Berjodoh
Berjodoh dengan Gen Z
"Dipta, dia tidak pulang?" Tuan Wardana melirik ke arah sofa di mana Dipta duduk tertidvr, sementara Ratu tidvr di kursi tepat di samping r^njang.
"Ya Ampun, Pih. Aku ketidvran, seharusnya malam Dipta pulang."
Wajah Tuan Wardana memang masih terlihat lemas, tetapi matanya tampak lebih segar pagi ini.
"Papi..." panggil Ratu pelan.
Tuan Wardana tersenyum.
Ratu langsung mendekat.
"Papi sudah membuat kami khawatir."
"Papi baik-baik saja."
"Jangan bohong."
Tuan Wardana tertawa kecil.
Namun, kali ini beliau tidak membantah. Pandangannya beralih ke arah Dipta yang masih tertidvr di sofa.
Pemuda itu tampak canggung.
"Maaf, Pak, saya ketidvran di sini."
Tuan Wardana menatap Ratu.
"Kamu keluar dulu!"
"Hah?" Ratu membelalak.
"Papi mau bicara dengan Dipta."
"Apa yang mau dibicarakan sampai aku harus keluar?"
"Rahasia laki-laki."
"Papi!"
Namun, Tuan Wardana justru tersenyum.
"Sebentar saja."
Ratu menatap Dipta lalu kembali menatap papinya.
Entah kenapa, ia merasa tidak tenang tetapi karena tidak ingin membuat kondisi papinya memburuk, akhirnya ia menurut.
"Baik."
Ratu keluar dari ruangan.
Kini hanya tinggal Tuan Wardana dan Dipta.
Suasana mendadak hening.
Dipta berdiri kikuk.
"Pak, sebenarnya ada apa?"
Tuan Wardana menghela napas panjang lalu beliau menatap pemuda di depannya dengan serius.
"Kamu sayang pada orang tuamu?"
Pertanyaan itu membuat Dipta sedikit bingung.
"Tentu, Pak."
"Kamu anak yang baik."
Dipta tersenyum kecil.
"Terima kasih."
Tuan Wardana kembali menarik napas panjang.
"Kalau suatu hari nanti ayahmu sakit dan punya satu permintaan terakhir, apa kamu akan mengabulkannya?"
Pertanyaan itu membuat Dipta terdiam.
"Kalau saya mampu, tentu saya akan mengabulkannya."
Tuan Wardana mengangguk pelan.
"Lalu... kalau aku yang meminta?"
"Hm?"
"Aku ingin menitipkan Ratu padamu."
Mata Dipta langsung membulat.
"Pa-Pak?"
Tuan Wardana tersenyum tipis.
"Aku tahu permintaanku terdengar aneh."
"Bukan aneh lagi, Pak. Ini..." Dipta bahkan tidak tahu harus berkata apa.
"Aku sudah memperhatikanmu cukup lama."
"Pak..."
"Kamu anak baik, pekerja keras, dan bertanggung jawab."
Dipta menelan ludah.
"Tapi saya dan Mbak Ratu baru kenal."
"Aku tahu."
"Dan usia kami berbeda jauh."
"Aku juga tahu."
"Lalu kenapa Bapak bisa berpikir seperti itu?"
Tuan Wardana terdiam beberapa detik.
Tatapannya berubah sendu.
"Karena aku takut."
"Takut?"
"Aku takut meninggalkan Ratu sendirian."
Kalimat itu membuat hati Dipta mencelos.
"Semenjak mamanya meninggal, Ratu berubah."
Beliau menatap langit-langit ruangan.
"Dia memikul semuanya sendiri. Menjaga adiknya, mengurus perusahaan, dan berusaha menjadi anak yang kuat."
Suara Tuan Wardana mulai bergetar.
"Tapi sebenarnya... dia anak yang rapuh."
Dipta terdiam.
"Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa menjaganya ketika nanti aku sudah tidak bisa lagi menjaganya."
"Tapi, Pak..."
"Aku tidak memaksamu."
Tuan Wardana tersenyum kecil.
"Aku hanya ingin menitipkan Ratu kepada orang yang tepat."
Untuk beberapa saat, ruangan kembali hening.
Dipta memandang pria paruh baya di depannya.
Ia bisa melihat betapa besar kasih sayang seorang ayah terhadap putrinya.
Namun...
Ini terlalu mendadak. Ia sendiri bahkan tidak pernah membayangkan menikah dalam waktu dekat. Apalagi dengan perempuan yang sangat jauh dari kriterianya selama ini. Usianya sepuluh tahun lebih tua darinya, perekonomiannyapun sangat jauh sekali darinya.
"Pak, saya..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan terbuka.
Ratu masuk dengan wajah khawatir.
"Papi, dokter bilang Papi tidak boleh banyak bicara."
Tuan Wardana langsung tersenyum.
"Tuh kan, cerewet."
"Papi!"
Beliau tertawa kecil.
"Sudah, Papi capek."
Ratu segera membantu papinya berbaring.
Tak lama kemudian, Tuan Wardana tertidur. Ratu dan Dipta pun keluar dari ruangan.
Di lorong rumah sakit, Ratu menatap Dipta.
"Papi ngomong apa tadi?"
Dipta menggaruk tengkuknya.
"Eh..."
"Kenapa?"
"Nggak ada."
Ratu menyipitkan mata.
"Kamu bohong."
"Sungguh."
"Kamu nggak bisa bohong."
Dipta salah tingkah.
Akhirnya ia mengalihkan pandangan.
Melihat tingkah pemuda itu, rasa penasaran Ratu justru semakin besar.
Namun, sebelum ia sempat bertanya lagi, ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat dahinya berkerut.
Sakti
Ratu segera mengangkat telepon.
"Ya, ada apa?"
Suara panik terdengar dari seberang.
"Kak, gawat!"
"Iya. Ada apa? Kamu cerita dulu jangan panik."
"Ada masalah besar."
"Masalah apa?"
"Seseorang menyebarkan foto kakak dan Dipta di m3dia s0sial."
"Apa?"
"Foto saat makan malam tadi. Parahnya narasi yang mereka buat menggiring opini yang n3gatif dari n3tizen."
Wajah Ratu langsung berubah. Ratu membelalak.
"Apa?"
"Sekarang foto itu sudah vir_al."
Ratu langsung memucat.
Sementara Dipta menatapnya bingung.
"Vir_al?"
"Iya, Kak. Banyak ak_un g0sip mengunggahnya."
Tangan Ratu mulai gemetar.
"Kenapa bisa?"
"Karena ada narasi yang menyebutkan kalau Direktur Wardana Group sedang berkencan dengan pria yang usianya jauh lebih muda."
Ratu menutup mulutnya.
Sial.
Ini pasti ulah seseorang.
"Kak ... jangan sampai Papi tahu, aku takut nanti kondisi papi ngedrop." Suara Sakti terdengar ragu. "Bukan cuma itu."
"Apa lagi?"
"Netiz3n sudah menemukan identitas Dipta. Akun Dipta juga diser^ng. Dipta k0nten kreat0r, foll0wersnya sudah banyak. Kasihan jika nanti gosip ini akan berdampak pada akun milik Dipta."
Ratu langsung menoleh ke arah pemuda di sampingnya.
"Dan sekarang..." lanjut Sakti, "ak_un m3dia s0sial Dipta sedang diserbu banyak komentar."
Ponsel di tangan Ratu hampir terjatuh.
Sementara Dipta yang mendengar semuanya tampak syok.
"Identitas saya?"
"Iya, Dip," sahut Sakti dari seberang telepon.
Ratu buru-buru menyalakan ponselnya.
Tangannya gemetar saat membuka m3dia s0sial.
Dan benar saja.
Foto dirinya dan Dipta sedang duduk berhadapan di restoran tadi malam terpampang di mana-mana.
Bahkan salah satu akun gosip menuliskan:
"Direktur Cantik Wardana Group Diduga Menjalin Hubungan dengan Pria muda, Ber0ndong!"
Di bawahnya, ribuan komentar bermunculan.
— Pantas belum menikah, ternyata sukanya br0ndong.
— Kasihan cowoknya, cuma jadi simp^nan. M0kondo.
— Jangan-jangan numpang hart^ dan popularitas saja.
Wajah Ratu langsung memucat.
Namun, saat membuka ak_un m3dia s0sial Dipta, jantungnya seakan berhenti.
Ada ribuan komentar masuk.
Bahkan beberapa orang mulai mengh_ina keluarga pemuda itu.
Tangan Dipta perlahan mengepal.
Sedangkan Ratu merasa d^danya sesak.
Semua ini... Terjadi karena dirinya.
"Kamu ... kamu k0nten kreat0r?" tanya Ratu.
Dipta mengangguk sambil terus menscroll layar pipih yang ada di tangannya.
"Maafkan aku, Dip. Sungguh aku tidak mengira jika dampaknya akan seperti ini. Orang-orang di luar sana sampai seniat ini untuk menjatuhkanku."
"Ini bukan salah Mbak Ratu. Biarkan saja, n3tizen mau berkomentar apa aku tidak peduli. F0llowers lamaku tahu siapa aku mereka tidak akan meninggalkanku hanya karena gosip mvrahan seperti ini."
"Bagaimana kalau keluargamu tahu? Apa orang tuamu juga main medsOs?"
"Tidak, ibu dan bapak tidak suka hal hal berbau meds0s. Adikku aktif tapi dia tidak akan mengadukan apapun tentangku pada pada orangtua kita."
Tepat saat suasana semakin teg^ng, ponsel Dipta berdering.
Nama yang muncul di layar membuat wajahnya berubah.
Ibu
Jangan ... jangan ... Bersambung....

Comments
Post a Comment