“Buruan masaknya, Nona! Kasihan Lishi udah lem as nungguin makan malam belum matang-matang juga dari tadi!” Endah berte riak ny
aring dari ruang tamu yang hanya berjarak sejengkal ke dapur.
Nona membuka pintu kulkas. Matanya menatap nanar isi rak yang nyaris kosong melompong. Hanya tersisa satu papan tempe dan dua potong tahu kuning. Seikat kangkung yang mulai la yu baru saja selesai ditumisnya. Stok bahan makanan lain sudah habis tidak tersisa.
Ua ng jatah belanja bulanan dari Hasaa hanya bertahan lima hari di dompetnya, itu berarti sudah habis sejak dua minggu lalu. Nona teringat klaim Hasaa setiap kali mereka berdebat soal keua ngan. Suaminya kerap membanggakan diri sudah memberikan dua puluh lima persen gajinya untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Kenyataannya, sebagian besar ua ng itu ditarik kembali untuk memba yar tag ihan bulanan rumah yang mereka tempati, rumah Endah, cici lan mobil, transport harian Lishi, sampai jajan tiga keponakan yang gemar berteriak dan menangis kalau keinginan mereka tidak dituruti. Tiga ju ta lima ratus dianggap Hasaa sangat besar untuk memenuhi semuanya tanpa tahu ot ak istrinya bekerja ke ras demi menutupi kekurangan beras, minyak goreng, dan lauk pauk setiap hari.
Tangan Nona bergerak cepat mengiris tempe tipis-tipis. Lu ka di dadanya terasa perih setiap kali mengingat kebod ohannya sendiri. Dia rela tidak bekerja setelah menikah demi mematuhi perintah suaminya, mengira pernikahan mereka akan berjalan selayaknya kerja sama dua orang dewasa yang saling menghargai. Nyatanya, Nona tidak lebih dari sekadar ba bu gra tisan. Dia keliling tiga rumah untuk mencuci baju dan menyapu, memasak porsi besar tiap hari, dan parahnya lagi, dia yang menda nai seluruh kebutuhan pokok keluarga para sit itu memakai ua ng hasil se wa kontrakan yang kini hanya tersisa delapan pintu.
“Nona! Kok lama banget sih? Lishi lagi ha mil, lho ini! Dia butuh makan buat dua orang. Jangan sampai ibu dan ja ninnya kurang gizi gara-gara kamu lelet!” Endah kembali melancarkan protesnya.
“Iya, Bu, sabar! Ini lagi dimasak!” sahut Nona cepat.
Nona mema tikan kompor, meniriskan tempe dan tahu goreng garing dari wajan. Kemudian membawa piring lauk itu ke meja depan karena tidak ada tempat untuk ruang makan.
Melihat makanan datang, Endah menyeringai lebar. Lishi pun bergegas menegakkan punggung, tapi lalu terhenti saat matanya melihat sajian di atas meja.
“Kok cuma ini lauknya, Kak?” Perempuan muda itu melempar sendoknya ke piring sampai berdentang nyaring. “Nggak ada ayam atau ikan gitu? Masa ibu ha mil disuruh makan tempe, tahu, sama sayur la yu begini.”
Endah ikut menatap si nis ke arah piring saji. Matanya melo tot ketika menatap Nona. “Kamu sengaja mau bikin Ibu dan Lishi kurang gizi, ya? Masak kok modelannya begini amat. Kayak makanan orang susah.”
“Ua ng belanja dari Bang Hasaa udah habis, Bu,” jawab Nona datar. Dia menarik kursi dan duduk di seberang Lishi. “Jadi ya, cuma tempe, tahu, dan kangkung ini yang tersedia.”
“Kamu kan punya ua ng se wa kontrakan! Kenapa nggak pakai ua ng itu dulu buat be li daging? Jangan pe lit-p elit amat jadi orang. Suami udah capek kerja, mertua mau makan, masa disuguhi makanan orang misk in?!”
“Ua ng sewa kontrakan bulan ini udah udah buat ba yar segala macam.” Nona menaruh centong nasi agak ka sar ke dalam bakul. “Tiap bulan aku harus ikut patungan bayar cic ilan mobil yang Bang Hasaa pakai buat kerja tiap hari, termasuk ua ng bensin dan tolnya juga. Padahal aku jarang banget pakai mobil itu. Justru kalian yang sering jalan-jalan, kan? Aku ditinggal di rumah sendirian, atau disuruh nyusul pakai motor!”
Kedua benalu itu langsung cemberut. Dengan terpa ksa mengambil nasi dan lauk sederhana karena per ut sudah tak kuat menahan lapar. Tak lama, terdengar suara mobil Hasaa berhenti di depan rumah. Begitu sang an ak kebanggaan muncul Endah dan Lishi berebut mengadukan sikap Nona sejak mereka datang tadi siang.
Laki-laki itu mendecak pelan, tapi ikut nimbrung duduk di sebelah istrinya, lalu mengambil nasi banyak-banyak ke piringnya.
“Makan aja dulu apa yang ada,” tegur Hasaa pada ibu dan adiknya. “Nanti setelah makan Nona pasti be li martabak sama gorengan.”
“Tapi nggak bisa gitu dong juga, Bang!” Lishi menggeser piring yang isinya sudah tandas menjauh. “Ba yi di perutku ini butuh protein hewani yang tinggi. Kalau tiap hari ibunya dipaksa makan tahu tempe, pertumbuhan an akku nanti lambat. Masa keponakanmu lahir kurang gizi gara-gara istrimu pe lit!”
“An ak kamu kurang gizi ya, karena perbuatan ibunya, bukan karena tempe.” Nona menyendok kuah kangkung ke piringnya, tidak peduli pada lirikan memat ikan Lishi dan Endah. “Harusnya kamu mikir panjang sebelum bikin an ak di luar nikah sama laki-laki yang belum mapan.”
Lishi menggebrak meja seketika. "Bang Hasaa! Denger tuh, Kak Nona ngatain aku! Tadi siang juga gitu, Bang!”
“Nona! Kamu diam atau aku us ir kamu dari sini sekarang juga!” anc am Hasaa sambil melem par sendok.
Lishi dan ibunya saling lirik, sambil diam-diam tersenyum puas.
“Abang lupa, ya? Ini rumahku, Bang. Harusnya aku yang mengu sir kalian semua. Bukan sebaliknya,” ucap Nona seraya melanjutkan makan dengan tenang, enggan meladeni anca man suaminya.
Endah menarik napas panjang, menekan kema rahannya dalam-dalam. Dia menatap Nona taj am.
“Terserah kamu mau ngomong apa. Yang penting, besok pagi kamu pergi ke pasar. Be li daging sapi tiga kilo sama ayam tiga ekor.” Endah mulai memberi instruksi seenak perutnya. “Kamu masak rendang sama ayam goreng bumbu kuning.”
“Buat apa masak sebanyak itu?” Nona meletakkan sendoknya.
“Ya buat makan kita di sini, terus sebagian kamu bungkus bawa ke rumah Kak Khaliki. Anak-anak Kak Khaliki mana mau makan tempe kangkung beginian.” Endah menunjuk piring tempe dan mangkuk sayur yang sudah kosong di meja. “Kasihan Sergio sama Armando lagi masa pertumbuhan. Ferguso juga butuh banyak gizi. Mereka cucu kandung Ibu, an ak-an ak ya tim pula! Udah kewajiban kalian nyukupin makan mereka.”
Khaliki adalah ja nda dari Graviy, mendiang kakak Hasaa yang dulu berpangkat Kapten Angkatan Darat. Dalam pandangan Nona, seharusnya Khaliki hidup sangat berkecukupan. Perempuan itu masih aktif bekerja sebagai ASN di Pemda dan menerima ga ji janda militer rutin tiap bulan. Kenyataannya, urusan per ut ketiga an ak Khaliki justru menjadi beban fina nsial tambahan yang meme ras kantong Nona.
“Heran aku, Kak Khaliki kan punya ga ji sendiri, ditambah ga ji janda juga. Kenapa urusan makan an ak-an aknya harus ditanggung dapurku juga? Harusnya udah bersyukur aku mau merapikan rumah dan mencuci pakaian mereka tiap hari tanpa diba yar!” ban tah Nona.
“Kamu ini perempuan susah dibilangin, ya!” Endah memu kul pinggiran meja. “Hasaa itu paman kandung mereka, pengganti ayahnya! Ua ng Hasaa ya, ha k an ak-an ak yat im itu juga. Kamu kan, belum punya an ak, pengeluaranmu sedikit, ua ngmu nganggur. Daripada mubazir, mending dipakai buat beliin mereka makan dan jajan!”
“Iya, lagian Kak Khaliki ga jinya buat ba yar sekolah dan les tambahan an ak-an aknya,” sahut Lishi ikut membela. “Udah, Kak Nona nurut aja. Jadi orang nggak usah res ek. Besok sekalian be liin anggur. Mulu tku pahit kalau nggak makan buah sehari.”
Nona membalas tatapan Lishi dengan dingin. Lalu menoleh ke arah suaminya. Laki-laki itu terus menyuap makanan ke dalam mul ut, sama sekali tidak berniat membela atau menengahi, malah terlihat sangat setuju dengan tuntutan tidak masuk akal ibunya.
“Oke, aku belikan. Tapi minta ua ngnya sama abangmu ini. Kalau dia nggak kasih ua ng, ya nggak ke pasar.”
“Aduuuhh! Kamu nggak dengar tadi Ibu bilang apa? Pakai ua ng kontrakanmu lah! Percuma juragan kontrakan kalau nggak punya ua ng!”
desak Endah kesal.
Nona menyunggingkan senyum mencemooh.
“Ibu juga nggak dengar omonganku. Ua ng kontrakan udah habis nggak bersisa sepeser pun. Kalian bertiga silakan telan makanan yang bisa aku sediakan sampai kenyang. Kalau nggak mau, kalian semua boleh angkat kaki cari rumah lain yang kasih makan gr atis.”

Comments
Post a Comment