“Semoga saja anak itu nggak sadar!” batin Bi Narsih.


Untungnya, Rosita menuruti ucapan Bi Narsih, yang memintanya menggunakan baju dengan kerah sedikit tinggi.


Agar tak sampai masuk angin atau kedinginan, karena saat itu sedang musim hujan.


“Ada apa Nak?” tanya Bi Narsih lagi yang masih diabaikan Rania.


Karena hal itu, Bi Narsih semakin curiga kala melihat gelagat gadis yang berbicara dengannya.


“Kenapa dari tadi Neng Nia melihat Mama terus?” tanya Bi Narsih yang mulai khawatir. “Kangen ya, kalau kangen sana mendekat!”


Bi Narsih mencoba memancing perbincangan yang tak tahu akan mengalir ke arah mana.


Seandainya perbincangan itu merembet ke arah masalah di rumah, maka dia akan berusaha menutupinya.


Setidaknya untuk sementara waktu.


Namun jika masalah itu, mengarah ke hal lain, dia pun harus tahu apa itu.


“Iya, tapi sepertinya Mama sedikit berbeda.”


Jantung Bi Narsih berdetak lebih cepat dari biasanya, kala Rania mengatakan apa yang dia takutkan.


“Berbeda bagaimana?” tanya wanita itu seraya menjaga ekspresi wajahnya.


“Nggak seperti sebelum-sebelumnya. Sejak kemarin, Nia rasa Mama sedang menghadapi masalah dan terlihat sedang menahan amarah.”


Mendengar kalimat itu, seketika Bi Narsih menatap wajah Rania.


Mencoba menelisik sesuatu yang ada di sana.


“Anak ini, apa yang dia tahu?” batin Bi narsih.


Pasalnya, pagi kemarin Rosita mampir dengan wajah cerita.


Memang terlihat lelah, tapi tak ada gurat amarah di sana.


Terlebih lagi, Rosita juga tak memberitahu Rania kalau dia mampir ke rumah sakit untuk menjenguk papanya.


“Mungkin Mama lelah Nak, itu sebabnya dia jadi uring-uringan,” kilah Bi Narsih yang berusaha menggiring opini ke arah lain.


Hening.


Tak ada tanggapan maupun sanggahan yang terlontar dari mulut gadis itu.


“Rania, kamu jaga Papa ya, biar Bibi bisa istirahat di rumah,” ucap Rosita tiba-tiba.


Membuat Rania terkejut dan hampir menumpahkan makanan di hadapannya.


“Tapi, Ma!” Rania membantah, lantaran dia ingin pergi bersama teman untuk menghadiri sebuah pesta.


“Nggak ada tapi. Bibi di rumah dan kamu berjaga!” pungkas Rosita, membuat Rania takut untuk kembali bicara.


“Baik Ma.” Gadis itu menundukkan kepala, benar-benar tak berani menatap wajah sang Mama.


Wanita itu berlalu, setelah mengambil makanan untuk suami tercinta.


Kemudian duduk di samping brankar Baskoro dan bersiap menyuapinya.


“Sejak kuliah, kamu selalu saja keluyuran kemana-mana. Nggak seperti Farida yang bisa membagi waktu untuk keluarga,” ucap Rosita lagi tanpa melihat ke arah Rania.


Seketika Rania mendongakkan kepalanya.


Menatap sang mama dengan wajah yang sudah memerah.


Merasa tak suka kala nama Farida disebut Rosita.


“Farida, sejak kapan Mama jadi membandingkanku dengannya? Kenapa juga nama itu disebut sepagi ini, membuat mood ku semakin buruk saja!” batin Rania, sembari menahan amarah.


Bi Narsih melihat perubahan sikap Rania dengan sangat jelas.


Namun dia hanya diam saja.


“Mamamu benar Nak, sebaiknya kamu di sini menemani Papa. 


Kalau Kakakmu ada, Papa akan meminta dia,” sahut Baskoro membenarkan ucapan istri tercinta.


Hati gadis itu semakin dongkol, kala mendengar nama Farida kembali disebut mama dan papanya.


“Farida lagi! Tak pernahkah orang-orang ini hanya melihat padaku saja?” maki Rania yang hanya bisa dia sampaikan dalam hati saja.


Karena pada kenyataannya, gadis itu hanya terdiam.


Pasrah dengan keadaan yang menimpa.


Rosita sudah selesai menyuapi Baskoro dan akan pamit ke kantor.


Pun juga Bi Narsih yang akan pulang ke rumah.


Bukan dia tega mengabaikan Rania, tapi karena ada sesuatu yang ingin dia ketahui.


Sementara Rania, dengan keterpaksaan, dia menetap di sana menemani sang papa.


“Non hati-hati di jalan ya!” ucap Bi Narsih saat menemani Rosita menuju mobilnya.


Wanita itu masih menunggu taxi yang belum juga tiba.


“Iya Bi. Bibi juga hati-hati, dan segera istirahat kalau sudah sampai rumah.”


Rosita melambaikan tangannya, kemudian meninggalkan Bi Narsih.


Tak lama, mobil pesannya pun tiba.


“Nak Jo, bisa kirimkan alamat rumahmu! Sekarang saya sedang di jalan dan ingin mampir ke sana.”


Bi Narsih mengirim pesan, dan langsung menerima balasan saat itu juga.


Wanita itu pun menunjukan alamat yang dituju pada supir dan memintanya melaju lebih cepat dari biasanya.


Seperti yang diharapkan, dia pun tiba dengan cepat dan selamat.


Dan saat sampai, wanita itu terperangah.


Ada beberapa pemuda seumuran Jonatan sedang berjaga di sepanjang jalan menuju halaman rumah.


Membuat supir yang mengantar sedikit takut, dan sempat menolak untuk mengantar Bi Narsih masuk.


“Jarak pintu gerbang ke villa utama sangat jauh, jadi langsung masuk saja. Bapak silahkan ikuti saya!” ucap seorang penjaga yang memang sudah mendapat perintah untuk mengawal Bi Narsih.


Mobil itu pun melaju, mengikuti sebuah motor yang menjadi petunjuk arah.


Bi Narsih kembali terperangah, kala melihat villa yang sangat besar.


Apalagi, di sana ada banyak pemuda dengan tubuh yang terlihat kekar.


“Bu, ini saya langsung pergi saja, ada orderan yang sudah menunggu soalnya!” kila Pak Supir yang sebenarnya merasa takut.


“Loh Pak …”


Bi Narsih mencegah.


Namun sebelum kalimatnya terselesaikan, ada yang menyela.


“Iya Pak, terima kasih sudah mengantar Ibu saya dan ini bayarannya.”


Jonatan menyerahkan sejumlah uang yang jumlahnya lumayan banyak.


“Ini terlalu banyak Nak,” ucap Pak Supir sembari kembali menyerahkan uang itu lagi.


“Itu rezeki untuk Bapak!” Jonatan menolak dengan ramah. “Silahkan Bapak mengikuti motor itu lagi ya!”


Pria itu mengangguk dan melajukan mobilnya.


Namun sebelum dia benar-benar keluar dari pintu gerbang, si pengendara motor memintanya berhenti sejenak.


“Pak, sebaiknya Bapak jangan mengatakan apapun pada siapapun kalau pernah mengantar seseorang kemari!” ucap pemuda itu dengan wajah garangnya.


“I - iya Nak. Saya berjanji, nggak akan bicara pada siapapun.” Pria itu terbata.


Dia takut kalau saja akan terjadi hal buruk pada dirinya.


Namun, berbeda dengan Bi Narsih yang justru terkagum-kagum saat memasuki villa milik Jonatan.


“Silahkan duduk Bu!” Jonatan tersenyum ramah saat melihat wanita di depannya. “Ibu mau minum apa?” tanyanya kemudian.


Bukan sebagai formalitas dan bukan pula, untuk menjaga imagenya sebagai teman Farida 


Akan tetapi, karena Jonatan merasa, kalau wanita itu memiliki perangai yang sama dengan mamanya.


“Ah, buatkan teh hangat saja!” ucap Jonatan pada seorang pemuda yang ada di sampingnya. “Sebentar ya Bu, saya panggil Farida dulu.”


 Jonatan hendak melangkah, tapi Bi Narsih mencegahnya.


“Duduk dulu Nak.” Bi Narsih menepuk sofa di sampingnya dan Jonatan segera mendekat. “Kedatanganku kemari bukan hanya menemui Farida, tapi …”


Bi Narsih melihat sekitar, khawatir kalau saja gadis yang dia sebut namanya ada di sana.


“Bu apa ada sesuatu?” tanya Jonatan yang menangkap kegelisahan itu.


Wanita itu mengangguk, kemudian kembali melayangkan pandangannya sekali lagi.


“Ibu tenang saja, Farida ada di kamarnya, di lantai tiga.”


Jonatan menunjuk ke arah atas dan Bi Narsih mengikuti gerakan tangannya.


Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit