Istriku meminta cerai

 


Hampir satu jam berlalu. Menunggu ternyata jauh lebih melelahkan daripada rapat direksi. Arya bahkan sudah tertidur lelap di sampingku. Apa semua wanita butuh waktu selama ini hanya untuk berganti pakaian? Tapi ini bukan keinginan Khayra, ini paksaanku. Jadi aku hanya bisa mengumpat dalam hati sambil menahan perut yang mulai keroncongan.


​"Tuan..."


​Suara lembut itu memecah lamunanku. Aku mendongak, dan seketika duniaku seolah berhenti berputar. Mataku terpaku pada sosok yang berdiri di depanku.


​Dia... Khayra? Janda yang biasanya terlihat kumal dan dekil itu?


​Aku sampai melongo, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Penampilannya sangat berbeda. Tidak ada riasan menor, hanya polesan tipis yang membuat wajahnya tampak segar dan bercahaya. Gaun yang dipilihkan sangat pas di tubuhnya, membuatnya terlihat anggun tanpa harus menjadi glamor berlebihan.


​"Tuan?" panggilnya lagi, tampak gelisah karena aku hanya diam menatapnya tanpa kedip.


​Aku berdeham, berusaha menguasai diri. Gengsi rasanya kalau harus memuji secara terang-terangan, meski hatiku berteriak setuju dengan perubahan ini.


​"Wah, Ibu cantik sekali!" puji Arya yang tiba-tiba terbangun.


​"Terima kasih, Arya..." Khayra tersenyum manis pada putranya.


​"Tuan... bagaimana menurut Tuan?" Khayra menatapku penuh harap.


​"Sudah selesai?" tanyaku dingin, mengalihkan pandangan dengan sengaja. Aku tidak ingin dia membaca kekaguman di mataku. "Kalau sudah, ayo cepat."


​"Iya, Tuan... tapi, ini harganya mahal sekali. Kenapa kita tidak cari yang di pasar saja?" keluhnya saat melihat label harga.


​Aku mendengus. Dasar wanita aneh. Kenapa harus meributkan uang di depan orang kaya? "Karena kau sudah berani bermimpi menikah dengan orang kaya, maka kau harus punya modal. Setidaknya berpenampilanlah lebih baik. Masalah uang... tentu saja kau bisa mencicilnya nanti dari gajimu," ucapku sambil memasukkan ponsel ke saku.


​Khayra terdiam saat menenteng tiga kotak baju baru. Wajahnya berubah khawatir. Aku tahu apa yang dia pikirkan, gajinya sebagai pengasuh Nenek mungkin tidak akan cukup untuk melunasi ini dalam waktu singkat. Tapi dia lupa, sekarang dia adalah "istriku". Ya, meskipun di mataku dia tetap pembantu, tapi setidaknya gaji pembantuku harus lebih besar dari pengasuh Nenek, kan?


​"Kenapa diam saja? Ayo, aku sudah lapar!" sentakku.



​Aku memilih sebuah restoran lesehan dengan suasana yang tenang. Ini tempat favoritku jika ingin berpikir jernih sepulang dari Amerika. Khayra dan Arya nampak begitu antusias, wajah mereka berseri-seri melihat interior restoran yang nyaman.


​"Kalian mau pesan apa?" tanyanya.


​"Bolehkah kami memesan menu yang sama dengan Tuan saja?" jawab Khayra sopan.


​"Boleh."


​"Tapi satu porsi saja, Tuan. Nanti saya akan berbagi dengan Arya," tambahnya lagi, khas sifat hematnya yang terkadang menyebalkan.


​"Terserah kau sajalah," sahutku acuh tak acuh.


​Aku menyebutkan menu andalanku pada pelayan. Sembari menunggu makanan datang, rasa iseng tiba-tiba muncul. Diam-diam, kunyalakan kamera ponsel. Tanpa suara, aku membidikkan lensa pada Khayra yang tengah tertunduk malu-malu sambil merapikan jilbab barunya.


​Aku tersenyum sendiri melihat hasil foto itu. Aku, seorang Aldan, diam-diam mencuri foto wanita yang kusebut pembantu dan memuji kecantikannya dalam hati? Hei, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Ini sangat tidak biasa. Tapi entahlah, aku belum ingin mencari tahu apa namanya.


bersambung

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit