Dihina
"Keluar dari rumahku! Lelaki m1skin sepertimu tidak pantas mencintai anakku!"
T4mparan itu tak hanya mendarat di pipiku, tapi juga menghancvrkan harga diriku.
Aku pergi dengan satu janji... aku akan kembali saat mereka menyesal pernah menghinaku. Tapi ketika semuanya sudah kumiliki, perempuan yang kucintai justru...
Part 2
"Siapa yang membuat pipimu seperti itu, Zul?"
Langkahku terhenti di ambang pintu.
Ibu Nuraini baru saja mengangkat ember cucian dari sumur. Air menetes dari ujung kerudungnya. Kedua tangannya memerah karena terlalu lama merendam pakaian.
Beliau menatap pipiku cukup lama.
Aku buru-buru memalingkan wajah.
"Terbentur kayu di sekolah, Bu."
Ibu meletakkan ember itu perlahan.
"Kalau bohong, jangan sambil menghindari mata Ibu."
Dadaku terasa sesak.
Beliau mendekat, lalu menyentuh pipiku dengan ujung jari.
Aku meringis pelan.
Sentuhan itu jauh lebih lembut daripada tamparan Pak Hasyim, tetapi justru membuat dadaku semakin nyeri.
"Dia memukulmu?"
Aku menggeleng.
"Dia menghina kamu?"
Aku kembali menggeleng.
"Ibu...."
Aku memaksakan senyum.
"Sudah lewat."
Tatapan Ibu tidak berubah.
Beliau mengenalku terlalu lama untuk mempercayai kebohongan sekecil itu.
Namun, beliau hanya menarik napas pelan.
"Kalau belum sanggup bercerita, tidak apa-apa."
Aku mengangguk.
Sejak Ayah meninggal, Ibu sudah memikul terlalu banyak beban.
Aku tidak ingin menambah satu lagi.
***
Kamar kecilku masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Satu ranjang kayu.
Meja belajar.
Lemari tua yang mulai dimakan rayap.
Aku mengeluarkan kotak cincin dari saku.
Sudutnya penyok akibat terus kugenggam sejak meninggalkan rumah gadang.
Kubuka perlahan.
Cincin perak itu masih tersimpan rapi.
Benda sekecil itu pernah membuatku begitu yakin bisa membangun masa depan bersama Mariam.
Kini ia hanya menjadi pengingat bahwa keyakinan saja kadang tidak cukup.
Kotak cincin itu kusimpan di dalam laci.
Di sampingnya ada buku tabungan.
Saldo terakhirnya belum mencapai sepuluh juta.
Beberapa amplop honor mengajar tersusun rapi dengan tanggal yang kutulis sendiri.
Tidak banyak.
Namun setiap lembar uang di dalamnya selalu kusisihkan sedikit demi sedikit.
Di bawahnya terlipat sebuah buku tulis.
Aku membukanya.
Di halaman pertama tertulis dengan huruf besar,
BIMBEL CAHAYA ILMU
Aku tersenyum tipis.
Di halaman berikutnya sudah ada daftar kebutuhan.
Empat meja belajar.
Satu papan tulis.
Rak buku bekas.
Kipas angin.
Bahkan aku sudah menulis target membuka kelas pertama sebelum akhir tahun.
Jemariku berhenti pada satu kalimat yang kutulis berbulan-bulan lalu.
"Supaya Ibu tidak mencuci pakaian orang sampai tua."
Tenggorokanku terasa penuh.
Aku segera menutup buku itu sebelum air mataku benar-benar jatuh.
***
"Selamat pagi, Pak Zul!"
Suara anak-anak menyambutku begitu memasuki ruang kelas.
Aku membalas salam mereka dengan senyum.
"Sudah siap belajar?"
"Siap!"
Rina mengangkat tangan lebih dulu.
"Pak, kemarin saya berhasil mengerjakan PR tanpa dibantu Ayah."
"Wah, hebat."
Anak-anak lain ikut berebut bercerita.
Kelas yang semula riuh perlahan berubah menjadi tawa.
Di tempat itu, tak ada yang memandangku sebagai lelaki miskin.
Tak ada yang bertanya siapa ayahku.
Tak ada yang peduli dari suku mana aku berasal.
Mereka hanya mengenalku sebagai Pak Zul.
Guru yang tak pernah bosan mengajari mereka berhitung.
Bel pulang berbunyi.
Saat aku keluar membawa buku-buku pelajaran, dua orang wali murid sedang berbincang di depan gerbang.
Mereka tidak sadar aku mendengar.
"Itu dia orangnya."
"Iya, yang kemarin ditampar di rumah Datuk."
"Kasihan juga."
"Kasihan bagaimana? Sudah tahu anak Datuk, masih saja bermimpi."
Mereka tertawa kecil.
Aku terus berjalan.
Seolah kalimat-kalimat itu hanya angin yang lewat.
Padahal setiap katanya singgah cukup lama di dada.
***
Menjelang sore, aku tiba di rumah.
Sebuah mobil hitam terparkir di depan pagar bambu.
Aku mengenal nomor platnya.
Pak Hasyim.
Beliau berdiri di halaman dengan kedua tangan di belakang punggung.
Sepatunya tetap bersih.
Ia bahkan tidak melangkah masuk ke teras.
Seolah lantai rumah kami terlalu rendah untuk diinjak.
Ibu berdiri menghadapnya.
Keranjang berisi pakaian basah masih berada di dekat kaki beliau.
Aku mempercepat langkah.
"Assalamu'alaikum."
Pak Hasyim hanya melirik sekilas.
"Lumayan cepat pulangnya."
Aku berdiri di samping Ibu.
"Ada perlu apa, Pak?"
Beliau tidak menjawab pertanyaanku.
Tatapannya justru kembali kepada Ibu.
"Bu Nuraini."
Suara itu datar.
"Saya tidak ingin persoalan kemarin berlarut-larut."
Ibu mengangguk pelan.
"Anak saya tidak pernah berniat buruk."
"Saya tahu."
Pak Hasyim tersenyum tipis.
"Sebab itu saya datang baik-baik."
Beliau menghela napas pendek.
"Tolong ingatkan Zul supaya tidak lagi menemui Mariam."
Aku membuka mulut.
Namun Ibu lebih dulu menggenggam lenganku.
Isyarat agar aku diam.
Pak Hasyim memandang jemuran yang bergoyang tertiup angin.
Di sana tergantung puluhan pakaian milik warga kampung.
Sumber penghasilan kami.
"Saya dengar Ibu mencari nafkah dari mencuci pakaian tetangga."
Ibu tidak menjawab.
Beliau hanya menggenggam ujung kerudungnya semakin erat.
Pak Hasyim membetulkan jam tangan di pergelangan kirinya.
Lalu menatap kami bergantian.
"Kalau anak Ibu masih mengejar Mariam..."
Beliau berhenti sejenak.
Tatapannya dingin.
"...jangan salahkan saya kalau dapur rumah ini ikut padam."

Comments
Post a Comment