Kepala Alaric mendadak berdenyut nyeri. Rasa pening itu datang bersamaan dengan ingatan tentang permintaan aneh ibunya yang menyodorkan satu nama—Lila—sebagai calon istrinya.
Bahkan, sang ibu dengan terang-terangan menyebut perjodohan ini berlatar bisnis. Sebuah ide yang tidak hanya konyol bagi Alaric, tetapi juga mengusik prinsip hidup yang diam-diam dia pegang.
Dia kerap membaca kutipan yang berseliweran di media sosial: bahwa pernikahan adalah perjalanan seumur hidup, dan jangan sampai salah memilih pasangan, karena ketika cemburu lahir di mata orang yang tepat, dia akan dipandang sebagai bentuk perhatian yang manis. Namun, jika jatuh pada sudut pandang yang salah, dia hanya akan dianggap sebagai beban yang berlebihan.
Alaric tahu, Lila jelas bukan gadis yang tepat untuknya.
Untuk menghindari perjodohan dengan musuh bebuyutannya, Alaric terpaksa melemparkan sebuah kebohongan, dan dia mengaku sudah memiliki kekasih. Namun kini, siasat itu justru menjebaknya dalam kerumitan yang tak berujung.
Alaric mulai frustrasi, jemarinya memijat pelipis sembari memutar otak, mencari satu nama gadis acak yang bisa dia jadikan 'tumbal' untuk sandiwara ini.
Di tengah kekacauan isi kepalanya, satu sosok terpercaya melintas. Siapa lagi kalau bukan Verdi? Sahabat sekaligus bawahannya yang selalu bisa diajak bekerja sama dalam hal apa pun, termasuk membohongi ibunya sendiri.
Namun, tepat ketika jemari Alaric bersiap mengetik pesan untuk Verdi, layar ponselnya berkedip cepat. Suara notifikasi Instagram mendadak ramai, beruntun tanpa jeda. Dahinya berkerut dalam. Perasaan heran perlahan merayap, sebab seingatnya, sudah dua hari ini dia tidak mengunggah apa pun, baik di akun pribadinya maupun di akun resmi Rhea Property.
Didorong rasa penasaran mengapa begitu banyak akun yang menandai namanya dalam sebuah unggahan, Alaric mengurungkan niat menghubungi Verdi dan beralih membuka aplikasi berlogo kamera tersebut.
Detik berikutnya, sebuah postingan dari akun gosip sukses membuat bola mata Alaric nyaris melompat keluar. Sebuah headline mencolok langsung menyapa indra penglihatannya, memicu ratusan tanda suka dan puluhan komentar hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
"CEO dari Rhea Property yang mencuri perhatian dan sedang viral, ternyata sudah bertunangan. Siapa gadis yang beruntung itu?"
Alaric menggelengkan kepala, tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca. Bagaimana mungkin gosip itu menyebar secepat kilat, padahal dia baru saja mendengar rencana perjodohan itu dari ibunya beberapa menit yang lalu?
Tak butuh waktu lama bagi Alaric untuk menebak siapa dalang di balik semua kekacauan ini.
Apa motif si upik abu itu dengan menyebarkan gosip murah seperti ini? Sepertinya, aku benar-benar harus mencari gadis tandingan untuk menjatuhkan harga dirinya. Kata Alaric dalam hati.
Penasaran dengan sejauh mana gosip ini digulirkan, Alaric memutuskan untuk membaca caption dan menggeser deretan foto di unggahan akun gosip tersebut.
Di slide pertama, terpampang foto dirinya yang dia unggah dua minggu lalu saat berlibur ke Dubai. Balutan kemeja formal dengan latar belakang kemegahan Burj Khalifa seolah menjadi penegasan visual bahwa dia bukan CEO sembarangan.
"Dia pandai memilih fotoku yang paling tampan," Alaric terkekeh sinis, menyisakan gema hambar di ruangan kerjanya. Namun, senyum itu luntur seketika saat jarinya menggeser ke slide kedua. Foto Lila terpajang di sana dengan senyum yang dibuat seanggun mungkin. "Sudah kuduga, dia penyebar gosipnya."
Fokusnya kini beralih pada baris-baris kalimat di bawah foto, membedah setiap kata yang sengaja disusun untuk menggiring opini publik.
"Alaric Smith, CEO Rhea Property akhirnya menemukan pendamping hidup. Mantan model yang kini sibuk di bisnis properti dan namanya mulai ramai lagi di media sosial setelah tampil menjadi bintang tamu di sesi live yang mempromosikan salah satu produk parfum. Dan, gadis yang beruntung menjadi calon istrinya adalah Aurora Khalila, putri dari Arman Wijaya. Momen ini menjadi hari patah hati nasional bagi para penggemar Alaric Smith."
Alih-alih mengamuk, Alaric justru tertawa kecil—sebuah tawa yang sarat akan ironi. Ingatannya langsung melayang pada akun Hater bernama Queennora, sosok misterius yang sering menyindirnya dan beberapa waktu lalu sempat menasihatinya agar fokus pada bisnis properti dan mundur dari hingar-bingar dunia live serta panggung selebriti.
"Ketika aku ingin mundur, tapi berita ini malah mengangkat kembali namaku."
Berita sepihak yang dihembuskan oleh kubu Lila saat ini seolah sengaja dirancang agar aura dan popularitas Alaric tidak meredup, sekaligus mengunci posisinya agar dia tidak bisa mengelak dari perjodohan ini.
"Aku yakin, sebentar lagi akun Queennora akan berkomentar— 'Tukang Live menolak redup'," gumam Alaric.
Belum sempat dia membuka kolom komentar untuk melihat huru-hara yang mulai memanas, sebuah notifikasi pesan masuk memotong jalur pikirannya. Nama Verdi berkedip di layar ponsel.
[Uhuy, akhirnya bosku laku juga setelah menjomlo ribuan tahun dan melewati beberapa kali reinkarnasi. Jodohnya ternyata si upik abu. Sepertinya perang dunia akan terjadi setiap hari kalau perjodohan itu lanjut ke pernikahan.]
Alaric mendengus, namun jemarinya dengan cepat mengetikkan balasan, menyembunyikan gejolak rencana yang mulai tersusun rapi di kepalanya.
[Gosip murahan itu sangat menghibur. Sejujurnya, aku menunggu akun Queennora untuk berkomentar.]
Dia mengetuk layar ponsel dengan ujung telunjuknya. Satu hal yang harus dia pikirkan sekarang adalah mencari gadis yang mau berpura-pura menjadi kekasihnya—sosok yang secara otomatis akan menjadi saingan Lila di hadapan ibunya.
"Verdi pasti punya stok teman wanita yang bisa diajak bekerja sama," pikirnya.
[Ver, punya kenalan gadis yang mau dijadikan tumbal untuk Ibu Suri?]
Pesannya langsung centang biru. Namun, Verdi tak kunjung mengirim balasan. Mungkin sahabatnya itu sedang menimbang-nimbang satu nama yang pas untuk Alaric. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
[Tumbal untuk Ibu Suri? Tumbal untuk pesugihan maksudmu?]
Tawa Alaric meledak saat membaca pesan Verdi. Dengan lincah, dia membalas pesan itu.
[Aku mencari gadis yang mau dijadikan pacar sewaan. Tidak harus cantik, asal pintar mengolah kata, penampilan oke, menguasai table manner, nilai plus kalau dia bisa berbahasa Inggris aktif dan lulusan sarjana.]
Balasan Verdi datang dalam hitungan detik setelah pesan terdeteksi centang biru.
[Kamu mencari pacar sewaan atau sekretaris pribadi, Ric? Sekalian saja cari gadis yang menguasai elemen udara, air, bumi, dan api. Lumayan, kalau punya pacar Avatar, bisa jalan-jalan pakai banteng terbang.]
Alaric mendengus kesal. "Gini, nih, kalau ngobrol sama si Upil lewat chat. Nggak nyambung. Harus ketemuan biar jelas."
Alaric bangkit dari ranjang dan langsung menyambar kunci mobilnya. Sejenak dia ragu saat akan membuka pintu kamar. Bayangan Lila yang masih ada di rumahnya membuatnya enggan untuk keluar dari sarang persembunyiannya. Namun, dia tak bisa menunda untuk bertemu Verdi karena tenggang waktu seminggu untuk menemukan gadis itu sudah berjalan.
"Semoga Verdi bisa membantuku memecahkan masalah ini."

Comments
Post a Comment