Suamiku pergi keluar kota
Suamiku pamit keluar kota dengan alasan pekerjaan padahal aku tau dia mau menikahi gundiknya.
Ya udah setelah dia berangkat aku susulkan tiga koper b a j unya dan o b a t jantung agar dia kuat saat tahu salah satu isi koper itu ternyata ...
[Kecurigaan Mbak Mayra benar. Pak Belantara menikah hari ini. Mang Jajang juga sudah sampai dan menyerahkan koper-koper itu mbak. Sekarang acaranya sudah selesai dan posisi mas Belantara ada di rumah Asya]
Tidak berapa lama orang suruhanku itu mengirim beberapa bukti-bukti padaku. Aku lihat satu persatu foto itu. Suamiku tersenyum bahagia di samping sahabatku sendiri.
Momen dimana Belantara menc i u m kening asya. Momen dimana Belantara menyematkan cincin di jari manis. Asya. Tergambar jelas kalau tanpa aku, Belantara bisa sebahagia itu. Bahkan mertua dan adik iparku juga turut hadir. Mereka benar-benar komplotan pengk h i a n a t. Oke jika mereka tidak melibatkan aku dalam kebahagiaanannya. Aku pun tak segan men e n d a ng mereka semua dari hidupku.
Aku menggenggam erat ponselku, seperti ingin mer e m u kkan dalam kepalan tanganku agar orang-orang yang ada di dalam gambar itu ikut r e m u k.
D a d aku bergemuruh dan o t a kku mer o n t a untuk segera membalas kelicikan mereka.
Namun membalas kel i c i kan harus dibalas dengan kel i c ibkan juga.
Aku menghela nafas. Melonggarkan d a d a seperti membuat kesepakatan dengan hatiku untuk bersabar dulu. Tenang. Hari pembalasan itu akan tiba. Dimana mereka akan m a t i kutu setelah menelan keb o h o ngannya sendiri.
Aku putuskan menghubungi Belantara sebagai Mayra yang tidak tahu apa-apa.
"Hallo, Mas." Ponsel yang sejak beberapa menit lalu kugenggam akhirnya tersambung. Jemariku tanpa sadar menc e n g k e r a m ujung meja lebih erat ketika suara di seberang mulai terdengar.
"H... ha... halo, Ra." Aku terdiam beberapa detik. Nada suara suamiku berbeda. Terputus-putus. Bergetar. Seperti g u g u p. Bukan seperti Belantara yang biasa berbicara santai setiap kali meneleponku.
"Loh... kok suaramu gemetar begitu, Mas?" tanyaku pelan. Aku berusaha membuat nada suaraku terdengar penuh keheranan. Padahal jauh di dasar hati, ada luka yang sejak siang terus berd e n y ut dan menuntut balas.
"Eng... enggak, Ra." Terdengar suara seperti orang menelan l u d ah. "Di sini dingin banget, jadi aku sampai gemeter."
"Dingin?" tanyaku membeo.
"Iya."
"Oh..." gumamku pelan. "Aku cuma heran aja, Mas. Tumben, kamu sama sekali nggak telpon aku. Biasanya begitu sampai langsung telepon aku."
Belantara tidak langsung menjawab.
Aku kembali melanjutkan. "Hari ini malah seharian nggak ada kabar. Malah ponsel kamu sempat nggak aktif. Sengaja mau bikin aku khawatir apa bagaimana?"
Di seberang sana terdengar helaan napas pendek.
"Ya Allah Ra, aku sibuk. Sinyalnya j e l e k. Dan habis batre. Makanya ponselnya mati!"
Aku tersenyum tipis.
"Padahal biasanya sej e l e k apa pun sinyal, Mas tetap cari cara buat kasih kabar."
Hening. Aku membiarkan keheningan itu menggantung beberapa detik. Lalu sengaja berkata pelan.
"Perasaanku nggak enak, Mas.Tadi... tiba-tiba pigura pernikahan kita jatuh dan pecah." ucapku ngarang.
Belantara langsung terdiam.
"Hah?"
"Iya."
"Aneh, kan? Aku sampai cerita sama Mbak Silvi. Terus Mbak Silvi malah nyuruh aku telepon Mas. Katanya... itu pertanda kamu lagi s e l i n g k u h."
Kalimat terakhir itu sengaja kulempar ringan.
Namun dampaknya langsung terasa.
"Enggak, Ra!" Jawaban Belantara terdengar terlalu cepat. "Aku nggak s e l i n g k u h."
Aku memejamkan mata. Kalau memang tidak melakukan apa-apa... Kenapa harus buru-buru menyangkal?
"Oh....Berarti Mbak Silvi memang ngawur. Mana ada ceritanya Belantara s e l i n g k u h. Ya nggak sih?" Aku sengaja tertawa kecil.
"Iya. Mana ada aku s e l i n g k u h. Kamu harus percaya sama aku. Jangan percaya pada Mbak Silvi.
"Mas lagi di mana?"
"Di h o t e l."
"H o t e l?"
"Iya."
Aku mendekatkan ponsel ke telinga.
"Tapi kok..."
"Aku kayak dengar suara perempuan?"
Belantara langsung menyela.
"Enggak ada. Itu suara televisi."
Aku menatap langit-langit r u m a h.
"Sejak kapan Mas suka nonton televisi?"
Hening. Lagi-lagi hening. Belantara terdengar mulai kehilangan kesabaran.
"Ya Allah, Ra. Kenapa pertanyaanmu aneh-aneh begitu? Kamu kebanyakan ngobrol sama Mbak Silvi. Makanya curigaan begitu. Meskipun dia kakak kandungmu, dari dulu dia memang nggak suka sama aku. Pasti sekarang dia lagi mer a c u n i pikiranmu. Saat aku jauh!"
Aku menggigit b i b i r bawah. Sekarang aku malah tau alasan mbak Silvi tidak menyukai Belantara.
"Bukan begitu juga. Soalnya. Kamu biasanya nggak begini. Kamu selalu kasur kabar. Selalu telepon. Selalu video call. Tapi sekarang...Sampai malam begini pun kamu baru mengangkat teleponku."
Belantara mengembuskan napas panjang.
"Ra. Jangan kayak a n a k kecil. Aku sibuk."
Aku menjawab cepat.
"Sekarang udah malam. Udah nggak sibuk kan? Kalau begitu video call saja."
"Ra... Aku nggak bisa."
"Kenapa nggak bisa?"
"Tidak bisa saja."
"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu, ya?"
"Enggak."
"Kalau begitu angkat video call."
"Ra!" Nada suaranya mulai meninggi.
"Tolong jangan bikin gara-gara. Aku sudah coba sabar sama kamu. Kamu ini terlalu sayang sama aku. Itu juga nggak bagus." Kalimat itu membuatku tersenyum hambar.
Lucu sekali. Laki-laki yang dulu selalu memintaku menelepon setiap dua jam sekali...
Sekarang justru menganggap rasa khawatirku berlebihan.
"Maksudmu apa, Mas?"
Belantara menarik napas panjang sebelum kembali berbicara.
"Untuk apa kamu kirim b a ju sebanyak itu? Piyama banyak sekali. Perlengkapan mandi. Sandal. O b a t jantung Papa juga. Kamu terlalu khawatir tau nggak sih. Aku baik-baik saja. Aku sehat. Jadi tolong... Jangan telepon aku terus. Biar pekerjaanku cepat selesai. Dan aku bisa pulang."
D a d aku terasa sesak.
"Oh Jadi... Perhatianku sekarang dianggap mengganggu? Baiklah.
Kalau memang itu yang dia inginkan. Oke, Mas. Aku ngerti. Aku nggak akan telepon Mas lagi. Selamanya."
"Ra..."
Belum sempat Belantara menyelesaikan ucapannya, ibu jariku sudah lebih dulu menekan tombol merah.
Sambungan telepon langsung terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Aku menatap layar ponsel yang perlahan berubah gelap.
Di seberang meja, Mang Jajang masih duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut. Dia sengaja aku panggil agar mendengar semuanya.
Namun kepalanya justru semakin tertunduk. Seolah takut jika matanya bertemu dengan mataku. Sepertinya dia takut jika aku bertanya sesuatu ....
"Mang..." Suaraku mem e c a h kesunyian. Mang Jajang langsung mengangkat kepala. Wajahnya pucat. Kedua telapak tangannya saling meremas di atas lutut.
"I... iya, Bu. Kamu dengar semua percakapan kami barusan?" Lelaki tua itu mengangguk pelan.
"Dengar, Bu."
Aku meletakkan ponsel di atas meja. Bunyinya terdengar pelan, tetapi cukup membuat Mang Jajang kembali menundukkan kepala.
"Jadi..." aku menyandarkan punggung ke kursi. "Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan padaku?"
Mang Jajang menarik napas panjang. Berkali-kali b i b irnya terbuka, tetapi kembali tertutup. Seolah setiap kata yang hendak keluar terasa begitu berat.
"Ampun, Bu...." Matanya mulai berkaca-kaca. "Saya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada harus memb o h o ngi Ibu."
Aku menatapnya tanpa berkedip.
"Pak Belantara memang menikah hari ini, Bu." Kalimat itu akhirnya keluar.
Meski sejak awal aku sudah mengetahui jawabannya, d a d aku tetap terasa seperti dir e m a s sesuatu.
Mang Jajang kembali menunduk.
"Saya nggak tega sama Ibu..Saya sudah bekerja belasan tahun di r u m a h ini. Saya tahu bagaimana Ibu selalu memperlakukan Bapak. Saya juga tahu Ibu bukan perempuan yang pantas diperlakukan seperti ini."
Tanganku mengepal di bawah meja.
"Terus?"
"Tadi Bapak melarang saya berkata jujur."
Aku mengangkat sebelah alis.
"Dia bilang apa?"
Mang Jajang menelan l u d a h.
"Bapak bilang saya harus bilang ke Ibu kalau beliau sedang sibuk di proyek..Kalau saya sampai menceritakan soal pernikahan ini....saya akan dipecat."
Sudut b i b i rku perlahan terangkat.
"Yang bisa mem e c a t kamu itu aku, Mang."
Mang Jajang langsung mengangkat kepala.
Air mata lelaki tua itu akhirnya jatuh.
"Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar minta maaf. Kalau apa yang saya ucapkan ini menyakitkan ibu!"
Aku menggeleng pelan.
"Bukan kamu yang harus minta maaf.
Orang yang mengh a n c u rkan r u m ah tangga ini bukan kamu."
Ruangan kembali hening. Beberapa detik kemudian aku berdiri. Tatapanku berkeliling menyapu setiap sudut rumah. Foto-foto pernikahan. Sofa yang dulu kami pilih bersama. Tangga yang setiap pagi dilewati Belantara sebelum berangkat bekerja.
Tak ada lagi yang ingin kupandang.
Semuanya mendadak terasa asing.
"Mang."
"Iya, Bu."
"Kemasi semua barang-barangku."
Mang Jajang tampak terkejut.
"Barang... barang Ibu?"
"Iya."
Aku mengangguk.
"Sebentar lagi r u m a h ini akan aku j u a l."
"Bu...?"
"Aku tidak sudi tinggal di rumah yang dibangun dari keb o h o ngan." Tatapanku kembali jatuh pada foto pernikahan yang tergantung di dinding. "Dulu rumah ini kubangun sebagai tempat pulang Sekarang rumah ini hanya menyimpan bau pengkh i a n a tan."
Mang Jajang mematung.
Sedangkan aku menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat yang bahkan membuatku sendiri merinding.
"Kalau rumah ini dij u a l bapak gimana, Bu?"
"Bukan urusan saya. Dia berani menikah lagi artinya dia sudah siap menanggung hidupnya sendiri bersama istri barunya!"

Comments
Post a Comment