Di buang karena sepiring nasi goreng
Aku mengusir istriku hanya karena sepiring nasi goreng terlalu pedas.
Kupikir dia akan hidup sengsara setelah pergi dari r u m a h k u.
Tapi lima tahun kemudian…
aku justru berdiri di restoran nasi goreng yang ternyata ....
*
*
*
*
*
"Bu, t o l o n g..." Nayla akhirnya bersuara, suaranya serak. "Saya sudah berusaha sebaik mungkin. Saya belajar, saya mencoba—"
"Belajar?" Ratna tertawa kecil. Tertawa yang m e n g h i n a. "Belajar dari mana? Dari YouTube? Dari buku resep m u r a h a n? Kau pikir keluarga besar Pratama butuh istri yang belajar masak dari internet?"
Tante Arga menimpali dari belakang, "Sudahlah, Rat. Jangan buang-buang waktu. Cepat selesaikan."
Ratna mengangguk. Ia menatap Nayla sekali lagi. "Kau tahu? Aku sudah bicara dengan Arga. Sudah lama sebenarnya. Kami sepakat, pernikahan kalian adalah kesalahan besar."
Nayla tersentak. Ia menoleh ke Arga. "Mas... apa benar?"
Arga mengalihkan pandangan. Diam.
Dan dalam diam itu, Nayla mendapatkan jawabannya.
Ratna kembali ke kursinya, duduk dengan tenang. "Sekarang, dengar keputusan keluarga. Malam ini juga, kau angkat kaki dari r u m a h ini. Bawa semua barang-barangmu—yang memang dibeli dengan u a n g keluargamu juga."
Nayla merasa dunianya berputar. "Malam ini? Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapian," potong Arga akhirnya bersuara. Suaranya dingin. "Kau pergi malam ini. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi di r u m a h ini."
Nayla menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. Lelaki ini, yang dua tahun lalu mengucap janji suci di depan penghulu, yang memeluknya erat di malam pertama, yang berkata akan menjaganya sampai tua—sekarang menatapnya seperti musuh.
"Mas, kita bisa bicara baik-baik," Nayla meraih lengan Arga. "Aku minta maaf. Aku akan masak yang lebih enak. Aku akan—"
Arga menarik ka sar tangannya. "Jangan s e n t u h aku!"
Nayla terhuyung mundur. Tumitnya menginjak pecahan piring yang berserakan. Ia merasa sesuatu yang t a j a m menu suk telapak kakinya, tapi rasa s a k i t itu tidak berarti apa-apa dibanding s a k i t hatinya saat ini.
"Kau dengar ibuku," kata Arga. "Kau tidak pantas jadi istriku. Pergi."
"Tapi Mas... ini malam. Hujan. Aku tidak punya tempat tujuan—"
"Itu urusanmu."
Dingin. Begitu dingin.
Ratna menambahkan, "Kau pikir kami peduli kau mau ke mana? Terserah. Mau pulang kampung, mau t i d u r di kolong jembatan, terserah. Yang penting kau pergi dari sini."
Tante Arga menyengir. Om-nya sudah tidak pura-pura sibuk, ikut menikmati pertunjukan.
Nayla berdiri terpaku di tengah r u a n g a n. Air matanya jatuh membasahi pipi. Ia menatap satu per satu wajah orang-orang di r u a n g a n itu—wajah-wajah yang selama dua tahun ini ia layani, ia hormati, ia anggap keluarga. Tak satu pun menunjukkan belas kasihan.
Bahkan Sari di dapur hanya bisa menunduk, bahunya bergetar.
"KAU DENGAR? PERGI SEKARANG!" bentak Arga.
Nayla tersentak. Dengan langkah gemetar, ia berjalan meninggalkan ruang makan. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Ia menuju k a m a r yang selama dua tahun ia bagi dengan Arga—k a m a r yang kini terasa asing.
---
Di dalam k a m a r, Nayla berdiri mematung.
Lemari p a k a i a n, tempat t i d u r, meja rias—semuanya benda m a t i yang tiba-tiba terasa mengejek. Lihat, kau bahkan tidak punya hak atas kami.
Ia membuka koper kecil yang tersimpan di pojok lemari. Koper itu dulu ia bawa saat pertama kali datang ke r u m a h ini. Isinya hanya b a j u seadanya—b a j u dari kampung yang sudah mulai lusuh.
Dengan tangan gemetar, Nayla mulai memasukkan barang-barangnya. B a j u, c e l a n a, satu-satunya sandal yang ia bawa dari kampung. Ia tidak mengambil apa pun yang dibelikan Arga—perhiasan, tas mahal, b a j u bagus. Biar. Ia tidak mau dianggap m e n c u r i.
Di meja rias, ada foto pernikahan mereka. Nayla dalam kebaya putih sederhana, Arga dalam setelan jas. Mereka tersenyum. Bahagia. Palsu.
Nayla mengambil foto itu, menatapnya lama. Lalu dengan satu gerakan, ia membaliknya hingga wajah mereka menempel ke meja. Ia tidak ingin mengingat kebahagiaan palsu itu.
Pintu k a m a r terbuka. Sari masuk dengan wajah sembab.
"Mbak Nayla..." bisiknya.
Nayla menoleh. Melihat Sari, air matanya kembali mengalir. "Sar..."
Sari menghampiri, memeluknya erat. "Mbak... saya nggak tega. Mereka keterlaluan."
Judul : Dibuang Karena Sepiring Nasi Goreng

Comments
Post a Comment