"Ditantang Presentasi di Depan Investor, Berani Nggak Nara Membuktikan Kalau Market Jodoh Bukan Ide Gil-a?"




 

Ruangan studio itu mendadak sunyi senyap seketika. Pertanyaan telak dari mulut Nara seolah menghantam ulu hati mereka semua.


 Beberapa orang di sana mulai saling berpandangan dengan raut wajah canggung, kehilangan bahan kata-kata untuk membalas ucapan Nara. Yoga berdehem beberapa kali, berusaha mencairkan ketegangan yang mendadak melanda dirinya. 


"Itu... itu kan dua hal yang berbeda, Mbak Nara. Nggak bisa disamakan begitu saja." "Bedanya di mana, Mas?" kejar Nara, tak memberikan celah sedikit pun bagi lawannya untuk berkelit.


 "Ya... ya pokoknya beda. Hubungan pernikahan itu pakai perasaan, bukan hitung-hitungan matematis," jawab Yoga mulai kehilangan arah dan argumen logisnya.


 Melihat Yoga yang mulai tersudut, si perempuan berambut pendek akhirnya memutuskan untuk angkat bicara membantu temannya.


 "Mbak Nara, maaf ya. Tapi kalau semua data sensitif pengguna dibuka blak-blakan sejak awal seperti yang tertulis di papan itu... bukankah para pengguna bisa kehilangan hak privasi mereka?" Nara menoleh, menganggukkan kepalanya dengan senyum ramah.


 "Pertanyaan yang sangat bagus, Mbak. Benar, itu poin yang sangat krusial." "Nah, kan! Bener kata aku!" ujar si perempuan berambut pendek merasa di atas angin.


 "Tapi..." Nara memberikan jeda yang dinamis. "Tolong diingat kembali. Semua data sensitif yang saya tulis di papan itu... cepat atau lambat, pada akhirnya akan tetap diketahui juga oleh pasangan kita setelah kita sah menikah dan tinggal satu atap kan?" Perempuan berambut pendek itu terdiam, tak bisa membantah. Nara melanjutkan argumennya dengan intonasi suara yang bergetar penuh emosi. 


"Jika pada kenyataannya... setelah menikah nanti ternyata terungkap fakta kalau sang suami memiliki utang ratusan juta rupiah yang disembunyikan. Jika ternyata sang istri mutlak tidak mau memiliki anak seumur hidupnya karena suatu prinsip. Jika ternyata salah satu dari mereka adalah pero-kok be rat yang tidak bisa toleran dengan kesehatan pasangannya. Atau jika ternyata salah satunya punya impian besar untuk pindah menetap ke luar negeri..." Nara menatap mata mereka satu per satu dengan pandangan mendalam.


 "Saya mau tanya pada kalian semua yang ada di ruangan ini. Lebih baik semua fakta pahit itu kita ketahui *sebelum* akad nikah berlangsung, atau *sesudah* ijab kabul diucapkan dan semuanya terlanjur terlambat?" Keheningan kembali merayap pekat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menjawab pertanyaan jujur dari Nara. Semua terbungkam oleh logika nyata yang disodorkan di depan wajah mereka. Hingga beberapa detik kemudian, si pria bertubuh tambun yang memegang gelas kopi perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya ke udara.


 "Kalau boleh jujur... kalau aku pribadi sih... jelas lebih memilih tahu semua fakta itu di awal, *sebelum* menikah." Nara menjentikkan jarinya sekali ke arah pria bertubuh tambun itu. "Nah! Tepat sekali! Dan itulah yang menjadi visi dan tujuan utama dari diciptakannya aplikasi Market Jodoh ini." 


Yoga yang merasa wibawanya sebagai desainer senior runtuh di depan anak-anak magang, masih belum mau menyerah sepenuhnya. Ia menyeringai tipis, mencoba mencari celah lain. 


"Tapi, Mbak... orang-orang di luar sana itu pintar. Mereka pasti akan dengan mudah berbohong dan memanipulasi data profil mereka di aplikasi!"


 "Makanya, di papan tulis itu saya sudah memasukkan fitur sistem verifikasi data total," jawab Nara tangkas.


 "Verifikasi seperti apa maksudnya? Memangnya kalian aparat negara?" cibir Yoga. "Verifikasi identitas resmi menggunakan KTP asli, verifikasi status pernikahan dari lembaga terkait, hingga kewajiban melampirkan dokumen pendukung lainnya jika diperlukan untuk membuka fitur premium. Kami akan bekerja sama dengan pihak-pihak tepercaya untuk memastikan validitas data." Yoga kembali menyeringai, menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Wah... rumit banget. Repot! Siapa juga yang mau pakai aplikasi seribet itu cuma buat cari jodoh?" 


"Menikah dengan orang yang salah itu jauh lebih merepotkan dan menguras energi seumur hidup, Mas Yoga," jawab Nara dengan sebuah senyuman manis nan mematikan. 


*Pfff...* 


Dimas yang berdiri di samping meja spontan menutup mulutnya rapat-rapat, menahan ledakan tawa gelinya agar tidak menyembur keluar melihat wajah Yoga yang seketika berubah masam mendengar jawaban telak Nara. Yoga mendengkus kesal, melipat tangannya kembali di dada.


 "Terserah Mbak Nara sajalah, tapi menurut insting bisnis saya, aplikasi dengan konsep sekaku ini tetap nggak akan pernah laku di pasar Indonesia." 


"Boleh tahu apa alasannya, Mas?" 


"Orang Indonesia itu kalau mencari pasangan hidup, seratus persen pakai perasaan cinta, pakai hati! Bukan pakai hitung-hitungan data di atas kertas atau layar hp!" cetus Yoga penuh keyakinan. Nara menganggukkan kepalanya pelan, ekspresi wajahnya tampak melunak.


 "Saya setuju dengan ucapan Mas Yoga kali ini." Yoga langsung membu'sungkan dadanya, merasa di atas angin karena argumennya disetujui oleh sang pemilik ide.


 "Nah, kan! Akhirnya Mbak ngakuin juga kalau ide ini..." 


"Tapi..." potong Nara cepat, menatap mata Yoga dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan serius. 


"Satu hal yang harus Mas Yoga dan teman-teman semua sadari di dunia nyata ini..." 


"Apa?" tanya Yoga menantang. 


"Perasaan cinta yang menggebu-gebu itu... tidak akan pernah cukup untuk membayar cicilan rumah dan biaya kebutuhan hidup sehari-hari yang terus melonjak tinggi," tembak Nara tanpa ampun.


 Senyum di wajah Yoga perlahan-lahan mulai memudar kembali.


 "Perasaan cinta juga tidak akan pernah bisa menyelesaikan konflik perbedaan prinsip hidup yang mendasar antar dua kepala," lanjut Nara lagi dengan suara tegas.


 "Perasaan cinta itu memang sangat penting, saya tidak menampik hal itu. Namun, setelah pesta pernikahan yang megah selesai dan cinta itu mulai berubah jadi rutinitas biasa, kenyataan hidup yang pahit tetap harus dihadapi bersama secara realistis." 


Ruangan studio itu kembali diselimuti oleh kesunyian yang mencekam. Kalimat Nara barusan terdengar begitu dewasa dan menampar realitas kehidupan mereka semua yang hadir di sana. Tiba-tiba, pria berkecamata tebal yang sejak awal pembicaraan hanya diam menonton dari belakang, melangkah maju mendekati papan tulis kaca. Ia menatap coretan skema Market Jodoh dengan pandangan yang berbeda. 


"Mbak Nara... kalau boleh jujur ya," ujar si pria berkacamata membuka suara. Nara menolehkan kepalanya. "Iya, Mas? Ada apa?" "Ide aplikasi yang Mbak buat ini... memang terdengar sangat gila dan ekstrem pada awalnya," aku pria berkacamata itu jujur.


 "Tapi... setelah mendengar semua penjelasan dan argumen Mbak barusan, aku baru tersadar akan satu hal yang selama ini luput dari perhatian kita." 


"Sadar akan hal apa, Mas?" tanya Nara lembut. 


"Selama ini... di fase pendekatan atau PDKT, orang-orang di sekitar kita memang jauh lebih banyak menampilkan kepura-puraan demi memikat hati targetnya. Kebohongan-kebohongan kecil itu sengaja disimpan rapat, dan baru meledak jadi bom waktu setelah menikah. Jadi..." Pria berkacamata itu menatap Nara dengan senyum tipis. "Konsep transparansi yang ingin Mbak bawa lewat aplikasi ini... sebenarnya adalah hal baik yang sangat berani." Nara tersenyum tulus, merasa ada satu orang lagi yang mulai memahami visi besarnya. "Terima kasih banyak, Mas. Itulah budaya keliru yang ingin coba aku ubah lewat Market Jodoh." Yoga yang melihat salah satu temannya malah memihak Nara, mendengkus meremehkan. Ia tertawa pendek untuk menutupi rasa canggungnya.


 "Wah, wah... optimis sekali ya Mbak Nara ini. Luar biasa." "Saya bukan orang yang optimis buta, Mas Yoga. Saya hanya mencoba bersikap realistis menghadapi zaman," balas Nara telak.


 "Oke, oke. Cukup diskusinya!" Yoga mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, tanda menyerah dalam debat argumen malam itu.


 "Kalau Mbak Nara memang seyakin dan semantap itu dengan ide gila ini... coba saja Mbak bawa konsep ini. Presentasikan proposal aplikasi Market Jodoh ini di depan para investor kakap atau kapitalis ventura di luar sana!"

  

*Gimana nih, Apa Nara akan menerima tantangan dari Yoga? Penasaran ga nih readers? 

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit