Luka di Balik Cinta Sang Suami
Anggara melangkahkan kakinya keluar dari gedung p e n g a d i l a n. Perasaannya terasa semakin berat setelah mendapat p e n o l a k a n Megan. Entah bagaimana caranya agar bisa menemui Karina dan meminta p e n g a m p u n a n dari wanita itu.
Sesaat sebelum ia masuk ke mobil, ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Lastri.
Awalnya, ia mengabaikan panggilan itu, tapi karena panggilan terus berulang, pada akhirnya Anggara menerima panggilan itu setelah ia duduk di belakang kemudi.
“Ada apa?” tanyanya datar.
Suara Lastri terdengar p a n i k di seberang sana. “Tuan … Den Damar, Tuan.”
Kening Anggara mengernyit. “Ada apa dengan Damar?”
“Den Damar terlvka, Tuan. Dia jatvh dari tangga, dan—”
“Saya kesana sekarang.”
Tanpa menunggu penjelasan selesai, Anggara langsung memutus panggilan. Tangannya g e m e t a r saat menyalakan mesin mobil.
Mobil melaju kencang meninggalkan halaman p e n g a d i l a n. Napasnya memburu, pandangannya fokus ke jalan, tapi bayangan wajah kecil Damar terus terlintas di kepalanya.
Damar yang memanggilnya… Damar yang ia abaikan… Damar yang tadi berlari menjauh sambil menyebutnya j a h a t.
Rahang Anggara m e n g e r a s.
“Ber tahan, Nak…” gumamnya pelan, jemarinya men c e n g k r a m setir lebih kuat.
Hampir satu jam berkendara, mobil Anggara berhenti di depan rumah Soraya. Ia bahkan tidak mematikan mesin dengan benar—pintu sudah terbuka lebih dulu sebelum mobil benar-benar diam.
Langkahnya lebar, tergesa, hampir berlari memasuki rumah.
“Damar!” panggilnya l a n t a n g.
Suasana rumah terasa kacau. Sunyi, tapi m e n y e s a k k a n.
Di ruang tamu, ia langsung menemukan Lastri yang sedang duduk di lantai, m e m e l u k tubuh kecil Damar. Wajah anak itu p u c a t, matanya sembab, sementara darah tampak mengering di pelipisnya.
“Ya Allah…” d e s a h Anggara, suaranya me l e m a h.
Ia segera ber l u t u t di depan mereka. “Damar… Nak…” tangannya g e m e t a r saat menyentuh wajah kecil itu. “Kenapa bisa begini?”
Damar menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia m e n a n g i s lagi, lebih k e r a s. Sementara Lastri lebih memilih diam, karena dia sendiri tidak tahu kenapa anak sekecil itu bisa ada di lantai dekat tangga.
“Yayah…” isaknya p e c a h. “Cakit…”
Anggara langsung merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, seolah takut kehilangan. Setelah itu, ia mengangkatnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.
“Kita ke rvmah s a k i t,” ujarnya.
“Mau kamu bawa kemana putraku?” Suara Soraya memecah keheningan.
Anggara menghentikan langkahnya dan menoleh cepat.
Soraya berdiri di anak tangga paling atas, menatap mereka dengan dingin. Tidak ada ke p a n i k a n di wajahnya, tidak ada ke k h a w a t i r a n—padahal Damar sedang me r i n g i s k e s a k i t a n, tangan kecilnya menekan pelipis yang b e r d a r a h.
“Tvrunkan anakku, Anggara,” ucap wanita itu t a j a m. “Kamu tidak berhak atas dirinya. Dia putraku.”
Anggara mengerutkan keningnya. “Kamu lihat kondisi Damar sekarang, nggak?” suaranya meninggi.
“Kalau kamu mau mengajakku ribvt, nanti dulu. Biarkan aku membawa putraku ke rvmah s a k i t!”
Anggara menggendong Damar dan berniat membawanya keluar dari rumah, tapi kalimat Soraya menahannya.
“Dia putraku, bukan putramu.”

Comments
Post a Comment