Lepaskan aku
"Mama ingin segera menimang cucu, Zal. Kamu harus menikah lagi!"
Baru saja vonis kan_ker endo_metrium dijatuhkan, Allana harus kembali mendengar kabar mengejutkan....
___
"Kenapa kamu tiba² meminta Mas menikah lagi, Dik? Apa ini karena Mama?” tanya Rizal setelah Allana menyampaikan keinginannya.
Ya, karena perkataan Mama Rima tadi pagi—yg secara tak langsung menganggap Allana sebagai wanita tak normal karena belum juga berhasil memberikan Rizal keturunan, dengan sangat terpaksa Allana akhirnya mengambil sebuah keputusan. Keputusan yg sudah dia pikirkan seharian penuh ketika sang suami dipaksa menemani Mama Rima & Hani jalan², tanpa Allana.
“Ya. Ini pasti karena Mama, kan, Sayang? Nggak mungkin kamu akan meminta Mas menikahi Hani jika Mama tdk menekanmu,” lanjut Rizal.
“Nggak, Mas. Ini bukan karena tekanan dari Mama,” sanggah Allana, teringat dgn pesan sang mama mertua sebelum mama mertuanya berpamitan sore tadi.
Ya. Setelah seharian jalan² bersama Hani dgn ditemani Rizal, Mama Rima lalu pamit pulang. Wanita paruh baya itu pulang diantarkan oleh Hani. Entah apa lagi yg direncanakan oleh kedua wanita berbeda generasi yg terlihat sangat kompak itu.
“Maaf, An, jika Mama terkesan menekanmu,” kata Mama Rima dgn melembutkan suaranya seperti yg selama ini dia lakukan ketika berbicara dgn Allana. Karena kelembutan Mama Rima itulah, Allana selama ini menyangka jika sang mama mertua tulus menyayanginya.
“Tapi sebagai seorang ibu, Mama tentu ingin melihat Rizal bahagia sebelum Tuhan mengambil nya wa Mama,” lanjut Mama Rima, mulai terisak. Tangan wanita paruh baya itu bergetar ketika menggenggam tangan Allana karena menahan tangis hingga membuat Allana ikut trenyuh.
“Andai kamu sudah menjadi seorang ibu, kamu pasti akan tahu apa yg Mama rasakan saat ini, An. Sungguh, Mama merasa menjadi Mama Mertua yg jahat untukmu.” Tangan Mama Rima yg mulai berkeriput itu, lalu terulur membelai pipi Allana.
“Padahal, bukan begitu maksud Mama, An. Mama sayang sama kamu. Tapi, Mama juga menginginkan yg terbaik utk putra Mama. Apalagi, Rizal itu an ak laki-laki satu-satunya, An. Dia & keturunannya, lah, penerus keluarga kami,” lanjut Mama Rima dgn tatapan mengiba.
Allana yg memiliki hati selembut sutra tentu saja tdk tega melihat sang ibu mertua mengiba seperti itu. Sebelumnya, Allana juga sudah membulatkan tekad akan mundur dari pernikahannya setelah dia mendengar perkataan Mama Rima pada Hani tadi pagi, yg telah menyakiti hatinya. Ditambah perkataan terakhir sang mama mertua yg membuat Allana benar² harus merelakan sang suami utk menikah lagi, demi agar suaminya itu bisa mendapatkan keturunan.
“Iya, Ma. Ana ngerti maksud Mama. Ana akan bicarakan ini dgn Mas Rizal.”
“Tapi tolong, jangan bawa² nama Mama, ya, An.”
“Iya, Ma. Mama tidak perlu khawatir.”
“Janji,” tuntut Mama Rima & Allana hanya bisa mengangguk pasrah.
“Nggak mungkin, Dik.” Suara Rizal kemudian membuat Allana tersadar dari lamunan.
“Apanya yg nggak mungkin, Mas?”
“Kamu, Sayang. Kenapa tiba² kamu punya pikiran seperti itu? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Mas, Dik?”
“Justru karena aku memikirkan perasaan Mas, makanya aku meminta Mas menikah lagi. Aku nggak bisa memberi Mas keturunan sedangkan Mas butuh —”
“Kita masih bisa berjuang sama², Dik.”
“Sampai kapan, Mas? Sementara usia kita makin bertambah & ra himku juga belum sehat.”
Allana terus memaksa & berusaha membujuk sang suami agar bersedia menikah lagi. Allana bahkan mengatakan jika dia akan merasa sangat bersalah kalau sampai mereka menua, tapi dia tetap tak bisa memberi Rizal keturunan.
“Sungguh, aku rela. Asalkan Mas bahagia & bisa memiliki keturunan.”
Di tempatnya duduk, Rizal menyugar rambut frustrasi. Cintanya pada Allana begitu besar. Rasanya, tak mungkin dia sanggup menyakiti sang istri dgn menghadirkan wanita lain dalam rumah tangganya.
Beberapa saat kemudian Rizal tiba² beranjak. "Apa kamu sudah tdk mencintai Mas lagi, Dik? Apa ada laki-laki lain di hatimu? Katakan, Dik! Katakan siapa dia & sejak kapan kalian berhubungan?"
Entah bisikan dari mana, Rizal tiba² memiliki pemikiran sepi cik itu. Padahal dia sangat tahu jika seluruh hidup Allana, sudah diserahkan padanya.

Comments
Post a Comment