Posts

Showing posts from 2026

Suti

Image
 “Aku akan menun tut balas… Setelah aku tiada... aku pastikan, semua yang memfit nahku akan mende rita.” ⭐ 1 - Fit nah yang Mengundang Pe taka ⭐ “SUTI! KELUAR SEKARANG!” “SUTI!" "KELUAR KAMU!” Suara teriakan itu menggema dari depan rumah. Keras. Ka sar. Dipenuhi ama rah. “KELUAR KAMU, SUTI!” Gedo ran pintu menyusul. Ke ras. Bertubi-tubi. Seolah ingin mero bohkan bangunan itu. “JANGAN SEMBUNYI!” “PEREMPUAN NGGAK BENER!” “PELA CUR BERKEDOK PENGUSAHA!” Di dalam, Sutiyah yang sedang duduk di kursi langsung tersentak. Tangannya ge metar, masih memegang buku catatan keu angan. “Bi…” suaranya pelan. “Ada apa di luar?” Bi Darsih, yang sedang melipat pakaian, ikut terkejut. “Nggak tau, Neng. Ko rame banget ya?” gumamnya. Gedo ran kembali terdengar. “SUTI! JANGAN SEMBUNYI!” “KELUAR SEKARANG!” Jantung Suti berdetak makin cepat. Ia berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela. Begitu tirai disingkap sedikit, napasnya langsung tercekat. Puluhan orang berdiri di depan rumah. Wajah mereka t...

Kejadian tragis

Image
 Seorang Anak Menangis Lihat Tubuh Ayahnya Tewas Usai Digebukin Warga Kalau kalian nonton videonya, sungguh menyayat hati. Seorang anak menangis meraung lihat jasad ayahnya tewas usai digebukin warga. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! Sebelum matahari sempat menyapa Bali pada Jumat, 24 Juli 2026, sekitar pukul 01.30 WITA, sebuah tragedi telah lebih dulu menorehkan luka mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh. Di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, seekor ayam menjadi awal dari kisah yang berakhir dengan hilangnya nyawa seorang ayah dan hancurnya masa depan sebuah keluarga. Korban berinisial KD, warga Desa Sidetapa, Buleleng, datang ke Tabanan menggunakan sepeda motor. Ia diduga kedapatan mencuri seekor ayam aduan milik I Wayan Adi Suteja (31). Dugaan itu kemudian berubah menjadi hukuman jalanan. Massa mengeroyoknya hingga tewas. Polisi mengamankan ayam tersebut, sebilah golok, sebuah tas berisi tang, ketapel, batu, serta uang...

Dihina

Image
 "Keluar dari rumahku! Lelaki m1skin sepertimu tidak pantas mencintai anakku!" T4mparan itu tak hanya mendarat di pipiku, tapi juga menghancvrkan harga diriku.  Aku pergi dengan satu janji... aku akan kembali saat mereka menyesal pernah menghinaku. Tapi ketika semuanya sudah kumiliki, perempuan yang kucintai justru... Part 2 "Siapa yang membuat pipimu seperti itu, Zul?" Langkahku terhenti di ambang pintu. Ibu Nuraini baru saja mengangkat ember cucian dari sumur. Air menetes dari ujung kerudungnya. Kedua tangannya memerah karena terlalu lama merendam pakaian. Beliau menatap pipiku cukup lama. Aku buru-buru memalingkan wajah. "Terbentur kayu di sekolah, Bu." Ibu meletakkan ember itu perlahan. "Kalau bohong, jangan sambil menghindari mata Ibu." Dadaku terasa sesak. Beliau mendekat, lalu menyentuh pipiku dengan ujung jari. Aku meringis pelan. Sentuhan itu jauh lebih lembut daripada tamparan Pak Hasyim, tetapi justru membuat dadaku semakin nyeri. ...

Tak ku sangka

Image
  Milyaran uang kudapatkan, sudah waktunya aku pulang ke rumah ibu tercinta. Tapi di sana aku  direndahkan oleh ibu dan saudara tiriku. Bahkan disebut gembel kesasar di depan banyak orang. Ternyata aku sudah tidak dianggap sebagai anak ibu lagi.  Setelah malam yang penuh penghinaan itu, aku memutuskan untuk tidak langsung mengeksekusi rencanaku terhadap pak Anwar. Ada hal yang jauh lebih penting: mencari keberadaan Reza. Aku tidak sudi menemui Bapak. Mengingat wajah lelaki yang selalu digambarkan Ibu sebagai sosok yang jahat, kejam, dan pelit itu membuat lambungku mual. Sejak kecil aku tidak pernah dekat dengan bapak. Tapi demi adikku Reza, aku akan menepis ego itu. Aku mendatangi alamat rumah lama kami yang dulu ditinggali Bapak setelah Ibu pergi. Begitu sampai di depan pagar, dahiku berkerut. Rumah itu kini tampak jauh lebih bagus, dicat rapi, dengan halaman yang tertata. Aku melangkah maju dan mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu. Tok! Tok! Tok! Tak berselang lama, ...

Cinta tanpa suara

Image
 Part Kiara dan Raka "Jangan bergerak terlalu banyak, Manis. Nikmati saja," bisik pria kekar itu dengan tawa rendah yang menjijikkan. Ia langsung menyentak kasar pergelangan tangan Kiara, menariknya ke tengah ranjang king size. Bau a l k o h o l dan parfum murahan dari tubuh pria itu menyeruak, membuat perut Kiara mual. Pria itu mulai membuka p a k s a dua kancing kemejanya atasnya, menatap l a p a r gaun sutra putih gading yang melekat di tubuh k o r b a n nya. "Nona Siska benar-benar tahu cara bersenang-senang," gumamnya, mulai merangkak naik ke atas tubuh Kiara. --- Kiara menjerit dalam hati. Di bawah kendali o b a t  p e r a n g s a n g yang membakar darahnya, ia mencoba mengumpulkan sisa kekuatan. Tangan kanannya yang terbalut perban tipis bergerak m e m u k u l dada pria itu. Bugh! Bugh! Namun, p u k u l a n nya terlalu lemah, hanya terasa seperti tepukan pelan. Pandangan Kiara makin berbayang keemasan, kabur oleh air mata frustrasi. "Lepas..." desis...

Berlian yg kamu abaikan

Image
 "Jangan sen tuh, Bunda! Aku tidak suka kalau Bunda tidak izin!" Teriakan Alina menggelegar di dalam ka mar mungilnya, menghentikan ta nganku yang baru saja hendak menye ntuh sekumpulan bunga origami di atas meja belajar. Aku terhenyak. Da daku seperti baru saja dihan tam benda tumpul yang tidak terlihat. Aku menatap putri kecilku yang kini berdiri dengan napas memburu, kedua ma tanya menatapku ta jam seolah-olah aku adalah orang asing yang baru saja masuk tanpa permisi. "Bunda cuma mau lihat, Sa yang. Bagus sekali bunganya. Alina bikin sendiri?" tanyaku, mencoba melembutkan suara, meskipun ada getar yang sulit kusembunyikan. Alina tidak menjawab. Dia segera menghampiri meja, lalu mende kap tumpukan kertas warna-warni itu dengan kedua le ngannya seperti sedang melindungi har ta karun paling berhar ga dari incaran pencu ri. "Bunda keluar saja," uusirnya tanpa menatap ma taku. Aku menelan lu dah, berusaha mengabaikan perih yang menjalar di ulu ha ti. "A...

Warisan

Image
 "Tidak apa-apa. Acara pengajian memang sangat penting. Aku bisa paham kok. Jauh lebih penting daripada cucu sendiri yang sedang bertaruh nyawa di dalam ruang operasi," ucapku datar seraya menyodorkan cangkir teh ke hadapan mereka. "Diminum,  Bu,  Pak." ​Mendengar ucapanku, gestur Bapak berubah canggung. Beliau terbatuk beberapa kali, lalu mengalihkan pandangan ke arah dinding.  Sementara Ibu yang menerima cangkir teh dariku mulai tampak gelisah. Senyum palsu di wajah keriputnya perlahan memudar, dia menyesap teh berulang-ulang agar gugupnya hilang.  ​Semakin lama pembicaraan mereka mulai melenceng jauh dari kondisi kesehatan Misya. Mereka tidak lagi bertanya tentang perkembangan medis atau obat-obatan yang harus ditebus oleh cucunya, melainkan mulai menggiring topik ke arah finansial.  ​Ibu meletakkan kembali cangkir teh yang baru diminum ke atas meja. Wanita tua itu memajukan tubuhnya, menatapku dengan sepasang mata berbinar. ​"Begini, Nel... Ibu lihat di...

Istriku berubah

Image
 Aku membuka mata di kamar utama dengan kepala yang terasa amat berat. Entah karena aku kurang tidur atau karena terlalu banyak pikiran semalam.  Aku me mu tu s kan bangkit dari r a n j a n g, begitu kaki m e n y e n t u h lantai, rasa dingin langsung menjalar.  Kupandangi bayangan wajahku di cermin. B i b i r ku pucat, mata s e m b a b, tapi senyum tipis di wajahku cukup membuatku tidak terlihat begitu m e n g e n a s k a n.  Ternyata seperti ini rasanya jadi seseorang yang akhirnya berhenti peduli. Dan mungkin memang itu yang terbaik, karena kalau aku terus menunggu keajaiban, aku hanya akan terlihat menyedihkan di mata pria yang bahkan tak pernah menatapku sebagai istri.  Hari ini aku tidak ingin menangis, aku ingin bermain. * * * Jam menunjukkan pukul empat sore saat aku berdiri di dapur, memeriksa panci sup di atas kompor. A r o m a beef wellington yang kuubah menjadi sup karena lebih mudah dihidangkan menyebar ke seluruh ruangan. Di meja makan sudah tertat...

Dosa di ujung seragam

Image
 "Pilih ba yi itu atau aku?"  Duniaku rvntuh saat cowok yang kubela m ati-ma tian ternyata se-ba ngsat ini... 😭 Dua tahun pacaran sia-sia, aku dibuang seperti sampah saat tahu ada jan in di pervtku. ------- Part 1  "Apa ini?" Miko menatap Renna dengan ekspresi bingung. "Tes pek siapa, Ren?"  "A--aku, Miko," jawab Renna dengan suara yang bergetar.  "Garis dua, Miko. Aku udah cek empat kali dan hasilnya sama," jawab Renna dengan perasaan ha ti yang kacau. Air mata yang sejak tadi ia bendung kini luruh membasahi kedua pipinya.  Miko terdiam mendengar pernyataan dari Renna. Tes pek yang ada di tangannya ia geng gam erat. Suasana di gedung belakang sekolah yang sunyi menambah kesan sepi dan men ce kam "Miko, bagaimana ini? Ini an ak kamu, Miko," ucap Renna kembali.  Miko mengacak rambutnya dengan ka sar. Miko melemparkan tesp ek yang ada di tangannya begitu saja.  "Sial! Kamu bercanda kan, Ren? Ini bukan hari ulang tahunku....

Pecat

Image
 Aku pecat suamiku lalu aku lelang rumahku yang ditempatinya setelah aku dihin4 habis-habisan di acara pelantikan kenaikan jabatan nya  Balik Mas Pelantikan mu Sudah Aku Batalkan  Bab 14 # POV Danu "Lepaskan!" bentakku pada satpam yang menyeretku keluar. Ah, memang sialan Dina itu, pakai menyamar segala. Coba dari awal dia bilang kalau kaya, aku pasti tak akan berselingkuh. Ah, memang dasar sialan. "Loh, Pak Kepala Sekolah, kok diseret begitu? Lagi latihan, ya?" ujar salah seorang guru mengejek. "Latihan apaan diseret begitu?" tanya temannya yang lain. "Latihan didepak dari sekolah ini. Kasihan, sudah sombong mau traktir KFC orang satu RT, eh, enggak tahunya gagal," ejeknya. Ah, sial! Awas saja nanti kalau Rani pulang, kubalas kalian semua. Aku akan meminta modal kepada Rani, lalu membuka usaha yang kuyakin cepat berkembang. Aku menghentikan mobil untuk menghubungi Rani. Aku masih ragu untuk pulang, membayangkan orang-orang dusun sudah menungguku...

Menunggu janda

Image
 Janda Siapa yang Kau Tunggu, Bang? Empat bulan menikah dengannya, aku sudah mulai hafal dengan beberapa kebiasaan suamiku. Kalau sampai Arsen datang ke butik sambil membawa bunga atau makanan kesukaanku, sudah dapat dipastikan ada yang tengah diinginkannya dariku.             Siang itu aku datang ke butik dengan wajah suntuk. Klien komplian baju pesanannya tak kunjung jadi, padahal sudah mendekati deadline. Penjahitku melakukan kesalahan, ia salah memasang kristal-kristal yang seharusnya membentuk siluet pendar cahaya, alhasil harus merombak total dari awal. Rugi waktu dan material.             “Istriku pasti sangat sibuk, ya?” senyumnya, menampakkan gigi-gigi putihnya. Untuk sesaat aku terpukau oleh pesonanya. Lelah dan rasa suntukku seperti menguap begitu saja, sungguh aku telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan pria itu.             “Nggak, kok, cuma ada sedikit masalah dengan penjahit,”...

Pisah kartu keluarga

Image
 Pisah Kartu Keluarga  Tidak ada alas tidur yang layak untuk Cisa di ruangan itu. Selama ini dia pikir, masih ada satu ruangan tersisa untuk adiknya bisa tidur nyaman. Erga memang selalu fokus pada kuliahnya. Dia ingin cepat lulus, mencari kerja agar bisa membantu keuangan Ayahnya. Apalagi toko mulai sepi sejak maraknya yang jualan online. "Cisa apa gak bilang sama Ayah kalo dia gak kebagian kamar? Ayah 'kan bisa bikin bangunan baru di lantai dua." Bi Surti tetap diam. Dia ingin bilang kalau Bu Sari mengancam Cisa kalau mengadu pada Ayahnya, akan dibuat jauh lebih dibenci oleh semua anggota keluarga. "Ayah punya banyak tabungan. Bangun satu kamar aja, pasti bisa." Tangan Erga mengusap kening. Dia agak menyesal juga tidak tahu tentang keadaan adiknya itu. "AYAH! AYAH!" Erga memanggil ayahnnya. Suaranya membuat seisi rumah terbangun lalu keluar. Ayah merapikan sarungnya. Dia sempatkan mencuci muka dulu sebelum menghampiri Erga di ruang tengah. "Ngap...

Kepergok adik ipar

Image
 Gara-gara terpergok adik ipar, aku yang sedang bermain solo pun terkejut... hingga benda yang kupakai main pun patah dan tersangkut!  Brak! Wulan yang mendorong pintu kamar Arga dan menatap ke arah kasur seketika melotot lebar saat mendapati adik iparnya menggigil dengan posisi meringkuk tanpa selimut. "Astaga, Arga!" Buru-buru wanita cantik itu mendekati adik iparnya yang menggigil kedinginan. Lalu mendaratkan bokongnya yang cukup berisi di pinggiran kasur. Tangannya pun bergerak, menarik selimut dan menutupi tubuh Arga yang terasa sangat panas. "Astaga, Ga, kamu demam," kata Wulan. Suaranya pelan, sedangkan guratan cemas terlihat jelas di wajahnya yang ayu nan cantik. "Huhu... dingin banget. Rasanya seluruh badanku kayak ditempeli es batu," lirih Arga yang benar-benar menggigil hebat. Suara Arga yang bergetar dan sepasang matanya yang terkatup membuat Wulan semakin cemas. Sudah dua tahun tinggal berdua bersama Arga, ini adalah kali pertama adik iparnya ...