasil dari kerja keras, sum pah po cong aja!”


“IYA! SUM PAH PO CONG!”


“Biar jelas sekalian!”


Suti menggeleng pelan.

“Pak… sum pah po cong itu bukan untuk main-main…”


“NAH! TAKUT KAN!” seseorang langsung memotong.


“BERARTI BENAR PELIHARA TU YUL!”


“Kalau kamu nggak mau sum pah po cong, kita bakar rumahmu!” teriak pria lain.


Suasana langsung mema nas.


“Bakar aja!”


“Rumah produksi tehnya juga bakar!”


Bi Darsih langsung panik.

“Jangan! Jangan begitu! Itu hasil kerja keras Neng Suti!” suara Bi Darsih mulai gemetar.


Namun warga makin tak terkendali.


Suti menatap rumahnya.

Menatap rumah produksi yang memberinya kehidupan.

Menatap kebun yang selama ini ia rawat sendiri.

Menatap Bi Darsih yang terlihat ketakutan.

Tangannya mengepal pelan.


Ia menarik napas panjang.

“Kalau… saya sum pah po cong…” suara Suti lirih.


Kerumunan langsung hening.


“Apakah kalian akan berhenti memfitnah saya?”


Beberapa warga saling berpandangan.


“Iya! Kalau kamu berani sum pah po cong, kita percaya!” kata seorang pria.


Bi Darsih langsung menoleh.

“Neng… jangan…” bisiknya.


Suti menutup mata sebentar.

Ia tahu…

kalau ia menolak, rumahnya, rumah produksinya bisa diba kar.

Kebunnya bisa dihan curkan.

Dan semua kerja kerasnya akan lenyap.


Suti membuka mata.

“Baik…” suaranya pelan.


Kerumunan makin sunyi.


“Saya… siap melakukan sum pah po cong.”


Bi Darsih langsung menggenggam tangannya.

“Neng… sum pah po cong itu berat…”


Suti tersenyum lemah.

“Kalau itu bisa menghentikan fitnah… saya rela, Bi Darsih…”


Sorak rendah menggema.

Ada yang tertawa puas.


“Besok!” teriak seseorang. “Jam sepuluh! Di rumah produksimu itu!”


Suti mengangguk pelan.

“Sekarang, silakan Bapak Ibu pulang.”


Warga mulai bubar. Namun ada beberapa orang yang tidak segera pergi.

Mereka menatap Suti lama, seolah ingin memastikan ketakutan gadis itu.

Angin dingin berembus pelan.

Begitu warga benar-benar bubar, Suti langsung masuk ke dalam rumah. Bi Darsih buru-buru menyusul di belakangnya.


Ceklek...


Pintu dikunci cepat.

Lalu kunci tambahan dipasang.

Seolah Bi Darsih takut warga itu tiba-tiba kembali.

Suasana rumah mendadak sunyi.

Suti berdiri di ruang tengah. Wajahnya masih pucat. Tangannya sedikit ge metar.


Bi Darsih menatapnya cemas.

"Neng…" suaranya pelan, penuh kekhawatiran.


Suti menoleh.

"Iya, Bi…"


Bi Darsih mendekat. Wajahnya terlihat te gang.

"Neng… bibi mohon… jangan turutin kemauan warga tadi…"


Suti terdiam.


Bi Darsih menggenggam tangan Suti. Hangat. Tapi terasa geme tar.

"Bibi nggak mau neng kenapa-kenapa…" lanjutnya lirih.

"Sum pah po cong itu bukan main-main… itu be rat, neng… berat banget…"


Suti menunduk pelan.

Ia menarik napas panjang.


Judul     : SUTI

Comments