Aku rela makan nasi garam demi punya ru mah impian. Saat suamiku sudah be li ru mah itu aku senang, tapi ternyata ru mah itu bukan untukku. Ru mah itu untuk se ling kuh an nya. Yang lebih gi la lagi su ami ternyata sudah me na bung mahar 500 juta untuk wanita itu!




"Kembalikan ponsel itu, Yuna! Jangan berani-berani membukanya atau Mas pastikan kamu keluar dari sini tanpa membawa nya wa!"


Suara Mas Yoris menggelegar, bergetar oleh kemarahan yang bercampur dengan ketakutan yang sangat nyata. Matanya yang biasanya menatapku dengan remeh, kini berkilat gelap dan mengan cam.


Dia mencoba mener jang maju, tetapi aku lebih cepat. Aku berkelit ke balik meja jati besarnya, mende kap ponsel cadangan hitam itu di da daku.


"Yoris, cepat ambil! Jangan sampai si gem bel itu baca!" Gista berteriak panik.


Wajah cantiknya yang tadi penuh kemenangan kini tampak pucat pasi. Dia mencoba ikut mengejarku, tetapi sandal jepitku yang tipis justru membuatku lebih lincah bergerak di atas lantai marmer yang licin ini dibandingkan high heels merahnya.


Aku tidak peduli pada ancaman mereka. Jariku dengan cepat mengusap layar ponsel yang ternyata tidak dikunci. Mungkin Mas Yoris merasa terlalu aman di dalam benteng kemewahannya ini, sampai dia lupa mengunci pintu rahasianya.


"Jangan, Yuna! Mas peringatkan kamu!"


Aku tidak mendengar. Mataku langsung tertuju pada aplikasi pesan hijau. Di sana, di urutan paling atas, ada nama kontak yang dihiasi simbol hati. Gista Sayang.


Dengan tangan yang sedingin es, aku membuka obrolan itu. Aku berlari masuk ke dalam toilet pribadi yang ada di sudut ruangannya, lalu mengunci pintunya dari dalam tepat sebelum tangan Mas Yoris berhasil meraih pundakku.


"Buka pintunya, Yuna! Sia lan! Buka!" Mas Yoris menggedor pintu kayu jati itu dengan brutal.


Aku tidak menjawab. Aku duduk di atas tutup kloset yang dingin, napas memburu, dan mulai membaca. Setiap baris kalimat yang muncul di layar ponsel itu terasa seperti paku yang dipa lu paksa ke jantungku.


(Sayang, aku capek nunggu. Kapan, sih, kamu ten dang si kusam itu?)


(Sabar, ya, Gista Sayang, si kusam itu cuma alat buat aku. Dia itu he matnya luar biasa, disuruh makan nasi saja mau tanpa protes. Uang ga jiku utuh buat kita.)


Da rahku serasa berhenti mengalir. Cuma alat?


Aku menatap layar dengan mata yang mulai memanas. Ada sebuah foto yang dikirimkan Mas Yoris kepada Gista. Itu fotoku. Foto yang diambil diam-diam saat aku sedang mencuci baju di belakang rumah, memakai daster robek yang warnanya sudah pudar, dengan rambut lepek dan wajah yang kelelahan.


(Lihat, deh, pembantu gra tisku.)


Gista mengirim stiker tertawa.


(Duh, kasihan, ya. Tapi, emang cocoknya jadi ba bu, sih. Setelah kita nikah di gedung mewah bulan depan, dia bakal kamu ten dang ke jalanan, 'kan?)


(Pasti, Sayang. Aku mau ajukan surat ce rai ke pengadilan. Begitu kita sah di hotel bintang lima, dia bakal aku buang ke tempat sampah. Dia itu pembawa sial, bikin aku ingat masa susah terus.)


Aku menutup mulutku dengan tangan agar isak tangisku tidak terdengar. Jadi, selama tiga tahun ini, ketulusanku dianggap sebagai lelucon? Pengorbananku dianggap sebagai cara untuk membi ayai kemewahan wanita lain? Aku bukan istrinya. Aku hanyalah sapi perahan yang dia pe ras tenaganya untuk membangun istana bagi Gista.


Aku mengusap layar lebih jauh. Ada foto-foto desain undangan pernikahan yang sangat mewah. Ada bukti reservasi gedung di sebuah hotel bintang lima untuk tanggal dua puluh bulan depan. Tepat satu bulan dari sekarang.


"Tiga tahun aku menjadi budakmu, Mas," bisikku pada kesunyian toilet yang mewah ini.


Suaraku tidak lagi bergetar. Rasa sakit itu telah mencapai puncaknya dan kini berubah menjadi amarah yang membatu.


"Aku menahan lapar agar kamu bisa pamer kemewahan pada wanita ini. Kamu menyebutku alat? Baik. Alat ini yang akan menghancurkan seluruh rencanamu."


Aku menghapus air mataku dengan kasar. Aku berdiri, merapikan kemeja putihku yang menguning, lalu membuka kunci pintu toilet.


Mas Yoris dan Gista berdiri tepat di depan pintu dengan wajah yang tegang. Begitu aku keluar, Mas Yoris langsung merampas ponsel itu dari tanganku. Dia memeriksa isinya dengan cepat, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat sombong.


"Sudah puas bacanya?" tanya Mas Yoris dingin. Dia tidak lagi mencoba berbohong. "Ya, itu kenyataannya. Kamu memang cuma alat buat Mas. Kamu pikir Mas benar-benar cinta sama perempuan kusam seperti kamu? Dulu, iya. Waktu Mas masih miskin. Kita setara. Tapi, sekarang Mas cuma butuh orang bodoh yang bisa disuruh hemat!"


"Gedung mewah bulan depan, ya?" Aku menatapnya dengan mata yang kosong dan sangat dingin. "Rencana yang sangat bagus, Mas Yoris. Kamu sudah menyiapkan semuanya dengan sangat rapi."


"Tentu saja!" Gista menyahut, dia memeluk lengan Mas Yoris dengan gaya menantang. "Yoris itu hebat. Dia tahu mana wanita yang layak dijadikan ratu, dan mana yang cuma layak jadi ba bu."


Mas Yoris mendengus, dia merasa sudah menang karena aku tidak menangis histeris seperti yang dia bayangkan.


"Sekarang kamu pergi dari sini! Pulang dan siapkan baju-bajumu! Mas nggak mau lihat muka kamu lagi di rumah itu!"


Aku tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang membuat Mas Yoris sedikit mengernyitkan dahi karena merasa aneh.


"Aku nggak akan lapor polisi, Mas. Aku juga nggak  akan mengemis agar kamu kembali," ucapku dengan nada yang sangat tenang. "Aku hanya ingin memastikan satu hal."


"Apa?!" bentak Mas Yoris sombong.


"Bahwa di hari pernikahanmu nanti, nggak akan ada satu rup iah pun tersisa di reke ning dua miliarmu itu. Aku akan memastikan kamu dan ratumu ini menikah di bawah jembatan, bukan di hotel bintang lima."


Mas Yoris tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh tawa melengking Gista. "Kamu mau kuras ua ng Mas? Pakai apa? Kamu bahkan nggak tahu nomor PIN-nya! Kamu itu cuma istri bod oh yang nggak punya apa-apa!"


Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap mereka berdua untuk terakhir kalinya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Aku berjalan melewati meja resepsionis yang tadi menghinaku, melewati lobi yang megah, dan keluar menuju teriknya matahari Jakarta.


Aku tidak lagi merasa panas. Aku tidak lagi merasa lapar. Di kepalaku, hanya ada satu tujuan. Menghancurkan setiap keping kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaanku.


"Permainan dimulai, Mas Yoris," bisikku sambil menatap gedung Treasury Tower yang menjulang tinggi. "Dan kali ini, si kusam ini yang akan memegang kendali."


 


 Bersambung ...

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit