"Breng sek! Kalian berdua benar-benar tidak punya hati," aku mena mpar Sherly dan Farhan dengan sangat keras.
"Alya, kamu Apa-apaan? tidak sopan sekali kamu itu, hah!" teriak Sherly.
"Aku tidak sopan? menggangu kalian bercin ta?"
"Aku tidak menyangka kamu serendah ini, Sher," aku geleng-geleng tidak menyangka teman dan kekasihku yang sebentar lagi akan menikah denganku tega bermain di belakangku .
"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Al. Aku dan Sherly kami hanya-."
"Kalian hanya melepaskan has rat kalian yang kotor begitu kan Mas?" ucapku sengit.
"Alya, jaga bicaramu!" suara Farhan meninggi.
"Kamu marah, Mas?"
"Aku ini calon suamimu. Kamu harusnya menghormatiku!"
Aku tersenyum miring mendengar perkataan Farhan, aku merasa lucu dengan pria yang sudah lama menjalin kasih denganku , bahkan aku dan Farhan sebentar lagi akan menikah. Farhan pikir aku akan bersikap hormat padanya setelah insiden ini.
"Apa yang kamu lakukan sudah membuat kami malu, Al!" ucap Sherly.
Aku terkekeh mendengar apa yang Sherly katakan.
"Itu tidak seberapa, Sher. Aku bisa membuat kamu makin kesal dan malu."
Aku tersenyum miring,
lalu mengambil ponselku dan merekam Serly dan Farhan.
"Hay guys, kalian lihat perempuan dan laki-laki dalam selimut ini!" Lihat dia Serly Visaka. Seorang selegram dan model yang tidak tahu ma lu dan tidak punya hati. Perempuan ini dengan teganya merebut kekasih temannya. Padahal temannya itu sudah mau menikah dengan pria yang bersama Sherly sekarang. Kalian bisa lihat wajah-wajah tidak tahu malu ini," ucapku sambil merekam Sherly dan Farhan.
"Hentikan, Alya. Kamu jangan memperm alukanku," Farhan berusaha mengambil ponsel dari tanganku.
Namun aku bisa berkelit dari Farhan yang mencoba mengambil ponsel dari tangannya. Mana mungkin juga dia bisa mengambil ponselku, dia tidak memakai bus ana sehelai pun.
"Aku akan membatalkan pernikahan kita jika kamu tidak mau menghapus video itu," ancam Farhan.
Aku tersenyum kecut mendengar apa yang Farhan katakan, "Kamu pikir aku masih mau melanjutkan pernikahan dengan pria pengk hianat sepertimu, Han? Aku bukan wanita bodoh."
"Sekarang lihat berita kalian trending di sosial media. Kalian akan dih ujat banyak netizen," aku menunjukkan video Sherly dan Farhan yang sudah aku rekam dan sebarkan di media sosial.
"Alya! Kamu jangan berani macam-macam padaku atau kamu akan tahu akibatnya," ancam Sherly.
"Aku tidak takut. Mau kamu mengancam seperti apa. Silahkan lanjutkan lagi perm ainan kalian yang tertunda karena kedatanganku!" Aku lalu pergi meninggalkan ka mar hotel di mana Sherly dan Farhan melepaskan has rat mereka layaknya suami istri. Hatiku terasa nyeri mendapat pengkhianatan besar dari sahabat dan calon suamiku sendiri.
Aku melangkah dengan cepat meninggalkan hotel. Aku berusaha sekuat mungkin menahan air mataku. Tidak sudi aku mengeluarkan air mata untuk manusia bej at seperti Farhan dan Sherly.
Mas Farhan pria yang aku anggap baik dan bisa menjadi imam yang baik untukku nyatanya ia tega bermain api di belakangku dan yang lebih menyakitkan perempuan seling kuhan Mas Farhan adalah Sherly, temanku sendiri.
Aku akui Sherly memang cantik, dia seorang model dan tentu saja penampilannya selalu menarik hingga tidak kusangka kekasihku sendiri terg oda dengan kecantikan dan penampilan Sherly.
Aku menyusuri jalanan dengan hati yang rem uk redam. Rasa sakit yang Farhan dan Sherly berikan sangat dalam. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa percaya akan adanya cinta?
Aku membuka halaman sosial media milikku di mana tadi aku mengunggah video Sherly dan Farhan yang berada dalam satu selimut.
Aku tersenyum kecil melihat video itu. Sherly dan Farhan tidak bisa berbuat apa pun saat aku mengambil video mereka. Bagaimana mereka berpel ukan saling menutupi wajah mereka supaya tidak terlihat di kamera. Hatiku benar-benar ha ncur melihat video mereka yang saling melindungi tapi aku puas membaca komentar yang mengh ujat dan meren dahkan Sherly dan Farhan.
"Tuhan. Haruskah aku percaya dengan adanya cinta tulus?" Aku terduduk di pinggir jalan karena tidak kuat menahan beban yang ada.
Aku mena ngis sejadi-jadinya dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Maaf, Mbak kenapa ya?" ada seorang pria membawa kantong kresek besar mendekatiku, ia berjongkok di hadapanku.
Aku tidak menggubris pertanyaannya malah makin menangis sejadinya membuat orang-orang melihat pria itu dengan tatapan aneh.
"Aku tidak melakukan apa pun pada perempuan ini. Mengenalnya saja pun tidak," pria itu mengangkat tangannya.
"Dia sudah mengkhi anatiku padahal kami sudah mau melangsungkan pernikahan. Dia tid ur dengan sahabatku sendiri," entah kenapa aku melampiaskan kemarahan dan menuduh pria yang sama sekali tidak aku kenal.
"Hei. Kamu jangan sembarangan bicara. Kita tidak kenal!" Pria itu membela diri.
"Tidak, dia kekasihku yang sudah ti dur dengan sahabatku sendiri," aku makin mengeraskan tangisan.
"Hei, hentikan sandiwaramu itu! Aku tidak mengenalmu."
Bug...bogem mentah mendarat pada pipi pria itu.
"Ini hukuman untuk pria yang sudah mengkhianati kekasihnya dan membuatnya menangis," seseorang kembali mem ukul pria malang itu.
"Tunggu. Aku memang tidak mengenal perempuan ini!" ucap pria pemulung.
Makin dia membela diri makin membuat orang-orang emosi dan semakin gencar mengh ajarnya.
Bersambung....

Comments
Post a Comment