Istriku berubah
Aku membuka mata di kamar utama dengan kepala yang terasa amat berat. Entah karena aku kurang tidur atau karena terlalu banyak pikiran semalam.
Aku me mu tu s kan bangkit dari r a n j a n g, begitu kaki m e n y e n t u h lantai, rasa dingin langsung menjalar.
Kupandangi bayangan wajahku di cermin. B i b i r ku pucat, mata s e m b a b, tapi senyum tipis di wajahku cukup membuatku tidak terlihat begitu m e n g e n a s k a n.
Ternyata seperti ini rasanya jadi seseorang yang akhirnya berhenti peduli. Dan mungkin memang itu yang terbaik, karena kalau aku terus menunggu keajaiban, aku hanya akan terlihat menyedihkan di mata pria yang bahkan tak pernah menatapku sebagai istri.
Hari ini aku tidak ingin menangis, aku ingin bermain.
*
*
*
Jam menunjukkan pukul empat sore saat aku berdiri di dapur, memeriksa panci sup di atas kompor. A r o m a beef wellington yang kuubah menjadi sup karena lebih mudah dihidangkan menyebar ke seluruh ruangan.
Di meja makan sudah tertata rapi piring-piring porselen putih, taplak meja bersih, dan bunga segar yang baru kutaruh di vas.
Suara langkah pelan terdengar dari arah tangga. Sontak aku menoleh saat Mas Rega muncul dengan wajah datar. S o r o t matanya langsung tertuju pada meja makan yang sudah tertata sempurna.
“Ada acara apa?” tanyanya datar dengan mata me m i c i ng c u r i g a.
Aku menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil. “Makan malam keluarga. Aku undang Ibu datang.”
Alisnya langsung b e r k e r u t. “Ibu? Kau undang Ibuku ke sini? Kau tidak memberitahuku!”
Aku mengangguk santai sambil memat i kan kompor. “Sudah lama ibu tidak datang ke rumah ini. Aku pikir, sesekali makan bersama itu hal baik. Lagi pula, Ibu pasti ingin tau kabar kita. Dan kalau kuberitau kau pasti m e l a r a n g.”
Belum sempat Rega menjawab, suara langkah lain terdengar dari arah kamar tamu.
“Mas Rega, Kinanti?” Suara itu m e l e n g k i n g lembut.
Amara!
Aku berpaling pelan, melihatnya keluar dengan dress pastel. Dia menatapku dengan senyum tipis, tapi matanya jelas menyimpan k e b e nc i a n.
“Oh, jadi hari ini ada acara?” tanyanya santai, tapi nada s i n i s nya tak bisa disembunyikan.
Aku menatapnya lama sebelum menjawab, “Iya. Makan malam keluarga kecil. Dan kau tentu saja diundang karna kau kan sudah jadi bagian dari penghuni rumah ini.”
Tatapan Amara langsung m e m b e k u, sementara Mas Rega langsung menatapku ta jam.
“Kinanti!” tegurnya tegas. “Kau tidak bisa ....”
“Terlambat,” pot o ngku pelan. “Ibu sudah dalam perjalanan. Aku bahkan sudah kirim sopir untuk menjemputnya.”
Keheningan terasa beberapa detik.
Amara mengg i git b i b i r, menatap Mas Rega seakan minta penjelasan yang tak mungkin didapat. Sementara aku berbalik, menata piring tambahan di meja.
Suasana sore itu begitu sunyi sampai terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Aku m e n a r i k n a p a s dalam. “Ah, Ibu sudah datang.”
Aku langsung berlari keluar tanpa memperdulikan wajah pias dua orang yang saat ini me n egang seperti patung.
“Ibu, selamat datang,” sapaku hangat sambil memel u k Ibu Mas Rega.
Aku sengaja memimpin Ibu, memastikan dia melihat koper Amara yang sudah diselipkan ke balik sofa ruang tamu.
“Wah, rumahnya makin rapi sekarang,” ujar Ibu ramah.
“Aku senang akhirnya Ibu bisa datang lagi.”
“Ya, terakhir kali waktu sebelum pernikahan kalian,” katanya sambil menatap Mas Rega.
“Sudah berapa lama itu? Tiga tahun?”
Rega tersenyum tipis, tapi aku bisa melihat u r at di le hernya me n egang. “Kurang lebih begitu, Bu.”
Aku melirik sekilas ke arah tangga, dan di sana Amara berdiri kikuk.
“Amara,” panggilku manis. “Turunlah. Kenalkan, ini ibu mertuaku.”
Langkahnya tertahan, matanya menatapku tak percaya.
“Kinanti, apa maksudmu ....” tanyanya dengan suara pelan, nyaris bergetar.
Aku mem o tong cepat dengan nada ramah. “Ibu, ini Amara. Teman lama Mas Rega, mereka sudah kenal sejak lama.”
Ibu menatap Amara ramah. “Oh, begitu. Senang sekali bertemu, Nak Amara. Kau cantik sekali.”
Amara tersenyum canggung. “A-aku juga, Bu.”
Aku menarik kursi dan berkata pelan, “Mari duduk, aku sudah siapkan makanan. Semoga Ibu suka.”
Makan malam itu berjalan di atas meja yang tampak tenang, tapi di balik ketenangan itu tersimpan wajah tega n g di antara Mas Rega dan Amara.
“Ibu, aku sebenarnya ingin berterima kasih,” kataku tiba-tiba, menatap ibu Mas Rega dengan tatapan lembut.
“Kalau bukan karena Ibu dan Mas Rega mau menerima w a s i a t dari almarhumah ibuku, mungkin aku tidak akan pernah punya keluarga ini.”
Ibu tersenyum kaku. “Jangan begitu, Nak Kinanti. Kalian berdua sudah berusaha menjaga pernikahan ini, kan?”
Aku menoleh sekilas pada Mas Rega. “Tentu saja, Bu. Mas Rega selalu menjaga apa yang dia anggap berharga."
Mas Rega menatapku dalam diam, sedangkan Amara menelan l u dah serta menunduk cepat.
“Ibu tau,” lanjutku, menatap piringku sendiri, “kadang menjaga sesuatu yang tidak kita cintai jauh lebih sulit daripada kehilangan yang kita sayangi. Apalagi kalau yang kita cintai itu justru menyuruh kita menikahi orang lain.”
Ruangan itu mendadak senyap. Sendok Ibu berhenti bergerak, Mas Rega menatapku ta jam, dan Amara tampak pucat pasi.
“Kinanti!" Mas Rega bersuara ge ram, tapi aku langsung menimpali dengan senyum lembut.
“Tenang, Mas. Aku cuma bicara secara umum kok. Kan tidak semua orang menikah karena cinta, apalagi kalau pernikahan itu hanya p ak s a a n pasti isinya hanya keboh o ngan,” kataku, me n ekankan kalimat terakhir.
Amara akhirnya bicara, dia bersuara lembut tapi sangat menus u k. “Mungkin kalau dua-duanya saling jujur tidak akan ada keboh o ngan, Kinanti. Termasuk tentang masa lalu.”
Aku menatapnya datar. “Oh, kau benar sekali, Amara. Kejujuran memang hal yang ma ha l. Tapi, tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya, termasuk kejujuran bahwa dulu kalian itu pacaran, sebelum Mas Rega dipa ksa menikahiku, iya kan, Bu?”
Wajah ibu me n egang. Tatapan Mas Rega langsung mengha n tamku t a j a m, raha n gnya tampak men g e r a s.
“Kinanti!” Suaranya berat dan tegas, seperti menahan amarah yang hampir me le dak.
Aku tetap tersenyum, menatap Ibu dengan nada paling manis. “Aku hanya ingin jujur, Bu. Supaya tidak ada lagi yang disembunyikan dalam rumah ini. Apalagi, Amara kan sebentar lagi akan menjadi ....”
Aku membiarkan kalimat itu menggant u ng, demi untuk menanti Reaksi Amara.
Wajah Amara tampak p a n i k, bulir-bulir kerin gat mulai membasahi keningnya.
Tak disangka tiba-tiba Mas Rega langsung berdiri, napasnya terdengar berat. “Kinanti, cukup!”
Aku menatapnya sambil mengulas senyum tenang. “Kenapa, Mas? Aku cuma ngobrol kok. Ibu pasti juga senang tau, kalau kita akur dengan teman lamamu.”
Ibu Mas Rega kini menatap kami bertiga dengan bingung.
Amara langsung panik. “Maksudnya … i-iya, Bu. Aku dan Mas Rega dulu pernah ....”
“Tepat sekali,” po tongku cepat. “Dulu mereka pacaran, Bu. Tapi sekarang hub u ngan mereka cuma teman, kan, Mas?”
Wajah ibu me n egang.
Tatapan Mas Rega langsung Rega langsung menud i ngku dengan ta jam.
“Kinanti!” tegurnya lagi.
Aku tetap tersenyum, menatap ibu dengan senyum paling manis yang bisa kuberikan.
Ibu Mas Rega menatap kami lama, sebelum akhirnya berujar pelan, “Rega, apa yang dikatakan Kinanti benar?”
Mas Rega terdiam.
Amara menunduk, menahan air mata. Kurasa dia menahan m a l u saat ini.
Aku menatap mereka bergantian, menunggu jawaban yang tak kunjung datang.
Suasana terasa hening, sampai akhirnya Mas Rega berkata dengan suara rendah nyaris tak terdengar, “Sudah dulu, Bu. Aku rasa makan malamnya cukup.”
Dia berdiri, kursinya bergeser dengan suara ke ra s, lalu berjalan menuju tangga tanpa menatap siapapun.
Ibu menatapku dalam, kecewa. “Kinanti ... sebenarnya apa yang terjadi?"
Aku menunduk, tapi sudut bib i rku terangkat samar. “Maaf, Bu."
Amara berdiri dengan mata berkaca-kaca, lalu berlari keluar tanpa pamit.
Dan aku hanya duduk diam, menatap pungg u ngnya yang menjauh.
Permainan benar-benar sudah dimulai, dan mereka langsung menci u t padahal ini masih permulaan.
Judul : Istriku Berubah (Hati yang T e r k o y a k )

Comments
Post a Comment