Menunggu janda

 Janda Siapa yang Kau Tunggu, Bang?




Empat bulan menikah dengannya, aku sudah mulai hafal dengan beberapa kebiasaan suamiku. Kalau sampai Arsen datang ke butik sambil membawa bunga atau makanan kesukaanku, sudah dapat dipastikan ada yang tengah diinginkannya dariku.


            Siang itu aku datang ke butik dengan wajah suntuk. Klien komplian baju pesanannya tak kunjung jadi, padahal sudah mendekati deadline. Penjahitku melakukan kesalahan, ia salah memasang kristal-kristal yang seharusnya membentuk siluet pendar cahaya, alhasil harus merombak total dari awal. Rugi waktu dan material.


            “Istriku pasti sangat sibuk, ya?” senyumnya, menampakkan gigi-gigi putihnya. Untuk sesaat aku terpukau oleh pesonanya. Lelah dan rasa suntukku seperti menguap begitu saja, sungguh aku telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan pria itu.


            “Nggak, kok, cuma ada sedikit masalah dengan penjahit,” balasku sembari menghempaskan diri duduk di sisinya.


            Arsen bergerak mendekatkan diri sambil menyerahkan seikat bunga. “Barangkali bunga bisa mengembalikan suasana hatimu.”


            “Makasih, Arsen.”


            “Sama-sama, Sayang,” senyumnya sembari mencium kedua pipiku, ia merangkulku mesra, hal yang belakangan sangat jarang dilakukannya. “Butikmu tampaknya semakin berkembang, Mil?”


            Dibanding lima tahun yang lalu ketika aku mendirikannya untuk pertama kali, tentu saja sekarang jauh lebih berkembang. Aku sudah punya tim penjahit khusus, beberapa orang karyawan, hingga asisten pribadi. Namaku sudah cukup dikenal di kalangan desainer papan atas. Meski aku tidak sering mondar-mandir di layar kaca televisi, setidaknya karyaku sering dipakai oleh artis-artis di televisi.


            Tentunya aku tidak boleh melupakan, semua itu berkat koneksi dari keluargaku. Mama dengan kenalan para sosialitanya, Papa dengan koneksi mitra bisnisnya, sementara Terry dengan teman-temannya yang sama-sama punya koneksi. Semua ikut mempromosikan karya-karyaku hingga kini aku menjadi desainer yang cukup untuk diperhitungkan.


            “Iya, Ar, tapi belakangan ini ada saja permasalahan dari internal,” keluhku.


            “Ngomong-ngomong, Mil, sejujurnya aku juga ingin sekali berwiraswasta, membuka usaha agar aku bisa memberikan lebih untukmu. Mengandalkan gaji karyawan saja benar-benar sulit.”


            “Memang kau ingin usaha apa?”


            “Aku ingin mengembalikan kejayaan perusahaan orang tuaku walau harus benar-benar mulai dari nol, tapi sayangnya terkendala modal. Jadi, mungkin aku mulai bisnis kecil-kecilan dulu saja. Temanku mengajak kerja sama untuk membuka tempat gym dan salon pria, aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan itu.”


            “Yang penting jelas, jangan asal seperti bisnis sebelumnya.”


            “Kali ini aku sungguh-sungguh, aku sudah riset beberapa hal, termasuk memprediksi semua resiko, tapi aku butuh 600 juta untuk modal pertama, Mil.”


            Aku menatap Arsen, sudah mulai paham arah pembicaraan dan maksud di balik buket bunga yang dibawakannya untukku. Pria itu ingin aku memodalinya.


            Tentu saja aku senang suamiku ingin memulai bisnis, tetapi sebelumnya aku sudah memberinya modal. Arsen ingin membuka salon mobil, ia membutuhkan modal yang lumayan untuk menyewa tempat dan membeli peralatan. Aku yang sangat antusias rela menguras sebagian tabungan, akan tetapi sampai saat ini tak ada hasil apa pun.


            Jangankan mengembalikan uangku seperti yang dijanjikan, bentuk salon mobilnya pun aku tidak pernah tahu. Tahu-tahu ia mengaku usahanya gulung tikar. Aku hanya bisa menggigit jari ratusan juta melayang begitu saja, dan kini pria itu butuh 600 juta untuk modal lagi.


            “Uang dari mana sebanyak itu, Ar?”


            “Usahamu ‘kan lancar, Mil, kau pasti punyalah tabungan.”


            “200 juta yang kemarin saja nggak kembali, bagaimana bisa tabunganku sebanyak itu?”


            “Ayolah, Sayang, kau ini anak seorang konglomerat. Perusahaan orang tuamu ada di mana-mana, uang segitu kecil sekali untukmu.”


            Kecil katanya?


            Aku mendesah panjang. Arsen benar, orang tuaku memang kaya-raya, tapi bukan berarti aku memiliki tabungan sebanyak mereka. Aku hanyalah anak pungut.


            Sebagai anak yang merasakan kehidupan di panti asuhan, aku sudah sangat bersyukur diadopsi Mama dan Papa. Aku dirawat sejak lulus SD, dilimpahi kasih sayang, dan disekolahkan hingga sarjana.


            Mama dan Papa tentu dengan senang hati memberikan apa saja yang kuinginkan, tapi aku cukup tahu diri untuk tidak merepotkan mereka lebih banyak lagi. Aku meniti usaha dari nol, mengumpulkan rupiah demi rupiah supaya tidak perlu meminta uang keluargaku. Aku merasakan perjuangan mencari uang sehingga aku sangat menghargai uang. 600 juga bagiku adalah nominal yang sangat besar, entah berapa banyak rancangan yang harus kubuat untuk menghasilkan uang sebanyak itu, tapi Arsen justru menganggapnya sangat enteng.


            “Aku tidak sekaya Papa dan Mama, Ar,” desahku frustasi.


            “Masa cuma 600 juta kau tidak mau kasih pinjam, Mil?”


            “Bukan tidak mau, tapi uang segitu sangat besar untuk perputaran butikku. Bagaimana nasib butikku kalau aku memberikannya padamu?”


            “Aku akan kembalikan kalau usahaku sudah jalan, Mil. Kau tidak usah khawatir aku akan membawa kabur uangmu!” Nada suaranya meninggi, bukan lagi rayuan seperti sebelumnya. Kembali, aku mendesah kasar, dilema dengan permintaannya. “Sebagai istri, harusnya kau dukung suamimu untuk berkembang, lagi pula ujung-ujungnya untuk siapa kalau bukan untukmu?”


            “Tapi nggak 600 juta juga, Ar.”


            “Memang modalnya segitu mau bagaimana lagi? Atau begini saja, kalau kau tidak mau mengeluarkan uangmu, bisalah kau minta pinjaman ke orang tua atau abangmu, aku yakin mereka akan kasih.”


            Tentu saja aku tidak mau melakukannya! Semasa gadis saja aku sangat enggan meminta uang pada mereka, kalau bukan mereka yang memberi aku tidak pernah meminta, apa lagi setelah menikah. 


            Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk selalu mengalah setiap berdebat dengan Arsen. Mendengar nadanya yang semakin tinggi dan penuh kekecewaan, pada akhirnya aku hanya bisa merelakan tabunganku untuk modal usaha pria itu. 


Bersambung …

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit