Kado
"Kado apa, Ley? Lo nggak ngirim g r a n a t, kan?" tanya Elma nge ri.
"Bukan. Tapi sesuatu yang bikin dia ingat kalau hari lahirnya adalah hari paling menyebalkan," sahut Aleya dingin.
Tepat saat itu, pekikan me leng king pe cah dari lantai bawah. "ARGHHH… MAMAAA… TOLONG! JAUHIN!" Suara je ri tan Elisa histeris diiringi bunyi benda jatuh.
"Leya! Lo apain tuh bocah?" tanya Aisha panik.
"Gue cuma ngasih kado ber har ga buat mantan sahabat kita," Aleya tertawa kecil menikmati simfoni kekacauan itu.
Elma terkikik p u a s. "Sumpah, Ley, lo beneran savage!"
"Kalian pikir gue bakal biarin wanita itu dan a n a k nya hidup tenang? Kagak bakal!"
Pesta di ruang tengah berubah menjadi medan p. e r a n g. Elisa terduduk pucat dengan riasan luntur. Di sekelilingnya, puluhan u l a r karet yang tampak nyata berserakan. Beberapa melilit kakinya. Elisa yang fobia u l a r ge me tar hebat.
"Aleya! Ini pasti kerjaan Aleya, Ma!" tuding Elisa terisak. "Dia tahu aku paling takut u l a r!"
Yunus datang dengan wajah merah padam. "Aleya! Turun kamu!"
Aleya turun dengan langkah gontai, hanya memakai kaos oblong. "Ada apa sih, Yah? Berisik banget."
"Jangan pura-pura! Kamu yang masukin u l a r ini ke kado Elisa, kan?" ben tak Yunus.
Aleya berdecih. "Mana buktinya? Dari tadi aku di kamar. Tante Kamila sendiri yang bilang semua kado diperiksa dulu, kan?"
"Cek CCTV sekarang, Mas!" pinta Kamila dramatis.
Sepuluh menit kemudian, Yunus kembali dengan wajah bingung. Rekaman menunjukkan Aleya tidak pernah mendekati tumpukan kado.
Faktanya, Aleya mengirim kado itu lewat kurir sore tadi, dan Mbok Dijah meletakkannya begitu saja. Strategi yang bersih.
"Nggak ada bukti, kan?" Aleya tersenyum tipis pada Elisa. "Mungkin itu kado dari penggemar yang tahu betapa 'licinnya' sifat lo, Sa. Kayak u l a r."
Keesokan harinya di kafe, Elma tertawa keras mendengar detail Elisa yang butuh oksigen semalam.
Aisha hanya menggeleng. "Obat orang lapar itu makan, El. Aleya lagi berantakan, kita nggak bisa paksa dia jadi malaikat dalam semalam," ucap Aisha bijak.
Saat azan berkumandang, Aisha mengajak Elma sholat. Aleya tinggal sendirian. Hatinya terasa hampa. Ia merasa Tuhan sedang meng hu kum nya, jadi buat apa ia bersujud?
"Aleya? Hai, tumben sendirian?"
Aleya mendongak. Jantungnya ber de sir. Bima, alumni sekolah yang berkharisma, berdiri di sana. Mereka berbincang ringan. Tanpa disadari, Elisa yang kebetulan lewat merekam mereka dengan penuh d e n d a m.
Malamnya, Yunus sudah menunggu di ruang tamu. "Bagus ya, izinnya pergi sama Aisha, tapi malah pacaran! Kamu nggak lupa aturan Ayah? Nggak ada pacaran sebelum nikah!"
Aleya tertegun. "Apa maksud Ayah?"
"Di sana nggak ada Aisha sama Elma. Kamu bohong!" sela Elisa sambil menyodorkan ponselnya. "Liat nih, Yah. Mereka berduaan sampai sore."
Yunus menatap video itu dengan kecewa. "Berbohong adalah hal yang tidak bisa Ayah toleransi. Kamu sudah tidak punya rasa malu?"
Aleya terkekeh sarkas. Ia meraih ponsel itu dan menunjuk sudut meja di video. "Lihat ini baik-baik, Ayah yang terhormat. Itu tas Aisha dan itu tas Elma. Apa menurut Ayah, Kak Bima tipe laki-laki yang suka pakai tas wanita bermotif bunga?"
Yunus terdiam melihat detail dua tas milik orang lain di sana. Aleya mengembalikan ponsel itu dengan k a s a r. "Hebat ya, Ayah lebih percaya potongan video dari orang yang b e n c i aku daripada penjelasan a n a k sendiri. Ternyata status 'ayah' cuma label buat orang yang hobinya menghakimi tanpa tahu fakta."
Aleya melangkah menuju kamarnya tanpa menoleh. "Selamat, Ayah," gumamnya dari tangga. "Ayah semakin menambah alasan buat aku makin b e n c i sama rumah ini." Di bawah, keheningan menyesakkan tercipta, meninggalkan Yunus yang mematung dan Elisa yang menekuk wajah k e s a l.

Comments
Post a Comment