Cintaku tak datang dari keluarga, tetapi dari duda ini




"Wahai diriku yang  kuat, sehat-sehat selalu ya untuk bisa lebih sukses. Ya Allah, sehatkan dan kuatkanlah diri ini selalu."


Kalimat itu terucap seperti doa, sebuah janji pada angin sore yang menyapu wajahku. Aku menatap jalanan di depan restoran yang mulai ramai, tetapi  yang kulihat adalah jalan panjang yang harus kutempuh sendirian. Sebuah jalan yang baru saja kubuka pak sa untuk diriku sendiri.


"Hidupku harus lebih berguna ke depannya," bisikku pelan, lebih pada diriku sendiri.


Kini, jalanku sunyi dan panjang. Tak ada lagi keluarga yang akan menyokong dan mendampingiku. Aku adalah be ban bagi mereka, setidaknya itulah yang kakak-kakak katakan tentangku. Biarlah kususuri jalan panjang ini sendiri, kupasrahkan hidupku pada-Mu ya Allah.  


 Ingatan itu muncul dalam kilasan-kilasan acak memoriku.  Ayah yang tersenyum senang dalam diamnya setiap menatap tanah yang akan diwariskan pada a nak-an aknya. Wibawanya terasa bahkan saat ia tidak bicara.


 Ibu yang selalu bersahaja dan rajin bersedekah, entah itu sekadar membagikan hasil kebun pada tetangga atau memberikan sumbangan, nilainya kecil atau besar, tangannya selalu ringan. Rumah  dulu tidak pernah sepi. Selalu ramai oleh tawa dan harapan-harapan yang dilambungkan tinggi ke langit.


Lalu, keruntuhan itu dimulai, perlahan nan pasti.


Kilasan ingatan pertama adalah tentang Mas Hamdi, suami Mba Lestari. Ayah memberinya pekerjaan bagus di pab rik pu puk dengan gaji yang lebih dari cukup.Namun, ia keluar setelah tiga bulan. 


"Capek, Yah. Nggak betah disuruh-suruh orang," katanya waktu itu dengan enteng, sambil meng i sap ro kok nya di teras. Ayah hanya diam.


Lalu Ayah memberinya modal sebuah mobil minibus untuk direntalkan. Mobil itu hi lang, entah digadaikan atau diju al. Mas Hamdi pulang dengan wajah memelas, dan Ayah hanya bisa menghela napas panjang, menatap Mba Lestari yang menangis di sampingnya.


 Belum selesai, Ayah memberinya mo dal lagi, kali ini mobil bak terbuka untuk jualan sayur keliling. Belum genap sebulan, mobil itu me nab rak seorang pejalan kaki. Lagi-lagi, Ayah yang harus menju al sepetak sawah di dekat sungai untuk menanggung biaya pengobatan dan ganti rugi.


Puncaknya, kudengar ia se ling kuh, bukan sekali, tetapi berkali-kali. Mba Lestari selalu menutupi semuanya dengan air mata dan pembelaan. 


"Dia khilaf. Dia sudah janji tidak akan mengulanginya lagi." Sampai akhirnya Ayah dan Ibu tiada, barulah ia menyerah dan mereka bercerai.


Aku bersyukur, bertahun-tahun menjadi bu dak cin ta barulah dia sadar akan tindakannya yang selalu melindungi Mas Hamdi secara berlebihan hingga menguras semua har ta Ayah. Bahkan bagian yang seharusnya menjadi bagianku pun terkuras juga untuk menutupi kelakuan suaminya itu.


Ingatanku beralih pada Mba Ayu. Suaminya, Mas Badu, pria yang tampak sopan di depan Ayah, tetapi tangannya ringan dan mulutnya ka sar di belakang. Berulang kali Mba Ayu pulang ke rumah dengan le bam di lengan yang coba ia tutupi dengan lengan panjang bajunya, atau sudut bi bir yang beng kak terkadang matanya yang membiru.


Ayah mengeluarkan u a ng tak sedikit, bukan untuk memba las, tetapi  memba yar beberapa orang untuk membantu proses perce raian Mba Ayu agar tidak rumit dan bisa berjalan tenang. Namun, Mba Ayu terlalu cinta. Ia selalu kembali pada suaminya yang menyaki tinya, dengan alasan, "An ak-a nak butuh bapaknya."


Kelakuan kedua kakakku itu betul-betul membuat geram. Tak sedikit juga tanah Ayah yang tergadai atau terjual untuk menopang kehidupan Mba Ayu juga menyewa penga cara dalam perceraian itu. Namun, lagi-lagi cin ta mengua sai pandangan dan hatinya.

Lalu Mas Arya. Kakak laki-laki satu-satunya yang kuharapkan bisa melindungiku. Ia menikah dua tahun sebelum Ayah wafat. Istrinya, Mba Linda, cantik dan modis, tetapi  tak pernah mau berbaur dengan kami. Ia selalu menjaga jarak, seolah kami adalah penya kit menu lar. 


Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Mas Arya memo tong pohon-pohon jati Ayah di kebun belakang untuk dijual kayunya, belum lagi sepetak tanah Ayah yang agak jauh dari rumah, kudengar sudah dia ju al juga tanpa sepengetahuan yang lain.


Hasil penjualan itu entah kemana.  Kabarnya  untuk memanjakan dan menghadiahkan  kemewahan pada  istrinya  yang s ok cantik itu. Padahal di dalam tanah dan pohon itu, ada bagianku juga.


Aku bahkan mengorbankan kuliahku yang baru saja kumulai karena biaya yang telah Ayah siapkan untukku disero bot oleh mereka. Mereka berdalih dengan alasan berbagai macam hingga Ayah dan Ibu luluh. 


Kilasan-kilasan itu berhenti. Gambar-gambar pahit itu memudar, menyisakan satu kesimpulan yang baru kusadari dengan jelas sekarang. Tanah Ayah berkurang bukan karenaku. Keluarga ini han cur bukan karenaku. Semuanya adalah ulah kakak-kakaku dan pasangannya. 


"Sudah mau Maghrib, Zam. Nggak pulang?" Suara Inuy menepuk bahuku, mena rikku dari pusaran masa lalu.


Aku hanya tersenyum tipis. "Iya, Nuy. Aku duluan, ya."


Di sepanjang perjalanan pulang, senyum getir itu tak hilang dari bibirku. Lucu sekali. Selama ini aku merasa menjadi du ri dalam da ging bagi mereka. Ternyata, merekalah beban yang sebenarnya. Merekalah pa rasit yang mengge rogoti pohon keluarga hingga kering dan akhirnya tumbang. Aku hanyalah korban dari kese rakahan dan kesa lahan mereka memilih pasangan.


Aku teringat sepetak tanah di ujung desa, dekat pematang sawah. Ayah pernah membawaku ke sana saat aku masih sekolah dasar. 


"Ini untukmu, Zamira. Simpananmu kalau sudah besar nanti," katanya sambil mengusap kepalaku. 


Namun setelah Ayah tiada, surat tanah itu entah bagaimana sudah berpindah tangan ke Mas Arya. 


Alasannya? "Dipin jam dulu, buat mo dal. Kamu kan masih kecil, belum butuh u a ng," kata Mba Lestari waktu itu, dan yang lain mengangguk setuju. Seolah mereka sedang melakukan hal yang paling benar dan mulia.


 Dulu aku hanya diam, aku terlalu kecil untuk mengerti dan melawan. Kini, diam itu terasa seperti kebo dohan yang menya kitkan.


Dua minggu berlalu begitu cepat. Setiap hari aku berangkat pagi dan pulang sore. Lelah setelah seharian bekerja melayani pelanggan, tetapi  lelah yang membahagiakan. Lelah yang membuatku bisa tidur nyenyak di malam hari. 


Sore itu aku turun agak jauh dari depan gang rumahku.   Aku melanjutkan dengan  berjalan  kaki yang terasa lebih mantap dan menyehatkan.  Aku  melihat Mba Lestari dan Mba Ayu, duduk santai di kursi rotan di teras rumah Mba Lestari. Seolah sengaja menungguku lewat.


Jalan ini adalah satu-satunya akses menuju rumahku yang terletak beberapa meter di belakang rumah mereka. Aku tahu tatapan mereka yang ta jam sudah terkunci padaku bahkan sebelum aku melihat mereka. Aku mencoba mengabaikannya, terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan.


"Lihat itu," suara Mba Lestari terdengar jelas, sengaja dikeraskan agar sampai ke telingaku. "Anak gadis kela yapan sampai sore. Mau jadi apa dia nanti."


Mba Ayu menimpali dengan nada si nisnya yang khas, sambil membuang kulit kuaci ke tanah. "Awas saja nanti kalau sampai kejadian yang aneh-aneh dan bikin malu keluarga. Kita juga yang repot."


Aku tidak berhenti. Aku terus berjalan, hanya menoleh sekilas dengan wajah lelah yang kubuat sedatar mungkin. Aku memasang wajah tak peduli. Membiarkan kata-kata mereka lewat begitu saja seperti angin. Reaksiku yang datar sepertinya membuat mereka lebih geram, karena kudengar Mba Lestari berdecak ke sal.


Tepat saat aku akan berbelok ke jalan menuju rumahku, aku berhenti. Aku tidak membalikkan badan sepenuhnya, hanya sedikit menolehkan kepala ke arah mereka.


Suaraku keluar dengan tenang, tanpa getar amarah, tetapi cukup keras untuk sampai ke telinga  mereka yang berjarak beberapa meter. 


"Nggak usah pedulikan aku. Kan aku hanya beban."


Aku berhenti sejenak, membiarkan mereka mencerna kalimatku yang penuh ironi itu, sebelum melontarkan pu ku lan terakhirku.


"Awasi saja anak gadis kalian. Jangan sampai kejadian seperti pra sangka kalian kepadaku."


Aku tidak menunggu jawaban mereka dan  langsung berbelok dan terus berjalan. Namun, aku masih bisa mendengar suara mereka yang geram di belakangku.


"Apa maksudnya itu?!" Suara Mba Ayu berte riak.


"Ku rang a jar sekali anak itu sekarang!"


"Benar-benar sudah tidak punya sopan santun!”


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit