Bola mata Lila membulat sempurna saat membaca rentetan kalimat di layar ponselnya. Headline yang terpampang di unggahan akun gosip itu sama sekali tidak sesuai dengan permintaannya. Kecewa dan jengkel bercampur menjadi satu, membuat dadanya seketika berdesir hangat oleh letupan amarah.


"Sudah aku bilang, tambahkan kata-kata bahwa Lila adalah musuh bebuyutan Alaric sejak kecil!" tegasnya dengan suara yang ditekan serendah mungkin. Sepasang matanya bergerak waspada, melirik ke arah dua daun pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri—pintu kamar Alaric dan Bu Nadya. Dia tidak boleh lengah sedikit pun di rumah ini.


"Menurutku, headline itu kurang menggigit. Kalau langsung ke inti, orang tidak akan penasaran. Jadi, aku ubah sedikit, menyesuaikan dengan clickbait yang sudah menjadi ciri khas akun gosipku," suara di seberang telepon terdengar begitu santai, seolah sama sekali tak terintimidasi oleh nada tajam Lila. "Dan coba kamu lihat sendiri komentar yang mulai mampir di unggahan itu. Kelihatan sekali kalau para netizen yang budiman langsung penasaran dengan berita itu. Dan tentu saja, mereka juga penasaran denganmu, calon istri sang CEO Rhea Property."


Lila hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan dadanya yang sesak sedikit melonggar. Dia tahu dia tak bisa lagi membantah. Bagaimanapun, pengelola akun gosip itu jauh lebih paham tentang formula kata yang mampu memancing rasa penasaran publik.


"Siap-siap saja notifikasimu jebol, Lila."


Setelah mengatakan kalimat bernada seloroh itu, sambungan telepon terputus sepihak. Lila menatap layar ponselnya yang perlahan meredup dengan perasaan gemas yang tertahan di ujung jari.


Suara pintu yang terbuka disusul langkah kaki yang tergesa mengalihkan perhatian Lila dengan cepat. Dia buru-buru menurunkan ponselnya. Di sana, Alaric keluar dari kamar dengan rahang kokoh yang mengeras kaku. Lelaki itu melangkah lebar melesat melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Entah kenapa, melihat Alaric sekusut itu justru menerbitkan kepuasan tersendiri di benak Lila. Ada rasa bangga yang aneh, lelaki berwajah sedingin es itu sebentar lagi akan menjadi suaminya. Meski mungkin, dia harus melapangkan dada untuk menerima kenyataan bahwa Alaric bukanlah tipe lelaki yang tahu cara bersikap romantis.


Setelah bayangan Alaric perlahan menghilang di balik anak tangga, suara derit pintu yang lain kembali memaksa Lila menoleh.


Kali ini, Bu Nadya keluar dengan penampilan yang begitu memukau. Rambutnya ditata rapi tanpa cela, berpadu serasi dengan setelan blazer berwarna senada yang menegaskan kelasnya sebagai seorang sosialita papan atas. Aura keanggunan terpancar nyata dari setiap gerak-geriknya.


"Maaf ya, kamu menunggu terlalu lama, Cantik." Wajah Bu Nadya menunjukkan ekspresi penyesalan yang tulus sembari kedua tangannya bergerak merapikan lipatan blazer. "Tadi sempat ada gangguan sedikit dari Alaric."


Lila mengulas senyum tipis, mencoba bersikap sehangat mungkin. "Tidak masalah, Tante."


Seketika itu juga, dahi Bu Nadya berkerut dalam. Gurat wajahnya berubah sedikit masam, tak menyukai kata terakhir yang meluncur dari bibir calon menantunya.


"Kok Tante, sih?" Dia menepuk dadanya pelan, seolah terluka. "Mama. Panggil aku ... Mama."


Senyum Lila melengkung lebih lebar, kali ini dengan anggukan samar yang tampak patuh. "Mama."


Mendengar itu, binar riang langsung terpancar dari sepasang mata Bu Nadya. "Oh, coba ulang lagi, Cantik," ucapnya dengan nada manja yang kentara.


"Mama," Lila mengulangnya sekali lagi, sengaja mengayunkan suaranya agar terdengar manis dan manja.


"Oh, terdengar merdu sekali di telingaku!" Bu Nadya tampak sangat puas dengan panggilan baru itu. Dia kemudian mengulurkan tangannya yang ke arah Lila. "Ayo kita pergi sekarang. Dan aku sendiri yang akan memperkenalkanmu pada teman-teman konglomeratku."


Lila tidak membuang waktu untuk segera menyambut uluran tangan itu. Dia tahu persis, merebut hati Bu Nadya adalah salah satu tiket emas paling aman untuk melangkah mulus menuju gerbang pernikahan bersama musuh bebuyutannya.


Senyumnya kian mengembang sempurna saat Bu Nadya dengan begitu hangat mengaitkan jemari mereka, menuntunnya berjalan bersama.


Aku sudah tidak sabar untuk resmi menjadi Nyonya Alaric Smith.


——


[Hari patah hati? Not for me. Admin aja kali yang patah hati. Tapi, syukurlah, kalau si Tukang Live ini akhirnya laku.]


Verdi menarik satu sudut bibirnya, menatap layar ponsel dengan binar jenaka. "Akhirnya akun Queennora muncul. Tapi komentarnya tidak pedas seperti biasanya?" gumam dia lirih, setengah heran.


Meski tidak sepedas cabai rawit seperti biasanya, komentar santai itu justru menuai balasan yang paling ramai dari netizen.


[Aku juga tidak patah hati.]


[Sepemikiran.]


[Tim yang nggak kenal Alaric dan nggak patah hati.]


Jemari Verdi mendadak gatal. Hasratnya untuk ikut mengompori suasana tidak bisa dibendung. Sambil terkekeh pelan, dia ikut meninggalkan jejak di bawah komentar akun tersebut.


[Jujur amat, Mbak Queennora.]


Tak butuh waktu lama, hanya hitungan detik, balasan Verdi mendapat satu like dari akun Queennora. Namun, kejutan sebenarnya datang sedetik kemudian. Balasan berikutnya tidak muncul di kolom komentar, melainkan menyembul di bilik direct message—sebuah pesan privat yang sukses membuat seluruh pasokan udara di paru-paru Verdi mendadak menguap.


[Aku yakin kamu sedih kalau dia menikah. Karena kamu akan kehilangan bos rasa sahabat,  teman se-circle dan sepemikiran.]


Mata Verdi membelalak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Bagaimana bisa pemilik akun misterius ini tahu hubungan dirinya dan Alaric?


Jemari Verdi bergerak cepat mengetik balasan.


[Bagaimana kamu tahu kalau Alaric adalah temanku?]


Pesan itu langsung menunjukkan status read. Terbaca. Namun, setelah ditunggu beberapa menit, hening. Tak ada balasan lanjutan dari akun Queennora, meninggalkan tanya yang membuat Verdi frustrasi.


Saking asyiknya berselancar di unggahan akun gosip yang membahas Alaric dan Lila—sambil sesekali mengutuk rasa penasarannya pada akun Queennora—Verdi sampai tidak menyadari kalau sosok yang sedang menjadi buah bibir nasional itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


Alaric ada di sana, bersandar santai di bingkai pintu dengan tangan yang bersendekap di depan dada. Dia menatap Verdi dengan tatapan malas, merasa kesal karena kehadirannya diabaikan begitu saja.


​"Serius banget, Ver."


​Suara berat itu seketika memecah keheningan dan membuat Verdi tersentak. Saking kagetnya, ponsel di tangannya hampir saja terlepas dan mencium lantai. Dengan napas yang agak memburu, dia buru-buru bangkit dari duduknya, lalu berjalan setengah berlari mendekat ke arah Alaric.


​"Coba lihat ini!" Verdi langsung menyodorkan dan memamerkan layar ponselnya, yang masih menampilkan ruang obrolan privatnya dengan akun Queennora. "Sepertinya, dia mengenal kita. Bukan cuma itu, dia bahkan tahu kalau kita adalah teman dekat."


​Tatapan malas Alaric seketika berubah menajam. Matanya membentur rentetan kalimat di layar tersebut, membaca setiap hurufnya dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.


​"Bagaimana bisa dia tahu kalau aku adalah temanmu?" gumam Alaric. "Apa itu artinya, pemilik akun Queennora adalah orang yang mengenal kita berdua?"


​Dahi Alaric berkerut dalam. Kepalanya mulai berputar, menyisir ingatan dan menyusun daftar siapa saja orang yang kemungkinan besar berada di balik akun Queennora.


​Apakah itu Lila? Atau mungkin salah satu kaki tangannya? Meski Lila tampak menyambut baik perjodohan ini, aku tetap tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Bagiku, musuh bebuyutan tetaplah musuh, apa pun status dan wujudnya sekarang.

Comments

Popular posts from this blog

Dihina

Madu yg pahit